Praktisi Hukum dan Pengamat Ketenagakerjaan, Dr Minggu Saragih bersama putrinya, Ribka Patricia Saragih, yang sedang berkuliah di FISIP USU Medan. (Analisadaily/istimewa)
Analisadaiky.com, Medan - Praktisi Hukum dan Pengamat Ketenagakerjaan, Dr Minggu Saragih akhirnya memperoleh prestasi tertingginya di dunia pendidikan, karena pada hari ini, Selasa (23/6), ia akan diwisuda dengan menyandang gelar doktor (Dr) dari salah satu kampus swasta ternama di Kota Medan, yakni Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).
Minggu pun mengisahkan perjalanan hidupnya dari nol hingga saat ini dengan banyaknya pencapaian yang ia raih. Pencapaian ini berkat kuasa Tuhan, bukan karena keahlian, kekuatan dan kepintaran dari anak manusia semata. "Semua berkat kuasa, perlindungan dan kehendak Tuhan bukan karena kekuatan, kepintaran dan kerja kerasku. Semua atas seizin dan rencana Tuhan dalam hidupku," kata pria yang taat dalam agamanya ini, yakni Kristen Protestan, kepada awak media, Senin (22/6/2026).
Minggu Saragih lahir di Desa Damak Galugur, Kecamatan Silinda, Kabupaten Serdangbedagai (Sergai), yang dahulu masuk ke dalam wilayah Deliserdang, pada 28 Oktober 1979, merupakan anak dari pasangan Bapak Aken Saragih dan Ibu Asma Br Sipayung, yang keduanya sudah dipanggil Tuhan. Sang ayah pada 20 Juli 2014, dan ibu pada Agustus 1986. Ia tumbuh dalam kesederhanaan dan kehilangan.
"Ibu saya berpulang tepat waktu saya masih sebulan duduk di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 105387 Tapak Mariah, Kecamatan Silinda, Sergai. Sehingga sejak kecil sudah terbiasa mandiri, hidup serba kekurangan dan tanpa kasih sayang dari seorang ibu," tutur akademisi di Fakultas Hukum (FH) Universitas Prima Indonesia Medan ini.
Minggu mengungkapkan, ia lahir dari keluarga sangat miskin, di mana bapaknya hanyalah seorang buruh tani yang kesehariannya bekerja di ladang atau lahan perkebunan masyarakat di kampung. Bahkan terkadang harus ke luar kota meninggalkan Minggu yang saat itu masih kecil, hanya untuk mencari nafkah.
"Saya empat bersaudara, kakak dan adik di kampung, sedangkan abang saya sudah berumah tangga serta terpaksa merantau. Lahir dari keluarga yang sangat miskin tidak membuat semangat dan perjuangan saya untuk terus bersekolah menjadi lemah, justru sebaliknya berkat dari didikan bapak saya yang sangat disiplin dan keras, saya ditempa menjadi laki laki yang harus tahan banting akan kerasnya kehidupan. Sejak kecil, saya sudah ikut bekerja untuk mencari uang biaya sekolah bersama dengan kakak saya," ungkapnya.
Setamat SD, sambung Minggu yang juga Kepala Departemen Hubungan Industrial dan Ketenagakerjaan Asosiasi Profesor Doktor Hukum Indonesia Wilayah Sumatera ini, ia sempat setahun tidak bersekolah karena kendala biaya. Lalu pada 1993, ia pun melanjutkan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Bangun Purba, di Desa Mabar, Kecamatan Bangun Purba, Deliserdang.
Ia terpaksa tinggal di rumah keluarganya yang lain di sekitar sekolah karena ketiadaan biaya. Sepulang sekolah harus membantu pekerjaan rumah hingga bekerja di kebun karet keluarga, agar dapat hidup dan bersekolah hingga tamat SMP.
"Atas dorongan dari kakak saya, akhirnya saya lulus di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Medan, pada 1996-1999. "Pada saat itu terjadi krisis moneter dan reformasi, sehingga perekonomian semakin sulit. Pada saat itu hanya ada dua pilihan, apakah pulang ke kampung karena tidak ada biaya sekolah atau bekerja sebagai penarik becak di Medan. Akhirnya saya putuskan pilihan yang kedua sebagai penarik becak hingga tamat sekolah," kisahnya.
Meski begitu, ia selalu masuk tiga besar sejak duduk di bangku SD, sehingga saat tamat SMK, ia pernah dapat tawaran bekerja untuk diseleksi dari bursa tenaga kerja SMKN 2 Medan di PT Marumitsu Kawasan Industri Medan (KIM), yakni perusahaan milik Jepang, pada Juli 1999.
"Pada saat itu semua tes sudah lolos dan tinggal tes kesehatan. Upah di PT Marumitsu saat itu Rp375 ribu perbulan, namun Tuhan punya rencana lain, saya tidak lolos. Sehingga saya pulang ke kampung dan pada September 1999, atas saran dari kakak saya yang sudah terlebih dahulu bekerja di PT Dutamulti Intioptic Pratama (pabrik kaca mata), di Desa Ujung Serdang, Tanjung Morawa, akhirnya saya diterima di perusahaan itu, dengan gaji Rp 210 ribu perbulan," beber Managing Partner di Law Office MRR and Rekan, yang berkantor di Jalan Jamin Ginting Nomor 396 Medan ini.
Setelah dua bulan bekerja, Minggu bersama rekan rekan kerjanya menemukan banyaknya pelanggaran hak normatif di perusahan tersebut, sehingga pada Desember-Januari 2000, para pekerja sedikitnya dua ribu orang unjuk rasa menuntut perbaikan kesejahteraan dan hak normatif.
"Beberapa tuntutan dikabulkan sehingga kami membentuk serikat buruh dan saya terpilih sebagai ketua setelah sebelumnya keluar dari perusahaan. Sejak saat itulah saya aktif di Serikat Buruh sambil bekerja. Saya menjadi Pimpinan Basis Serikat Buruh Anggota Sejahtera PT Dutamulti Intioptic Pratama sejak 2000-2001. Kemudian saya juga terpilih sebagai Bendahara Umum Presidium BPP Serikat Buruh Medan Independen pada 2001-2004," pungkas Minggu. (dn)
(NAI/NAI)











