Kepala Divisi Urusan Asia Tenggara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Xiang Fangqiang, saat berdialog dengan rombongan media Indonesia di Beijing, Jumat (26/6/2026). (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Beijing - Hubungan Indonesia dan Tiongkok terus menunjukkan perkembangan positif di berbagai bidang. Pemerintah Tiongkok berharap kerja sama yang selama ini terjalin tidak hanya berlangsung di tingkat nasional, tetapi juga diperluas hingga daerah, termasuk Kota Medan yang dinilai memiliki potensi ekonomi sangat besar. Begitu juga dengan daerah lainnya yang masing-masing memiliki keunggulannya.
Harapan tersebut disampaikan Kepala Divisi Urusan Asia Tenggara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Xiang Fangqiang, saat berdialog dengan rombongan media Indonesia di Beijing, Jumat (26/6/2026).
Menurut Xiang, hubungan kedua negara kini berada pada fase terbaik sepanjang sejarah. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto telah tiga kali mengunjungi Tiongkok dalam dua tahun terakhir dan menjalin hubungan yang sangat erat dengan Presiden Xi Jinping.
"Kedua pemimpin memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi. Hubungan Tiongkok dan Indonesia kini memasuki babak baru dengan membangun komunitas masa depan bersama," katanya.
Ia menjelaskan, kemitraan kedua negara dibangun melalui lima pilar utama, yakni politik, ekonomi, sosial budaya, keamanan, serta maritim.
Di sektor ekonomi, Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar Indonesia selama 13 tahun berturut-turut sekaligus investor asing terbesar. Nilai investasi Tiongkok di Indonesia terus meningkat dan kini mulai diarahkan ke luar Pulau Jawa.
Xiang berharap investasi tersebut juga semakin besar masuk ke Kota Medan dan Sumatera Utara yang memiliki potensi sumber daya alam melimpah terutama di bidang pertambangan.
"Medan merupakan kota yang sangat penting. Kawasan ini memiliki potensi tambang, perikanan, perkebunan, serta menjadi kota terbesar ketiga di Indonesia. Kami berharap investasi Tiongkok di Medan dapat terus diperbesar," ujarnya.
Menurutnya, Indonesia dan Tiongkok memiliki keunggulan yang saling melengkapi. Indonesia kaya akan sumber daya alam dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Sedangkan Tiongkok memiliki pengalaman dalam penguasaan teknologi, industri manufaktur, modal investasi, serta inovasi digital.
“Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa, sementara Tiongkok memiliki teknologi dan modal. Kedua keunggulan ini dapat disinergikan untuk menciptakan kerja sama yang saling menguntungkan," katanya.
Saat ini Tiongkok juga tengah menyelaraskan rencana pembangunan mereka ke depan agar selaras dengan Indonesia Emas 2045.
Salah satu simbol keberhasilan kerja sama kedua negara adalah operasional Kereta Cepat Jakarta–Bandung Whoosh yang menjadi proyek unggulan.
Selain ekonomi, kedua negara juga terus meningkatkan hubungan antarmasyarakat melalui sektor pendidikan, pariwisata, kebudayaan, dan pertukaran pemuda.
Xiang menambahkan, perkembangan pesat Tiongkok selama beberapa dekade terakhir tidak terlepas dari kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok yang menjaga stabilitas nasional dan kesinambungan pembangunan.
"Untuk memahami perkembangan Tiongkok, kita juga perlu memahami bagaimana sistem dan kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok bekerja dalam menjaga pembangunan jangka panjang," ujarnya.
Ia optimistis masa depan kawasan Asia akan semakin strategis dalam percaturan global. Karena itu, Tiongkok ingin terus memperkuat solidaritas dengan Indonesia, termasuk melalui kerja sama daerah yang difasilitasi oleh Konsulat Jenderal Tiongkok di Medan.
(NS/BR)