Analisadaily.com, Beijing - Pemerintah Tiongkok menegaskan komitmennya untuk semakin membuka diri kepada masyarakat internasional, wisatawan termasuk umat Muslim dan kalangan jurnalis.
Keterbukaan tersebut diwujudkan melalui kemudahan akses kunjungan, perluasan kerja sama antar masyarakat, hingga kesempatan melihat langsung perkembangan Tiongkok dari berbagai daerah.
Komitmen itu disampaikan Kepala Divisi Urusan Asia Tenggara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Xiang Fangqiang, saat menerima rombongan media Indonesia dalam pertemuan silaturahmi di Beijing, Jumat (26/6/2026). Ia menjawab hal ini saat wartawan dari Sumatera Barat, Indonesia bercerita soal pengalaman nya pada 2014 lalu yang visa nya ditolak oleh Tiongkok karena profesinya seorang wartawan.
Menurut Xiang, hubungan masyarakat kedua negara perlu terus diperkuat agar saling memahami secara langsung, bukan hanya melalui informasi dari pihak lain.
"Kami berharap semakin banyak dari lembaga Muslim maupun wisatawan Indonesia yang datang ke Tiongkok untuk melihat sendiri perkembangan negara kami,” ujarnya.
Sebagai bentuk keterbukaan tersebut, pemerintah Tiongkok kini menerapkan kebijakan bebas visa transit selama 240 jam atau 10 hari bagi warga negara Indonesia. Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, pelaku usaha, akademisi hingga jurnalis Indonesia.
Ia juga mengajak media Indonesia untuk tidak hanya mengunjungi Beijing, tetapi menjelajahi berbagai kota lain seperti Shenzhen, Hangzhou, Chongqing maupun wilayah-wilayah lain yang menjadi pusat inovasi teknologi dan pembangunan ekonomi.
"Tiongkok adalah negara yang sangat besar, seperti sebuah buku yang tidak akan pernah selesai dibaca. Untuk memahaminya harus datang langsung ke lapangan," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Xiang juga menyinggung isu yang selama ini berkembang mengenai umat Muslim di Tiongkok, khususnya di Xinjiang.
Menurutnya, banyak informasi yang berkembang di media Barat tidak menggambarkan kondisi sebenarnya.
Ia mengatakan pemerintah Tiongkok sangat terbuka bagi organisasi-organisasi Islam terbesar di Indonesia seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah dan lainnya untuk melihat langsung Islam di Xinjiang. Delegasi ulama Indonesia juga rutin diundang mengunjungi Xinjiang.
“Setelah melihat langsung, banyak tamu Muslim Indonesia mengaku kondisi di sana berbeda dengan yang selama ini diberitakan media Barat. Banyak stigma yang tidak sesuai kenyataan," ujarnya.
Selain memperkuat hubungan antarumat beragama, Tiongkok juga membuka ruang yang lebih luas bagi kerja sama media. Xiang berharap wartawan Indonesia dapat menjadi jembatan informasi yang objektif mengenai perkembangan Tiongkok kepada masyarakat Indonesia.
Menurutnya, perkembangan pesat Tiongkok tidak terlepas dari kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok yang dinilai mampu menjaga stabilitas politik dan kesinambungan pembangunan nasional.
"Selama lebih dari tiga dekade kebijakan reformasi dan keterbukaan dijalankan, lebih dari 100 juta penduduk berhasil keluar dari kemiskinan absolut. Kunci keberhasilan kami adalah kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok yang kuat dan konsisten," jelasnya.
Ia menyarankan para jurnalis yang ingin memahami perkembangan Tiongkok agar turut mempelajari sistem sosialisme dengan karakteristik Tiongkok beserta proses pembangunan partai yang menjadi fondasi pembangunan nasional.
Mengakhiri pertemuan, Xiang menegaskan bahwa dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan global. Namun Asia dinilai tetap menjadi kawasan yang stabil dan penuh peluang kerja sama. Masa depan dunia berada di Timur. “Kami berharap media Indonesia turut memperkuat persahabatan kedua bangsa melalui pemberitaan yang seimbang dan saling memahami," pungkasnya.











