Menyalakan Semangat Belajar Melalui Inovasi Sederhana Hikmatul Masitoh

Menyalakan Semangat Belajar Melalui Inovasi Sederhana Hikmatul Masitoh
Pembelajaran sederhana dapat memberikan dampak besar apabila dirancang sesuai kebutuhan siswa. (Analisadaily/istimewa)

Analisadaily.com, Batu Bara - Di SDS IT Darul Abror, Kabupaten Batu Bara, ada sosok guru muda yang terus berupaya menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna bagi murid-muridnya. Ia adalah Hikmatul Masitoh, guru kelas IV yang lahir di Pakam pada 10 September 1997.

Bagi Hikmatul, menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran. Ia percaya bahwa setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda dan membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan kemampuannya. Keyakinan tersebut semakin kuat setelah dirinya mendapatkan pendampingan dari Fasilitator Daerah (Fasda) Tanoto Foundation.

“Setelah didampingi Fasda, saya jadi lebih paham cara mengajar literasi dan numerasi yang menarik dan sesuai dengan kemampuan murid. Pembelajaran menjadi lebih aktif, murid lebih terlibat, dan saya lebih mudah memantau perkembangan belajar mereka,” ungkapnya.

Sebelum mengikuti pendampingan, Hikmatul mengaku sering merasa gelisah melihat sebagian siswa kurang aktif saat pembelajaran berlangsung. Metode yang terlalu berpusat pada guru membuat beberapa anak cepat bosan. Tidak sedikit pula yang mengalami kesulitan memahami materi literasi dan numerasi ketika hanya dijelaskan secara konvensional.

Kegelisahan itulah yang kemudian mendorongnya untuk mencari pendekatan baru. Pendampingan dari Fasda membuka wawasannya bahwa pembelajaran yang efektif tidak harus selalu menggunakan sarana yang mahal atau teknologi yang rumit. Justru dari hal-hal sederhana, guru dapat menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Berbekal semangat tersebut, Hikmatul mulai mengembangkan berbagai media pembelajaran sederhana. Salah satu yang paling sering digunakan adalah kantong bilangan serta beragam permainan edukatif yang dibuat dari bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar sekolah.

Media sederhana itu ternyata membawa perubahan besar. Siswa menjadi lebih mudah memahami konsep literasi dan numerasi karena belajar dilakukan sambil bermain. Materi yang sebelumnya dianggap sulit perlahan menjadi lebih mudah dipahami. Aktivitas belajar pun tidak lagi didominasi oleh guru, melainkan melibatkan siswa secara aktif.

“Anak-anak jadi lebih semangat mengikuti pembelajaran. Mereka aktif bertanya, berdiskusi, dan mencoba sendiri. Saya melihat mereka lebih mudah memahami materi dibandingkan sebelumnya,” ujarnya.

Perubahan positif tersebut tidak hanya dirasakan oleh siswa. Rekan-rekan guru di sekolah juga mulai tertarik dengan metode yang diterapkannya. Melihat antusiasme siswa yang meningkat, beberapa guru mencoba mengadaptasi media pembelajaran sederhana dan permainan edukatif di kelas masing-masing.

Bagi Hikmatul, inspirasi terbesar untuk terus berinovasi justru datang dari murid-muridnya sendiri. Setiap perkembangan kecil yang ditunjukkan siswa menjadi penyemangat untuk terus belajar dan mencari ide baru.

“Melihat mereka lebih semangat dan mudah memahami pelajaran membuat saya terus mencari cara belajar yang lebih menarik,” katanya.

Peran Fasda, menurutnya, tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga membangun rasa percaya diri. Melalui pendampingan, berbagi praktik baik, dan kesempatan berdiskusi dengan guru lain, ia semakin yakin untuk mencoba berbagai pendekatan pembelajaran yang kreatif.

Salah satu momen yang paling berkesan baginya adalah ketika pendampingan Fasda menunjukkan bahwa pembelajaran sederhana pun dapat memberikan dampak besar apabila dirancang sesuai kebutuhan siswa. Pengalaman tersebut menjadi titik balik yang membuatnya berani keluar dari zona nyaman.

Di tengah keterbatasan sarana yang kerap dihadapi sekolah, Hikmatul tetap percaya bahwa kreativitas adalah kunci utama seorang guru. Menurutnya, keterbatasan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berinovasi.

“Guru harus kreatif dan fleksibel karena keterbatasan sarana tidak boleh menjadi penghalang bagi siswa untuk belajar dengan baik. Dengan kreativitas, kita bisa memanfaatkan bahan sederhana di sekitar untuk menciptakan pembelajaran yang menarik dan bermakna,” tuturnya.

Untuk terus memperkaya ide dan wawasan, Hikmatul aktif mencari referensi melalui berbagai platform digital seperti Facebook, TikTok, dan YouTube. Dari sana, ia mendapatkan inspirasi yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan murid-murid di kelasnya.

Ke depan, guru muda ini bertekad untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Ia ingin menghadirkan lebih banyak metode pembelajaran yang inovatif agar setiap siswa mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus berkualitas.

“Ke depannya, saya akan terus belajar, mencari ide-ide baru, dan mencoba berbagai metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa,” ujarnya.

Perjalanan Hikmatul Masitoh menunjukkan bahwa perubahan besar dalam dunia pendidikan sering kali berawal dari langkah-langkah sederhana. Dengan kemauan untuk belajar, keberanian untuk berinovasi, serta dukungan pendampingan yang tepat, seorang guru dapat menghadirkan pembelajaran yang lebih hidup dan berdampak bagi masa depan anak-anak Indonesia.

(DEL)

Baca Juga

Rekomendasi