Transformasi Kelas Informatika Berbasis Literasi Digital ala Rina Monalisa Purba

Transformasi Kelas Informatika Berbasis Literasi Digital ala Rina Monalisa Purba
Rina Monalisa Purba, guru Informatika di UPTD SMP Negeri 9 Pematangsiantar mengubah cara mengajar konvensional menjadi pembelajaran berbasis literasi digital yang lebih hidup, interaktif, dan menantang nalar siswa. (Analisadaily/istimewa)

Analisadaily.com, Pematangsiantar - Di tengah derasnya arus digital dan perubahan cara belajar generasi muda, seorang guru Informatika di UPTD SMP Negeri 9 Pematangsiantar memilih tidak bertahan pada pola lama. Ia adalah Rina Monalisa Purba, S.Pd., sosok pendidik yang perlahan mengubah cara mengajar konvensional menjadi pembelajaran berbasis literasi digital yang lebih hidup, interaktif, dan menantang nalar siswa.

Perjalanan itu tidak terjadi seketika. Ada fase “zero” ketika pembelajaran masih cenderung satu arah, bertumpu pada buku teks, dan membuat siswa lebih banyak menjadi pendengar pasif. Namun, dorongan untuk berubah muncul dari kegelisahan yang sama: bagaimana membuat siswa benar-benar memahami, bukan sekadar menghafal.

Perubahan paling mendasar bagi Rina terjadi pada cara ia merancang pembelajaran. Setelah mendapatkan pendampingan dari Fasilitator Daerah Tanoto Foundation, ia mulai memandang literasi dan numerasi bukan sekadar kemampuan membaca cepat atau menghitung rumus, tetapi sebagai proses berpikir.

Menurutnya, bahan bacaan dalam pembelajaran tidak harus selalu berupa teks panjang. Gambar, diagram, hingga grafik kini menjadi bagian penting untuk melatih siswa memahami makna dan mengambil keputusan berbasis informasi. Dari sini, kelas tidak lagi sekadar ruang transfer ilmu, tetapi ruang latihan berpikir.

Terobosan paling menonjol dari Rina adalah pemanfaatan Google Sites sebagai media pembelajaran utama pada materi Perangkat Komputer. Platform tersebut ia rancang sebagai ruang belajar digital yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja.

Di dalamnya, siswa tidak hanya membaca materi, tetapi juga menganalisis diagram, mengamati gambar perangkat komputer, hingga berdiskusi melalui fitur Live Worksheets yang terhubung dalam pembelajaran. Guru pun dapat memantau proses diskusi secara langsung.

Lembar kerja yang digunakan tidak lagi sekadar berisi pertanyaan, melainkan disertai bahan literasi sebagai dasar berpikir. Setelah proses diskusi, siswa kemudian mengerjakan asesmen mandiri melalui Quizizz, yang membuat evaluasi terasa lebih interaktif dan menantang.

Perubahan metode ini membawa dampak yang terasa di kelas. Siswa menjadi lebih antusias, lebih aktif berdiskusi, dan mulai menunjukkan kemampuan berpikir kritis yang sebelumnya jarang muncul.

“Ketika bahan literasi dikombinasikan dengan teknologi, siswa jadi lebih tertarik untuk memahami isi bacaan dan bekerja sama,” demikian gambaran perubahan yang ia amati selama proses pembelajaran berlangsung.

Di antara banyak siswa, ada satu nama yang menjadi titik balik penting: Roni. Sebelumnya, ia dikenal pasif, jarang bertanya, dan kurang terlibat dalam kelas. Namun setelah pembelajaran berbasis Google Sites diterapkan, perubahan mulai terlihat. Roni menjadi lebih aktif berdiskusi, lebih berani berpartisipasi, bahkan menunjukkan dorongan untuk bersaing dalam asesmen.

Di balik perubahan itu, Rina menyebut inspirasi terbesarnya datang dari sosok B. J. Habibie. Baginya, Habibie adalah simbol bahwa inovasi tidak hanya milik mereka yang dianggap pintar, tetapi milik siapa saja yang mau terus belajar dan tidak menyerah pada keterbatasan.

Pandangan itu juga menjadi penguat saat ia berhadapan dengan tantangan sarana dan prasarana sekolah yang tidak selalu ideal. Di tengah keterbatasan, ia memilih fleksibilitas dan kreativitas sebagai jalan keluar.

Rina juga menilai bahwa guru masa kini tidak bisa lagi bertahan dengan metode lama. Siswa sudah hidup di era ketika informasi dapat diakses dari gawai kapan saja. Karena itu, guru perlu beradaptasi agar tidak tertinggal.

Menurutnya, keterampilan abad ke-21 seperti 4C (communication, collaboration, creativity, dan critical thinking) harus menjadi arah utama pembelajaran, bukan sekadar tambahan.

Inspirasi untuk berinovasi pun ia temukan dari berbagai sumber: rekan sejawat, pelatihan, seminar, hingga media digital. Semua itu ia anggap sebagai ruang belajar yang terus terbuka.

Bagi Rina, perjalanan ini belum selesai. Ia berharap semangat inovasi yang telah ia mulai tidak berhenti di ruang kelasnya saja. Ke depan, ia ingin terus belajar, berdiskusi, dan mengembangkan metode yang lebih relevan dengan kebutuhan siswa.

“Guru harus terus meng-upgrade diri,” menjadi prinsip yang ia pegang, agar pembelajaran tidak berhenti pada rutinitas, tetapi berkembang mengikuti zaman.

Seperti Rina Monalisa Purba menunjukkan satu hal sederhana namun penting: perubahan besar dalam pendidikan sering kali dimulai dari keberanian satu guru untuk mencoba cara baru.

(DEL)

Baca Juga

Rekomendasi