Guru dan Siswa SMK Teladan Sumut 2 Antusias Sambut Pembelajaran Berbasis Augmented Reality

Guru dan Siswa SMK Teladan Sumut 2 Antusias Sambut Pembelajaran Berbasis Augmented Reality
Guru dan Siswa SMK Teladan Sumut 2 Antusias Sambut Pembelajaran Berbasis Augmented Reality (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Medan - Ruang praktik SMK Swasta Teladan Sumatera Utara 2 siang itu dipenuhi gelak tawa dan seruan kagum. Bukan karena ada hiburan, melainkan karena para siswa kelas XI Teknik Kendaraan Ringan Otomotif (TKRO) untuk pertama kalinya melihat cara kerja injektor bahan bakar dalam wujud tiga dimensi yang melayang di atas meja.

Cukup dengan mengarahkan kamera ponsel ke selembar kertas bermotif khusus, layar langsung menampilkan animasi komponen mesin yang bergerak, lengkap dengan semprotan bensin dan percikan api di ruang bakar.

"Ini baru kelihatan nyata. Selama ini cuma bayangin dari gambar di buku," celetuk seorang siswa sambil memutar ponselnya untuk melihat komponen dari sisi belakang.

Teman-temannya bergantian mencoba, sesekali berdiskusi tentang tahapan yang baru mereka saksikan. Suasana yang hidup itu merupakan buah dari program pengabdian masyarakat yang dijalankan tim dosen Universitas Negeri Medan (Unimed) sejak Maret lalu. Mengusung tajuk "Peningkatan Kompetensi Guru dan Siswa dalam Pemanfaatan Alat Peraga Pembelajaran Berbasis Augmented Reality", program ini menghadirkan media ajar digital untuk tiga topik otomotif prioritas, yaitu sistem mesin, sasis-pemindah tenaga, dan kelistrikan dasar.

Jenny Sagita Manik, S.Pd., guru produktif otomotif yang mengikuti pelatihan sejak gelombang pertama, mengaku tidak menyangka bahwa teknologi ini bisa diterapkan semudah itu di kelasnya. "Jujur, saya awalnya pesimis. Membayangkan harus membuat animasi tiga dimensi saja sudah terasa berat. Ternyata setelah dilatih oleh tim Unimed, prosesnya tidak serumit yang saya kira," katanya di sela sesi praktik, Kamis (11/6).

Ia menceritakan pengalamannya saat pertama kali menggunakan augmented reality (AR) untuk menjelaskan siklus empat langkah mesin, yaitu hisap, kompresi, usaha, dan buang. "Dulu saya harus menggambar berkali-kali di papan tulis. Kadang saya pakai video dari internet, tetapi tidak semua video cocok dengan kurikulum kita. Sekarang siswa tinggal arahkan kamera ke marker, mereka bisa lihat sendiri urutan kerjanya. Waktu mengajar jadi lebih hemat dan pemahaman mereka lebih cepat masuk," jelasnya.

Perubahan paling mencolok, menurut Jenny, terjadi pada siswa yang sebelumnya pasif. "Ada satu siswa yang biasanya diam saja dari awal sampai akhir pelajaran. Begitu saya tunjukkan aplikasi AR ini, dia yang paling aktif mencoba. Bahkan dia bertanya, 'Bu, kalau timing pengapian dimajukan, apa yang terjadi di ruang bakar?' Pertanyaan seperti itu tidak muncul kalau kita cuma mengandalkan ceramah," ujarnya.

Jenny kini telah menyelesaikan enam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang terintegrasi AR. Ia juga ditunjuk sebagai salah satu guru inti yang bertugas melatih rekan sejawat dan memastikan praktik ini berlanjut di semester mendatang. "Saya sudah siapkan jadwal untuk berbagi ke guru lain. Ini teknologi yang sayang kalau hanya dipakai satu atau dua kali," tambahnya.

Ketua tim pengabdian, Reni Rahmadani, S.Kom., M.Kom., menjelaskan bahwa pemilihan AR didasari oleh data awal yang cukup memprihatinkan. Pada asesmen yang dilakukan tim di awal tahun, rerata nilai pretest siswa kelas XI TKRO hanya 62 dari skala 100. Sebanyak 68 persen siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75, dan 74 persen di antaranya keliru dalam mengurutkan mekanisme kerja mesin. Di sisi lain, lebih dari 90 persen siswa memiliki ponsel Android tetapi belum pernah menggunakannya untuk kegiatan belajar.

"Kami melihat ada kesenjangan antara kepemilikan perangkat dan pemanfaatannya. Padahal AR bisa menjadi jembatan yang sangat efektif untuk materi-materi yang sifatnya abstrak atau tersembunyi. Siswa tidak perlu membongkar mesin asli untuk memahami aliran arus atau gerakan piston. Semua bisa dilihat berulang-ulang tanpa risiko kerusakan," papar Reni.

Setelah empat sesi pembelajaran menggunakan AR, hasil evaluasi tengah program menunjukkan lonjakan yang menggembirakan. Rerata posttest siswa naik menjadi 83, dan proporsi siswa yang tuntas menyentuh angka 86 persen. "Ini baru capaian sementara, tetapi trennya sudah sangat positif. Kami menargetkan kenaikan minimal 15 poin dari baseline, dan sejauh ini sudah terlampaui," ucapnya.

Ir. Muhammad Dominique Mendoza, S.E., S.Kom., M.M., anggota tim yang menangani evaluasi program, memaparkan bahwa kepuasan pengguna tercatat tinggi. "Kami menyebar kuesioner ke seluruh peserta. Untuk guru, 100 persen menyatakan pelatihan relevan dengan kebutuhan mengajar mereka, dan 90 persen menilai media AR mudah digunakan di kelas. Dari sisi siswa, 95 persen mengaku lebih cepat memahami materi dibanding hanya mendengar ceramah atau membaca modul," ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa temuan menarik lainnya adalah menurunnya kesalahan identifikasi komponen. "Sebelum program, 74 persen siswa salah mengurutkan mekanisme kerja. Setelah menggunakan AR, angka itu turun drastis. Siswa sekarang bisa menyebutkan nama komponen, posisinya, dan urutan kerjanya dengan lebih tepat. Ini menunjukkan bahwa visualisasi tiga dimensi benar-benar membantu membangun pemahaman spasial," jelasnya.

Di sudut lain ruang praktik, seorang siswa perempuan tampak serius mengarahkan ponselnya ke marker yang menampilkan wiring kelistrikan. "Saya paling susah memahami kelistrikan karena di buku cuma garis-garis lurus. Setelah lihat di AR, kelihatan aliran arusnya, cabang-cabangnya. Kayak lihat peta jalan, jadi lebih gampang diingat. Belajar rasanya jadi seperti bermain game," ujarnya.

Rekannya yang berdiri di sampingnya menimpali, "Saya dulu sering bingung bedakan komponen yang mirip. Sekarang tinggal putar-putar objeknya, langsung kelihatan bentuk aslinya. Nanti pas praktik bengkel, saya sudah punya bayangan."

Ir. Olnes Yosefa Hutajulu, S.Pd., M.Eng., anggota tim yang bertanggung jawab pada dukungan teknis, memastikan bahwa aplikasi AR dirancang untuk berjalan secara luring. "Kami tidak ingin membebani sekolah dengan kebutuhan internet atau perangkat khusus. Semua berjalan di ponsel Android yang sudah dimiliki siswa. Panduan instalasi kami buat seringkas mungkin, dilengkapi langkah troubleshooting kalau ada kendala teknis," katanya.

Sementara itu, Elsa Sabrina, S.Pd., M.Pd.T., anggota tim yang mengelola konten digital, menuturkan bahwa pengemasan materi ajar juga mendapat perhatian serius. "Kami menyusun jobsheet dengan bahasa yang dekat dengan keseharian siswa. Setiap langkah penggunaan AR dijelaskan secara visual dan tertulis. Video tutorial juga kami siapkan agar guru pengganti atau guru baru bisa langsung menggunakannya tanpa harus menunggu pelatihan ulang," ujarnya.

Program ini tidak hanya meninggalkan perangkat dan modul. Tim Unimed telah menyusun skema keberlanjutan yang menempatkan guru inti sebagai motor replikasi. Repositori konten AR juga diserahkan ke sekolah sehingga guru dapat menambah atau memodifikasi aset tiga dimensi sesuai kebutuhan kurikulum. "Kami ingin memastikan bahwa begitu program selesai, sekolah bisa berjalan sendiri. Ketergantungan pada tim eksternal harus dihindari sejak awal," tegas Reni.

Jenny Sagita Manik, yang kini menjadi salah satu guru inti, menyambut baik tanggung jawab itu. "Saya justru merasa tertantang. Kami sudah dibekali cukup ilmu selama pelatihan. Sekarang tinggal bagaimana kami mengembangkannya lebih lanjut. Mungkin nanti kami bisa membuat konten untuk sistem rem atau suspensi. Potensinya besar sekali," katanya.

Program pengabdian ini merupakan bagian dari skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Unimed yang didanai tahun 2026. Selain Reni Rahmadani, Muhammad Dominique Mendoza, Olnes Yosefa Hutajulu, dan Elsa Sabrina, lima mahasiswa Prodi Pendidikan Teknologi Informatika dan Komputer turut terlibat dalam pengembangan aset tiga dimensi, pendampingan teknis, monitoring evaluasi, hingga dokumentasi. Luaran program mencakup artikel ilmiah, publikasi media massa, video dokumenter di kanal YouTube LPPM Unimed, dan hak cipta laporan akhir.

Di penghujung sesi praktik siang itu, seorang siswa masih asyik menjelajahi menu aplikasi AR. "Kalau semua pelajaran ada yang seperti ini, betah rasanya di sekolah," gumamnya.

Kalimat sederhana itu mungkin menjadi cerminan paling jujur tentang bagaimana sebuah inovasi pembelajaran berhasil menyentuh kebutuhan generasi yang akrab dengan layar, tetapi selama ini belum tersentuh oleh metode ajar yang sesuai zamannya.

(REL/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi