Antrean Panjang BBM di SPBU Bisa Picu Volatilitas Harga Pangan dan Menekan Daya Beli (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Jika sebelumnya bulan Juli 2026 antrean BBM biasanya terjadi bagi pengendara yang membeli BBM jenis solar bersubsidi. Saat ini antrean BBM meluas ke pengendara lain yang ingin membeli Pertalite maupun Pertamax.
Pemandangan yang tidak biasa mulai terjadi belakangan ini. Masyarakat mulai berbondong-bondong antre untuk mendapatkan BBM.
Dari hasil peninjauan langsung, Pertalite yang sudah habis terjual di SPBU akan mendorong masyarakat beralih menggunakan Pertamax, yang kerap mengakibatkan SPBU juga kehabisan BBM jenis tersebut.
Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin menilai, antrean pembelian BBM Solar subsidi yang panjang bisa memicu fluktuasi pada harga kebutuhan pangan. Karena jalur loigistik utama didominasi oleh kendaraan pengguna solar bersubsidi.
“Waktu antrean yang lama berpeluang menciptakan volatilitas harga di level pedagang, yang nantinya akan ditransmisikan ke konsumen. Lelang komoditas pangan selalu terjadi di setiap pasar induk di kota-kota besar yang ada di Indonesia,” kata Gunawan, Selasa (14/7/2026).
Selain itu, risiko kendaraan datang terlambat bisa membuat ketersediaan pasokan (supply) saat proses perdagangan (lelang) menjadi lebih sedikit. Harga komoditas pangan berpeluang naik.
“Tentunya berpeluang memicu kenaikan maupun volatilitas harga, yang pada akhirnya akan membuat konsumen maupun pedagang mengalami kerugian,” sebutnya.
Saat ini antrean bukan hanya terjadi untuk solar bersubsidi. Antrean juga terjadi untuk pembelian Pertalite, sehingga dampaknya juga akan meluas pada penambahan pengeluaran masyarakat. Geliat ekonomi terganggu karena masyarakat dibayangi kelangkaan Pertalite yang memaksa mereka untuk mengurangi mobilitasnya.
“Daya beli mengalami tekanan, karena bagi masyarakat yang terdesak akan memilih Pertamax, karena sudah tidak ada pilihan lain. Kita hanya bisa berharap Pemerintah bisa memulihkan kondisi ini dengan segera. Meskipun di sisi lain kita juga mengetahui Rupiah mengalami pelemahan, dan harga minyak mentah dunia kembali naik setelah ketegangan AS-Iran meningkat,” paparnya.
Gunawan juga mengatakan, gambaran tersebut memberikan isyarat bahwa masalah kelangkaan maupun antrean BBM ini memiliki korelasi yang kuat antara kemampuan fiskal pemerintah, volatilitas mata uang Rupiah serta tensi geopolitik di Timur Tengah.
(RZD)