Dr. Stiven Widjaja Bawa Visi Pendidikan Karakter Indonesia ke Forum Perdamaian Internasional di Malaysia

Dr. Stiven Widjaja Bawa Visi Pendidikan Karakter Indonesia ke  Forum Perdamaian Internasional di Malaysia
Dr. Stiven Widjaja (kanan). (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Medan - President Director Carnegie School dan Rektor ITB Carnegie, Dr. Stiven Widjaja, A.A., B.S., M.M., hadir sebagai salah satu panelis dari Indonesia dalam The 2nd International Interfaith Peace and Harmony Forum (IIPHF II) 2026 yang diselenggarakan di Malaysian Han Studies (MAHANS), Melaka, pada 27 Juni 2026.

Dalam siaran pers yang diterima di Medan, Selasa (14/7/2026), Forum internasional ini mempertemukan tokoh lintas agama, pendidik, pemimpin komunitas, dan peserta muda dari berbagai latar belakang untuk membahas pentingnya perdamaian, harmoni, dan nilai kemanusiaan dalam kehidupan global.

Acara tersebut turut dihadiri oleh YB Datuk Aaron Ago Dagang, Menteri Perpaduan Negara Malaysia, sebagai tamu kehormatan.

Dalam sesi Youth Dialogue bertema “The Significance of Religion in Your Life”, Dr. Stiven pendidik asal Kota Medan ini membagikan pandangan tentang pentingnya pendidikan yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter, empati, tanggung jawab, dan kebijaksanaan hidup.

Menurut Dr. Stiven, pendidikan sejati dapat diibaratkan seperti membangun sebuah rumah. Prestasi akademik adalah dinding dan atap yang membuat rumah terlihat indah, tetapi karakter adalah fondasi yang membuat rumah itu tetap berdiri kuat saat menghadapi badai.

“Kecerdasan tanpa karakter adalah fondasi yang rapuh. Seseorang bisa saja pintar, berhasil, dan memiliki kemampuan besar. Tetapi tanpa moralitas, kecerdasan itu dapat digunakan dengan cara yang keliru,” ujar Dr. Stiven dalam sesi dialog tersebut.

Dr. Stiven juga memaparkan filosofi pendidikan holistik yang selama ini dikembangkan di Carnegie School, yaitu pendidikan yang menyentuh Head, Heart, and Hands.

Kepala melambangkan pengetahuan, hati melambangkan nilai dan karakter, sedangkan tangan melambangkan tindakan nyata yang membawa manfaat bagi sesama.

Pendekatan ini sejalan dengan nilai-nilai pendidikan karakter yang telah lama menjadi bagian dari budaya Carnegie School, termasuk nilai hormat kepada orang tua, tanggung jawab, kerendahan hati, disiplin, dan kepedulian terhadap sesama.

Nilai-nilai tersebut juga diperkaya dengan pembelajaran moral seperti Dizigui, yang menekankan pentingnya bakti, rasa hormat, dan kehidupan yang berlandaskan kebajikan.

Dalam dialog tersebut, Dr. Stiven juga menyinggung pentingnya penggunaan teknologi secara bertanggung jawab di era digital. Ia mengibaratkan teknologi seperti sebuah pisau.

Di tangan orang yang bijaksana, pisau dapat digunakan untuk membantu dan memberi manfaat. Namun di tangan orang yang tidak memiliki karakter, alat yang sama dapat membawa kerugian.

Karena itu, menurut Dr. Stiven, sekolah tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan teknologi. Sekolah juga harus membantu siswa bertanya, “Apakah yang saya ciptakan ini berguna? Apakah ini membantu orang lain? Apakah teknologi ini membawa kebaikan?," ucapnya.

Melalui pendekatan Real-World Project Learning, Carnegie School mendorong siswa untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi, mulai dari proyek smart home, mobil pintar berbasis CCTV, hingga berbagai karya teknologi lainnya.

Namun tujuan akhirnya bukan hanya menunjukkan kemampuan teknis, melainkan membentuk generasi muda yang mampu menggunakan ilmu pengetahuan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Kehadiran Dr. Stiven di Malaysia juga membuka ruang persahabatan dan dialog dengan berbagai tokoh lintas budaya yang memiliki perhatian pada pendidikan moral, perdamaian, dan harmoni universal.

Dr. Stiven juga berkesempatan bertemu kembali dengan Teacher Chai, yang kini menjalani kehidupan sebagai seorang Bhikkhu, dalam suasana penuh hormat dan persahabatan lintas budaya, serta berdialog dengan sejumlah tokoh dan delegasi internasional yang memiliki kepedulian terhadap nilai Dizigui, Ji Zu, dan pembentukan karakter generasi muda.

Bagi Dr. Stiven, forum ini bukan sekadar panggung internasional, tetapi sebuah pengingat bahwa pendidikan memiliki peran besar dalam membangun masa depan yang lebih damai.

“Anak-anak muda hari ini tidak hanya perlu dipersiapkan untuk berhasil secara akademik. Mereka juga perlu dibimbing untuk menjadi manusia yang memiliki hati, menghormati perbedaan, menghargai budaya, dan mampu membawa kebaikan bagi dunia,” ujarnya.

Di akhir sesi, Dr. Stiven menyampaikan pesan kepada para peserta muda agar berani bermimpi besar, tetapi tetap rendah hati. Ia juga mengajak generasi muda untuk bangga pada budaya sendiri, menghormati budaya orang lain, dan menggunakan teknologi tanpa kehilangan sisi kemanusiaan.

“Kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari apa yang kita capai, tetapi dari manusia seperti apa kita menjadi, dan kebaikan apa yang kita tinggalkan,” tutup Dr. Stiven.

Melalui keikutsertaan ini, Carnegie School dan ITB Carnegie semakin menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga karakter, kepemimpinan, kepedulian sosial, dan nilai hidup yang bermanfaat bagi masyarakat.

(REL/WITA)

Baca Juga

Rekomendasi