Ciptakan Media Kerabu dari Kulit Kerang Siswa Pesisir Lebih Mudah Mengenal Angka

Ciptakan Media Kerabu dari Kulit Kerang Siswa Pesisir Lebih Mudah Mengenal Angka
Guru di UPT SD Negeri 10 Guntung, Erlina terinspirasi menggunakan kulit kerang sebagai media pembelajaran. (Analisadaily/istimewa)

Analisadaily.com, Batu Bara - Di tengah keterbatasan sarana pembelajaran, kreativitas guru menjadi kunci menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan bagi peserta didik. Hal itu dilakukan oleh Erlina, S.Pd., guru di UPT SD Negeri 10 Guntung, yang berhasil menciptakan media pembelajaran sederhana bernama “KERABU” dengan memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar sekolah.

Erlina yang lahir di Kedaisianam dan kini berusia 49 tahun, mengembangkan media KERABU berawal dari permasalahan yang ia temukan selama proses pembelajaran di kelas. Ia melihat masih ada peserta didik yang mampu menghitung secara berurutan, tetapi belum memahami bentuk dan konsep angka dengan baik.

“Perubahan yang saya rasakan adalah saya semakin memahami permasalahan yang saya hadapi di dalam kelas. Saya juga lebih cepat menemukan cara membuat media pembelajaran dari benda-benda yang ada di sekitar sehingga anak didik lebih mudah memahami materi,” ujar Erlina.

Media KERABU dibuat menggunakan bahan alami berupa kulit kerang, yang sangat mudah ditemukan karena lokasi sekolah berada di kawasan pesisir pantai. Lingkungan sekitar sekolah yang dekat dengan aktivitas jual beli hasil laut menjadi inspirasi bagi Erlina untuk memanfaatkan benda yang sebelumnya kurang bernilai menjadi alat bantu belajar.

“Karena sekolah kami berada di pesisir pantai, di depan sekolah juga ada yang menjual buah-buahan laut. Dari situlah muncul inspirasi menggunakan kulit kerang sebagai media pembelajaran. Bahannya mudah didapat dan sudah dikenal oleh anak-anak,” katanya.

Media KERABU digunakan untuk membantu siswa mencapai indikator pembelajaran, khususnya dalam mengenal dan menyebutkan bilangan 1 sampai 10 secara berurutan. Dengan menggunakan media tersebut, proses belajar matematika yang sebelumnya terasa sulit menjadi lebih menarik karena anak-anak dapat belajar sambil bermain menggunakan benda konkret.

Menurut Erlina, tantangan terbesar yang ia hadapi adalah ketika mengajarkan konsep penjumlahan kepada peserta didik. Banyak anak yang sudah mampu mengucapkan angka, tetapi belum memahami simbol angka secara tepat.

“Anak didik sebenarnya bisa menghitung, tetapi belum mengenal angka. Dengan adanya media KERABU, mereka lebih cepat mengenal angka sehingga pembelajaran berjalan lebih baik,” jelasnya.

Gagasan pembuatan media KERABU semakin berkembang setelah Erlina mendapatkan pendampingan dari Fasda Tanoto Foundation di Batu Bara, Tim Guru Bisa, yakni Siti Najaliya, Lili Gusni, dan Juni Hariyanto. Tim tersebut memberikan bimbingan mulai dari menemukan permasalahan pembelajaran hingga mengembangkan solusi kreatif menggunakan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

“Awalnya saya belum terpikir ingin membuat media apa. Tim Guru Bisa mengarahkan kami untuk mencari dulu permasalahan yang ada di kelas. Setelah saya mengingat kondisi anak didik yang bisa menghitung 1 sampai 10 tetapi belum mengenal angka, muncul ide membuat media KERABU,” ungkap Erlina.

Setelah media selesai dibuat, Erlina langsung menerapkannya dalam kegiatan belajar mengajar. Hasilnya, peserta didik menunjukkan antusiasme yang lebih tinggi dan lebih cepat memahami materi.

Beberapa siswa yang mengalami perkembangan signifikan setelah menggunakan media KERABU antara lain Faira Khairina, Muh. Arkhan, dan Ayu Wandira, serta beberapa peserta didik lainnya.

Bagi Erlina, keberhasilan menciptakan media pembelajaran bukan hanya tentang menghasilkan alat bantu belajar, tetapi juga tentang bagaimana seorang guru mampu membaca kebutuhan peserta didik dan menghadirkan solusi dari lingkungan terdekat.

“Seorang guru adalah sumber ilmu. Guru harus memiliki keterampilan dan kreativitas agar anak didik lebih cepat mengerti dan memahami pembelajaran. Guru digugu dan ditiru,” tuturnya.

Dalam proses pengembangan media ini, Erlina juga aktif berdiskusi dengan teman sejawat untuk mendapatkan masukan. Menurutnya, berbagi pendapat dengan sesama guru menjadi langkah penting dalam menemukan solusi terhadap berbagai tantangan di kelas.

Pemanfaatan kulit kerang sebagai media pembelajaran KERABU menjadi bukti bahwa inovasi pendidikan tidak selalu membutuhkan fasilitas mahal. Dengan kreativitas, kepedulian, dan kemampuan melihat potensi lingkungan sekitar, benda sederhana pun dapat menjadi sarana pembelajaran yang bermakna bagi anak-anak.

Melalui KERABU, Erlina tidak hanya mengajarkan angka kepada siswa, tetapi juga menanamkan bahwa lingkungan sekitar dapat menjadi sumber ilmu yang dekat, nyata, dan menyenangkan.

(DEL)

Baca Juga

Rekomendasi