Inovasi Nurul Fadila hadirkan media pembelajaran sederhana yang dipadukan dengan permainan tradisional engklek. (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Batu Bara - Suasana belajar di kelas sederhana UPT SD Negeri 27 Lalang, Batu Bara tak lagi identik dengan diam, mencatat, dan menghafal. Anak-anak kelas 2 tampak riuh namun terarah. Mereka memutar sebuah alat sederhana berbentuk roda, lalu melompat di atas kotak-kotak engklek sambil menjawab pertanyaan tentang bangun datar. Di tangan Nurul Fadila, S.Pd Gr, matematika berubah menjadi permainan yang membuat anak-anak belajar tanpa merasa sedang “dipaksa” belajar.
Nurul Fadila, guru kelas 2 yang lahir di Tebing Tinggi pada 14 Mei 1997 ini, menjadi salah satu potret guru muda yang perlahan menggeser wajah pembelajaran dari pola konvensional menuju pendekatan yang lebih hidup dan berpusat pada siswa. Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam, melainkan melalui proses pendampingan bersama Fasilitator Daerah (Fasda) Tanoto Foundation yang membuka cara pandangnya terhadap pembelajaran literasi dan numerasi.
“Pembelajaran sekarang lebih berpusat pada siswa. Dulu saya lebih banyak menjelaskan, sekarang mereka yang lebih banyak mencoba, berdiskusi, dan menemukan sendiri konsepnya,” ujarnya.
Transformasi itu terasa nyata terutama pada pembelajaran matematika materi bangun datar. Dari yang sebelumnya dianggap sulit dan abstrak, kini berubah menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan. Nurul mengintegrasikan literasi dan numerasi dalam aktivitas yang dekat dengan dunia anak, sehingga konsep tidak lagi berhenti di papan tulis.
Salah satu inovasi yang ia kembangkan adalah Spin Bangun Datar, sebuah media pembelajaran sederhana yang dipadukan dengan permainan tradisional engklek. Dalam permainan ini, siswa memutar spin untuk menentukan bangun datar, kemudian mengidentifikasi jumlah sisi, sudut, dan titik sudut, lalu menghubungkan titik-titik pada media hingga membentuk bangun yang dimaksud. Setelah itu, mereka melanjutkan permainan engklek sambil menjawab soal-soal numerasi.
“Anak-anak jadi lebih aktif dan antusias. Mereka tidak sadar sedang belajar karena semuanya dikemas seperti permainan,” tutur Nurul.
Perubahan pendekatan itu membawa dampak yang terukur. Keaktifan siswa meningkat, hasil belajar pada materi bangun datar membaik, dan yang paling penting, keberanian siswa untuk berbicara di kelas tumbuh signifikan. Anak-anak yang sebelumnya pasif kini mulai berani mengemukakan pendapat dan mencoba menjawab soal di depan teman-temannya.
Salah satu momen yang paling berkesan bagi Nurul adalah perubahan pada seorang siswa yang dulu selalu kesulitan memahami bangun datar. Anak itu kerap diam dan enggan menjawab pertanyaan. Namun setelah mengikuti pembelajaran berbasis permainan, ia mulai aktif bertanya, berani menjawab, bahkan mampu menjelaskan kembali konsep yang dipelajari. Nilainya pun ikut meningkat.
“Perubahan sikap belajar anak itu yang paling menyentuh. Dari tidak percaya diri menjadi berani,” katanya.
Inovasi ini juga mulai menyebar di lingkungan sekolah. Beberapa rekan guru mulai terinspirasi dan mencoba menerapkan pendekatan serupa dengan mengadaptasi permainan dalam pembelajaran. Diskusi antarguru pun tumbuh, menciptakan ruang kolaborasi kecil yang memperkaya praktik mengajar di sekolah tersebut.
Di balik perubahan itu, Nurul tidak menutup mata pada kegelisahan awalnya. Ia menyadari bahwa metode konvensional membuat sebagian siswa hanya menghafal tanpa benar-benar memahami konsep. Dari kegelisahan itulah muncul dorongan untuk mencari pendekatan yang lebih bermakna dan dekat dengan dunia anak.
Ia juga menegaskan bahwa keterbatasan sarana bukan alasan untuk berhenti berinovasi. “Kreativitas guru tidak tergantung pada mahal atau tidaknya media. Yang penting bagaimana anak bisa paham,” ujarnya.
Inspirasi inovasinya datang dari banyak hal: kebutuhan siswa di kelas, diskusi dengan rekan guru, pelatihan, hingga pengamatan terhadap permainan tradisional yang bisa diadaptasi menjadi media belajar.
Pendampingan Fasda menjadi titik balik penting yang memperkuat rasa percaya dirinya sebagai pendidik. Ia merasa lebih yakin untuk mencoba hal-hal baru dan tidak takut gagal dalam proses pembelajaran.
Ke depan, Nurul berkomitmen untuk terus mengembangkan media pembelajaran inovatif, mengikuti pelatihan, dan membagikan praktik baik kepada guru lain. Ia juga rutin melakukan refleksi agar setiap pembelajaran menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Di kelas kecil itu, Spin Bangun Datar bukan sekadar alat peraga. Ia telah menjadi jembatan yang menghubungkan rasa ingin tahu anak dengan konsep matematika yang sebelumnya terasa jauh. Dan di tengah permainan engklek yang riang, lahirlah cara baru belajar lebih aktif, lebih bermakna, dan lebih manusiawi.
(DEL)