Serdang Bedagai Jadi Sorotan Nasional, Syngenta Resmi Luncurkan Teknologi Fungisida Padi Terbaru untuk Dongkrak Produksi Pangan (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Serdang Bedagai — Di tengah tantangan perubahan iklim global dan dinamika sektor pangan, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatra Utara, kembali membuktikan ketangguhannya sebagai salah satu pilar utama ketahanan pangan nasional.
Dikenal dengan julukan Tanah Bertuah Negeri Beradat, daerah ini sukses mempertahankan posisi pertama untuk luas panen dan produksi padi di Provinsi Sumatra Utara selama dua tahun berturut-turut (2024–2025).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), luas panen padi Serdang Bedagai pada tahun 2025 melesat hingga 55.196 hektare atau meningkat 7,98% dibanding tahun sebelumnya. Capaian tersebut turut dikuti dengan surplus produksi Gabah Kering Giling (GKG) mencapai 356.508 ton, naik 7,02%.
Menjaga momentum positif tersebut, Syngenta Indonesia secara resmi meluncurkan produk inovasi terbarunya, MIRAVIS Duo®, di Desa Pematang Setrak, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai, pada 20 Juli 2026. Peluncuran akbar ini dihadiri oleh sekitar 500 petani lokal serta jajaran pemerintah setempat.
Senjata Baru Petani: Tiga Keunggulan Utama MIRAVIS Duo®
Peluncuran di Serdang Bedagai ini menandai titik labuh keempat bagi MIRAVIS Duo® di Indonesia setelah sebelumnya sukses diperkenalkan di Cilacap, Karawang, and Jember. Mengusung teknologi mutakhir ADEPIDYN™, fungisida ini dirancang khusus untuk menjawab tantangan serangan penyakit tanaman di tengah cuaca ekstrem.
Presiden Direktur Syngenta Indonesia, Eryanto, menjelaskan bahwa inovasi ini dihadirkan untuk memberikan nilai tambah nyata bagi kesejahteraan petani.
"Peluncuran MIRAVIS Duo® di Serdang Bedagai adalah komitmen Syngenta untuk mendukung petani maju Indonesia menghadapi tantangan iklim dan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan. Dengan teknologi ADEPIDYN™, kami ingin memastikan petani mendapatkan hasil panen yang lebih sehat, berkualitas, and menguntungkan," ujar Eryanto.
Hadir dengan tiga keunggulan komparatif, MIRAVIS Duo® menawarkan solusi menyeluruh bagi produktivitas padi:
- Gabah Sehat Berkilau: Formula cepat diserap dan merata ke seluruh jaringan tanaman hanya dalam waktu 6 jam, memberikan perlindungan optimal hingga 14 hari di tengah cuaca tidak menentu.
- Daun Bendera Lebih Hijau dan Bersih: Memaksimalkan kemampuan tanaman dalam menyerap sinar matahari serta efisiensi penggunaan air, sehingga proses fotosintesis dan vitalitas tanaman berjalan sempurna.
- Produksi Meningkat Nyata: Perlindungan penyakit yang kuat berbuah pada hasil panen yang jauh lebih melimpah dengan kualitas gabah unggul.
Keunggulan ini telah dibuktikan langsung oleh para petani di berbagai daerah. Tarmidzi, seorang petani padi asal Desa Cintamulya, Lampung Selatan, membagikan pengalamannya secara virtual dalam acara tersebut.
"Saya sudah membuktikan penggunaan MIRAVIS Duo® di musim tanam sebelumnya. Hasil panen saya meningkat 9 kuintal dari total lahan 2 hektare," ungkapnya antusias.
Sinergi Strategis untuk Lumbung Padi Sumatra Utara
Dukungan penuh juga datang dari pemerintah daerah setempat. Camat Teluk Mengkudu, Wein Arfandy, SE, M.AP., menyambut baik pemilihan wilayahnya sebagai pusat peluncuran perdana di pulau Sumatra.
"Pemilihan Desa Pematang Setrak sebagai lokasi peluncuran MIRAVIS Duo® pertama di Sumatra sudah tepat. Dengan bimbingan pihak swasta diharapkan Kecamatan Teluk Mengkudu dapat terus meningkatkan produksi yang mendukung Kabupaten Serdang Bedagai sebagai lumbung padi Sumatra Utara," tegas Wein.
Selain memperkenalkan teknologi perlindungan tanaman, agenda peluncuran ini juga mengoptimalkan lahan percontohan melalui kemitraan strategis bersama Dinas Pertanian, HarvestPlus, dan CropLife. Kolaborasi lintas sektor ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produktivitas agraris, tetapi juga edukasi pemberdayaan masyarakat dan gizi seimbang.
Melalui kehadiran MIRAVIS Duo®, Syngenta Indonesia optimis dapat terus mengawal para petani menjaga kesehatan tanaman, mendongkrak kualitas hasil gabah, serta memperkuat kontribusi sentra-sentra produksi daerah dalam menjaga stabilitas pangan nasional.
(JW/RZD)