Analisadaily.com, Langkat - Kawasan mangrove di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, tengah bersiap menjelma menjadi destinasi ekowisata edukatif. Melalui Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) lewat skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat beberapa waktu lalu.
Kegiatan mulai dari sosialisasi, diskusi kelompok, penelusuran kawasan (tracking mangrove), hingga penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan paket wisata.
Ketua tim pengabdi, Indah Adelina Siregar, S.P., M. Si, mengatakan program ini lahir dari potensi besar kawasan mangrove Pasar Rawa yang selama ini belum dikelola secara optimal sebagai destinasi wisata.
“Mangrove di sini bukan cuma pelindung pantai dari abrasi, tapi juga rumah bagi ikan, udang, kepiting, sampai burung. Sayangnya potensi ini belum dikelola dengan model yang jelas, belum ada SOP, tour guide, tata kelola komunitas, promosi ekowisata hingga belum ada paket wisata yang bisa ditawarkan. Itu yang kami coba bantu bangun bersama warga dan KTH Penghijauan Maju Bersama," ujar Indah.
Sosialisasi dan FGD Bersama Warga
Pada hari pertama, Anggota dan Pengurus KTH mengikuti sosialisasi dan Focus Group Discussion (FGD) yang membahas manfaat ekologi, ekonomi, dan sosial dari ekosistem mangrove, serta konsep Community Based Tourism (CBT) dalam bentuk model wisata di mana masyarakat sendiri yang menjadi pengelola, pemandu, sekaligus penjaga kelestarian kawasan.
Hal ini dilakukan untuk mengukur sejauh mana pemahaman warga bertambah, tim pengabdi menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah kegiatan. Hasilnya, tingkat pemahaman peserta meningkat dari rata-rata 88 persen menjadi lebih dari 94 persen usai sosialisasi. Yang menarik, hampir seluruh peserta menyatakan sangat bersedia terlibat langsung dalam pengembangan ekowisata mangrove ke depan.
Hari selanjutnya pengabdian diisi dengan kegiatan yang lebih teknis. Tim pengabdi bersama pengurus KTH menyusuri jalur mangrove untuk memetakan potensi wisata, mulai dari jalur tracking, titik edukasi, hingga area yang cocok untuk konservasi. Hasil penelusuran ini kemudian langsung dituangkan menjadi lima SOP, yaitu SOP Penerimaan Wisatawan, SOP Pemandu Wisata (Tour Guide), SOP Keselamatan Wisata, SOP Konservasi Mangrove, serta SOP Administrasi dan Keuangan.
Tak berhenti di situ, warga bersama tim pengabdi juga merancang tiga paket wisata yang siap ditawarkan kepada pengunjung yakni edukasi mangrove, penanaman mangrove dan tracking/observasi flora dan fauna.
Ia berharap pengabdian tersebut memberikan manfaat dan ekowisata Mangrove Pasar Rawa semakin ramai serta menjadi sumber penghidupan baru bagi masyarakat, dapat terus berkembang secara mandiri dan berkelanjutan. “Meskipun tanpa pendampingan kami, hingga 5, 10 tahun ke depan bahkan selamanya melalui program yang telah dilakukan," tutup Indah.
Ketua KTH Penghijauan Maju Bersama menyambut baik hasil kegiatan ini. "Selama ini sudah banyak yang berkunjung, tapi ya hanya begitu saja. Kali ini pengabdiannya memang real kami rasakan, semoga terus berkunjung dan kami yakin bisa memberikan manfaat untuk kami," ujarnya.
Seperti diketahui bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian Kepada Masyarakat berjudul "Model Pengelolaan Ekowisata Berkelanjutan Berbasis Mangrove Non-Ekstraktif Melalui Pemberdayaan Komunitas KTH Penghijauan Maju Bersama Pasar Rawa Kabupaten Langkat", yang didanai melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, Kemendiktisaintek, dan dilaksanakan oleh dua tim dosen Universitas Satya Terra Bhinneka (ST Bhinneka), satu dosen Universitas Medan Area (UMA), dan dua mahasiswa Universitas Satya Terra Bhinneka dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) Penghijauan Maju Bersama di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat.
(NS/BR)











