Dulu Dibakar Jadi Sampah, Daun Alpukat di Ogan Ilir Kini Disulap Jadi Kombucha dan Es Krim

Dulu Dibakar Jadi Sampah, Daun Alpukat di Ogan Ilir Kini Disulap Jadi Kombucha dan Es Krim
Anggota Kelompok Usaha Olahan Pangan Alpukat bersama tim pengabdian Universitas Sriwijaya dan perangkat desa di Balai Desa Pulau Semambu, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, 2026. ()

OGAN ILIR, Bertahun-tahun lamanya, ibu-ibu di Desa Pulau Semambu punya rutinitas pagi yang sama. Menyapu daun alpukat yang gugur di pekarangan, menumpuknya sampai kering, lalu membakarnya bersama sampah rumah tangga.

Asapnya mengepul dan mengganggu pernapasan tetangga. Tetapi tidak ada yang merasa kehilangan apa pun. Daun, bagi mereka, memang cuma sampah.

Padahal desa di Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, itu menghasilkan 2.000 sampai 3.000 kilogram daun alpukat gugur setiap tahun. Sekitar 10 sampai 15 kilogram dari tiap pohon. Seluruhnya berakhir jadi abu.

Sekarang ceritanya berbeda. Daun yang sama diseduh, difermentasi selama tujuh hari, lalu dicampurkan ke adonan es krim yang dijual Rp7.500 per cup dengan merek buatan warga sendiri: AvoKombu.

“Dari pertemuan pertama sampai hari ini, alhamdulillah kegiatan ini sangat mendukung dan memberi banyak sekali manfaat bagi masyarakat,” kata Eka Rahmawati, Kepala Desa Pulau Semambu. “Sebelumnya warga kami tidak tahu cara mengolah daun alpukat, apalagi membuatnya menjadi es krim. Setelah beberapa hari belajar, mereka jadi tahu. Dari tidak tahu menjadi tahu, termasuk tahu cara memanfaatkannya.”

Berawal dari 25 ibu yang belum pernah dengar SCOBY

Semuanya bermula pada 16 Juli 2026, ketika 25 anggota Kelompok Usaha Olahan Pangan Alpukat berkumpul di Balai Desa Pulau Semambu.

Kegiatan itu bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sriwijaya yang berlangsung dalam delapan pertemuan, 16 Juli sampai 10 Agustus 2026.

Tim datang membawa sesuatu yang asing bagi warga: SCOBY, koloni bakteri dan ragi yang menjadi jantung proses fermentasi kombucha. Tak seorang pun dari 25 ibu itu pernah membuatnya.

“Kami baru tahu ada yang namanya SCOBY, dan ternyata kombucha itu bisa dijadikan es krim,” kata [nama lengkap], anggota Kelompok Usaha Olahan Pangan Alpukat. “Ini ilmu baru buat kami.”

Yang dibawa tim sebetulnya hasil riset laboratorium. Daun alpukat mengandung flavonoid, tanin, saponin, dan alkaloid, termasuk kuersetin.

Dua penelitian tim Universitas Sriwijaya yang terbit di jurnal ilmiah pada 2025 menunjukkan kombucha daun alpukat memiliki aktivitas antioksidan yang terukur, baik dengan metode DPPH maupun ABTS.

“Riset kami tentang kombucha daun alpukat sudah terbit di jurnal sejak 2025, tetapi jurnal tidak bisa diminum,” kata apt. Muhammad Andry, S.Farm., M.Farm., ketua tim pengabdian Universitas Sriwijaya. “Hilirisasi baru benar-benar berarti ketika hasilnya sampai ke dapur warga.”

Persoalannya, hasil riset memang tidak bisa langsung dinikmati. Ia harus turun jadi gerakan tangan.

Tujuh hari menunggu

Pada 20 Juli, batch pertama dibuat. Daun alpukat diseduh, dicampur gula 10 persen, lalu diinokulasi starter SCOBY. Dua liter cairan cokelat keemasan masuk ke fermentor kaca.

Setelah itu, menunggu. Tujuh hari penuh.

Pada 24 Juli, toples dibuka. Lapisan putih tipis sudah terbentuk di permukaan cairan, tanda SCOBY baru tumbuh dan fermentasi berjalan sebagaimana mestinya. Hasilnya empat liter kombucha daun alpukat.

Tiga hari kemudian giliran es krim. Kombucha murni terlalu asam untuk lidah anak-anak, sementara anak-anak justru pasar terbesar di desa itu.

Solusinya, kombucha dicampurkan 25 persen volume ke adonan es krim, lalu dipasteurisasi pada suhu 70 derajat Celsius selama 35 menit.

Pada 30 Juli, mesin pembuat es krim berkapasitas lima liter berputar. Hasilnya tiga liter es krim bertekstur lembut dengan overrun 76,47 persen dan waktu leleh 20 menit. Dua varian rasa: cokelat dan stroberi.

Bersama tim, kelompok juga menyusun empat dokumen prosedur baku untuk produksi kombucha, produksi es krim, sanitasi, serta pengendalian mutu. Dokumen itu kini jadi acuan setiap kali mereka berproduksi.

Dari nol, kini punya hitungan sendiri

Sebelum program berjalan, catatan kelompok ini isinya nol semua. Nol unit usaha. Nol liter produksi. Nol rupiah penjualan.

Enam dari sepuluh transaksi tidak pernah tercatat, dan tidak seorang pun tahu berapa modal untuk satu cup.

Pada pertemuan kedelapan, 10 Agustus, mereka menghitung sendiri. Harga pokok produksi Rp302.000 sekali produksi, atau sekitar Rp75.000 per liter. Dari angka itulah harga jual Rp7.500 per cup ditetapkan.

Sekali produksi, kelompok kini membukukan penjualan sekitar Rp350.000. Sebelumnya, tidak ada penjualan sama sekali.

Kelengkapan pencatatan transaksi pun melonjak dari 40 persen menjadi 95 persen. Kelompok kini punya pengurus lengkap: ketua, bendahara, serta koordinator produksi, pemasaran, dan mutu.

Yang paling sulit justru paling banyak berubah

Di awal program, dua kemampuan mereka yang paling lemah adalah teknologi fermentasi serta higiene dan keamanan pangan. Justru di dua bidang itulah lompatan terbesar terjadi, masing-masing naik 69,12 persen dan 38,46 persen.

Pada penyuluhan keamanan pangan, 92,5 persen peserta lulus evaluasi materi. Rata-rata skor pengetahuan seluruh anggota naik 20,09 persen, dan salah seorang anggota bahkan menggandakan skornya.

Kehadiran mereka mencapai 100 persen pada seluruh delapan pertemuan, melampaui target 80 persen yang ditetapkan.

Warga pun ikut menyumbang tenaga, bahan baku, tempat produksi, listrik, dan air. Nilainya ditaksir sekitar Rp14 juta. Sebanyak 20 dari 25 anggota kini mampu berproduksi mandiri.

Pekerjaan rumah yang belum selesai

Ceritanya belum tamat. Izin Pangan Industri Rumah Tangga belum terbit. Kelompok masih mengurus Nomor Induk Berusaha sebagai syarat awal, dengan kelengkapan dokumen mencapai 80 persen.

Hambatannya justru bukan soal teknis. Sebagian warga semula ragu menyerahkan data pribadi ke sistem pendaftaran daring.

Tim lalu menggelar pertemuan khusus dan mengenalkan portal resmi pemerintah oss.go.id yang menjamin keamanan data pribadi.

Rantai dingin juga masih perlu diperkuat. Jangkauan pasar baru sekitar 10 kilometer, naik dari 5 kilometer sebelum program. Akun Instagram @avokombu_semambu baru punya sekitar 150 pengikut, dengan target 1.000.

“Kami ingin usaha ini tetap hidup setelah tim kampus pulang. Karena itu peralatannya kami serahkan menjadi milik kelompok, dan yang kami latih bukan cuma cara membuat, tetapi juga cara mencatat dan mengurus izin,” kata Andry. “Hampir setiap desa punya sesuatu yang selama ini dianggap sampah. Sering kali justru di situlah peluangnya.”

Tahap berikutnya difokuskan pada penuntasan izin PIRT, pelatihan kader lokal, penguatan rantai dingin, serta pembukaan distribusi lewat koperasi desa, warung, dan toko oleh-oleh.

Peralatan produksi berupa fermentor kaca, pH meter digital, refraktometer, timbangan digital, termometer inframerah, chopper, dan mesin es krim sudah diserahkan menjadi milik kelompok.

Dan setiap kali daun alpukat gugur di pekarangan Pulau Semambu, kini ada yang memungutnya lebih dulu, sebelum sempat dibakar.

Program Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan Universitas Sriwijaya melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, dengan pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, pada tahun pendanaan 2026.

Baca Juga

Rekomendasi