Jalan AMPI Kecamatan Silima Pungga-Pungga Kabupaten Dairi hancur parah tinggal kerikil lepas, Senin (24/8). (Analisadaily/Sarifuddin Siregar)
Analisadaily.com, Sidikalang - Jalan masuk ke kawasan permukiman dan pertanian di Parongil, Kecamatan Silima Pungga-Pungga, Kabupaten Dairi, rusak parah.
Hal itu dipaparkan Kepala Desa Bakal Gajah, Humitar Sitorus, Senin (24/8).
Diterangkan, ada 3 akses masuk ke Parongil. Yakni jalur utama Sidikalang-Lae Parira, kemudian Jalan AMPI penghubung Kelurahan Parongil-Desa Sinampang, Kecamatan Siempat Nempu.
Dan, lintasan ke tiga melalui Desa Sempung, Kecamatan Lae Parira-SMAN 1 Bunturaja, Kecamatan Siempat Nempu. Namun, ketiganya hancur. Rusak parah.
“Ada 3 jalan masuk ke Parongil. Tetapi ketiganya hancur,” ujar Humitar.
Dijelaskan, kondisi terparah dan hampir 20 tahun lamanya yaitu ruas Lae Parira–Parongil. Volume jalur ini lumayan panjang. Makanya jarang dimanfaatkan pengemudi.
“Jalur Lae Parira-Parongil hampir 20 tahun berantakan. Lobang dimana-mana,” kata Humitar.
Permukaan tak kalah menyeramkan adalah menghubungkan Parongil-Adian Nangka atau kerap disebut Jalan AMPI. Lintasannya menanjak tajam tanpa aspal. Permukaan berupa kerikil lepas. Kalau tidak mapan menyetir, bakal tak naik.
Lintasan ini sudah beberapa kali direhabilitas. Tak sampai 2 tahun, kembali hancur. Kalau dicermati, kata Humitar, pekerjaan hasil dana desa, jauh lebih bermutu.
“Permukaan di Jalan AMPI tinggal kerikil lepas,” kata Humitar.
Belakangan ini, kata Humitar, pengendara memanfaatkan ruas via Sempung kendati konstruksinya juga jelek.
Nah, kata Humitar, kalau melaju ke arah hilir, lintasan Desa Lumban Sirait-Lae Rambong, jalan sudah kehilangan bentuk. Lobang menganga dimana-mana.
“Kecamatan Silima Pungga-Pungga merupakan sentra durian, manggis, dan lainnya. Tetapi jalannya luluh lantak. Kalau ada undangan rapat ke Sidikalang, mau nangis saya,” ujar Humitar.
Anggota DPRD fraksi Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Juangga Silaban menyebut, Jalan AMPI diperbaiki tahun ini dengan konstruksi hotmix.
“Seyogianya mulai dikerjakan bulan Mei lalu. Namun lantaran harga material mahal, dilakukan penyesuaian,” kata Juangga.
Untuk jalur Lae Parira-Parongil, kata Juangga, sudah sering diusul ke esekutif. Ia menerima jawaban, ruas itu menjadi tanggung jawab perusahaan pemegang kontrak karya pertambangan.
(SSR/RZD)