Penelitian Temukan Air Galon Guna Ulang Tidak Berkaitan dengan Risiko Kanker hingga Gangguan Hormon (analisadaily/istimewa)
Analisadaily.com, Jakarta - Air minum dari galon guna ulang yang memenuhi standar keamanan pangan tidak terbukti menyebabkan kanker, gangguan hormon, maupun gangguan sistem reproduksi. Temuan ini memperkuat bukti bahwa konsumsi air dari kemasan tersebut tetap aman selama diproduksi dan digunakan sesuai ketentuan.
Hal ini juga tertuang dalam penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah AIMS Environmental Science. Penelitian dilakukan oleh tim peneliti Universitas Airlangga bersama Universitas Hasanuddin dan Universiti Teknologi MARA Malaysia terhadap 96 responden di Surabaya.
Penelitian mengkaji paparan Bisphenol A (BPA) dari konsumsi air minum dalam kemasan serta kaitannya dengan berbagai gangguan kesehatan. Hasilnya menunjukkan bahwa paparan BPA dari konsumsi air minum dalam kemasan tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan penyakit yang selama ini kerap dikaitkan dengan BPA.
"Paparan BPA akibat konsumsi air minum dalam kemasan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan karsinogenisitas, gangguan sistem reproduksi, ataupun gangguan endokrin," hasil penelitian tersebut membuktikan.
Salah satu peneliti asal Universitas Airlangga (Unair) Doktor Sudarmaji menjelaskan bahwa hubungan resiko gangguan kesehatan dengan paparan BPA dari air galon guna ulang polikarbonat (PC) sangat lemah yang ditunjukkan oleh nilai korelasi r = 0,151, walaupun secara statistik bermakna dengan p = 0,008.
Artinya, BPA dalam galon guna ulang PC kemungkinan hanya merupakan salah satu faktor di antara banyak faktor lain yang memengaruhi alergi hingga gangguan hormon. Faktor genetik, kualitas udara, pola makan, infeksi, maupun pajanan lingkungan lainnya juga memiliki peranan.
"Jadi hasil penelitian ini tidak dapat diartikan bahwa BPA menyebabkan alergi, melainkan menunjukkan adanya hubungan yang layak diteliti lebih lanjut," katanya.
Dengan demikian, selama galon guna ulang diproduksi sesuai standar dan memenuhi persyaratan keamanan pangan, air di dalamnya tetap aman dikonsumsi. Hingga kini, bukti ilmiah yang tersedia tidak menunjukkan bahwa konsumsi air dari galon guna ulang menyebabkan penyakit seperti kanker, gangguan hormon, maupun gangguan reproduksi.
Hal serupa juga diungkapkan Pakar teknik kimia Steven Soen. Dia menjelaskan bahwa hingga saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan migrasi BPA dari galon PC melampaui batas aman yang telah ditetapkan regulator.
"Riset yang sempat dilakukan ITB terkait uji migrasi BPA terhadap 4 air minum. Hasil ujinya (BPA) itu jauh di bawah ambang batas BPOM," kata Steven.
Steven menambahkan, keberadaan BPA pada material tidak otomatis berarti membahayakan kesehatan. Menurutnya, yang menjadi tolok ukur adalah jumlah migrasi yang berpindah ke pangan atau minuman dan apakah masih berada di bawah batas aman.
Meski demikian, dia mengingatkan agar galon tetap disimpan dengan benar dan tidak dibiarkan terpapar sinar matahari secara terus-menerus dalam waktu lama. Dia mengatakan, hal tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada zat apapun yang terlepas dari material polikarbonat ke dalam air.
Di sisi lain, Steven menghimbau masyarakat agar bersikap kritis dan tidak menyimpulkan berdasarkan opini yang berkembang di masyarakat terkait isu BPA dalam galon PC. Menurutnya, parameter keamanan produk pangan seharusnya mengacu pada hasil pengujian ilmiah dan standar yang telah ditetapkan pemerintah.
"Jadi jangan mudah terprovokasi. Isu itu boleh bergulir selicin apapun, tetapi kita harus lebih kritis dan selektif terhadap isu-isu tersebut. Dampak negatif dari isu yang kurang tepat itu bisa membahayakan pikiran kita," katanya.
Periset postdoctoral BRIN ini melanjutkan, isu yang beredar di publik saat ini selalu mengaitkan BPA dengan galon PC. Padahal, sambung dia, senyawa tersebut juga digunakan pada berbagai produk lain yang sehari-hari bersentuhan dengan manusia.
"BPA itu ada di mana-mana. Ada di makanan kaleng, ada di gigi palsu, ada di pelapis kertas pembungkus makanan, ada juga di bahan epoksi. Jadi kenapa isunya hanya dibahas pada galon polikarbonat?" katanya.
(NAI/NAI)