Minum dari Galon Guna Ulang Picu Pubertas Dini, Pernyataan Keliru (Analisadaily/istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra menegaskan, pubertas dini yang diduga disebabkan meminum air dari galon guna ulang polikarbonat adalah pandangan keliru. Opini itu muncul lantaran keberadaan zat Bisphenol A (BPA) yang membentuk bahan polikarbonat.
Pubertas dini akibat mengonsumsi air dari galon guna ulang itu probabilitas semu. Kalau BPA-nya sendiri yang dikonsumsi baru bisa memicu genetik karena sifat toxic zat tersebut," kata Hermawan dalam keterangan persnya yanh diterima di Medan, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, anggapan dan pernyataan pubertas dini akibat meminum air dari galon polikarbonat tidak dapat dijelaskan secara rasional, maupun dibuktikan berdasarkan riset dan ilmiah yang kuat. Kandungan BPA dalam galon guna ulang polikarbonat telah diatur dan berada dalam batas aman yang ditetapkan regulator. "Jadi memang galon mengandung BPA tapi dalam kadar yang sangat aman dan terstandar," tambah pakar kesehatan masyarakat ini.
Hermawan menjelaskan, pubertas dini merupakan kondisi ketika seseorang mengalami kematangan seksual lebih cepat dibandingkan rata-rata usianya. Pada kondisi normal, pubertas pada perempuan umumnya terjadi pada usia 11 hingga 12 tahun, sementara pada laki-laki sekitar usia 15 tahun.
Pubertas dini, lanjutnya, merupakan kondisi yang relatif jarang terjadi dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks. Faktor lingkungan, pola pergaulan, hingga asupan makanan yang mempengaruhi hormon dinilai memiliki peran dalam proses tersebut.
"Tapi memang pubertas itu bisa distimulasi oleh berbagai hal. Bisa karena kontak sosial yang terlalu terbuka, tapi bisa juga karena faktor lingkungan, makanan yang mempengaruhi hormonal, dan yang paling pokok juga pergaulan. Ini bisa memicu," seru Hermawan.
Karena terjadi lebih cepat dibandingkan rata-rata usia pubertas pada umumnya, lanjutnya, kasus pubertas dini tergolong tidak umum ditemukan di masyarakat. Kondisi ini terbilang langka karena hanya terjadi pada satu dari 5.000 anak. "Tapi pubertas ini itu memang kasus yang tidak umum karena dia sifatnya lebih cepat dari rata-rata maka disebut kasus yang jarang," katanya.
Ahli Teknologi Pangan, Hermawan Seftiono menjelaskan galon polikarbonat dan BPA adalah dua produk yang sangat berbeda. BPA digunakan sebagai bahan pembentuk polikarbonat yang hilang saat senyawa polikarbonat terbentuk.
Ketua Program Studi Ilmu Teknologi Pangan Universitas Trilogi itu memastikan kimia BPA tidak akan bermigrasi dari galon polikarbonat ke dalam air minum tanpa panas ekstrim. Karena itu masyarakat tidak perlu khawatir dengan isu tak berdasar terkait galon polikarbonat karena tetap aman digunakan ulang.
"Pada suhu tinggi baru komponen BPA bisa lepas dari kemasan polikarbonat. BPA tidak akan bisa lepas dari kemasan pangan tanpa panas atau energi yang besar," kata Hermawan Seftiono.
Dia mengatakan, BPOM telah mengatur kandungan BPA pada kemasan pangan agar tidak melebihi batas aman sebesar 0.6 mg/kg. Anggota Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) ini melanjutkan, selama ini kadar BPA yang ada tidak melebihi batas aman dari BPOM.
"Sebenarnya BPA pada kemasan tidak mudah lepas, karena BPA berinteraksi dengan karbonat membentuk polimer polikarbonat," katanya.
Sebelumnya, BPOM menegaskan kalau galon guna ulang polikarbonat yang beredar di masyarakat aman untuk dipakai sebagai kemasan air. BPOM memastikan bahwa pemakaian galon PC secara berulang tidak meningkatkan risiko migrasi BPA.
"Beberapa penelitian internasional juga menunjukkan penggunaan kemasan polikarbonat termasuk galon AMDK secara berulang tidak meningkatkan migrasi BPA," tulis BPOM dalam keterangan resmi.
BPOM mengungkapkan bahwa Kajian Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) menyatakan belum ada risiko bahaya kesehatan terkait BPA pada galon. Hal ini dikarenakan data paparan BPA terlalu rendah untuk menimbulkan bahaya kesehatan. BPOM meminta konsumen untuk tidak ragu memakai galon guna ulang. ()
(NAI/NAI)











