Wirid dan Tausiyah, Pelajar MAS Muallimin Didorong Jaga Akhlak, Disiplin Ibadah dan Semangat Belajar (Analisadaily/zulnaidi)
Analisadaily.com, Medan — Pendidikan tidak cukup hanya membentuk siswa menjadi pintar secara akademik. Lebih dari itu, pendidikan juga harus mampu menanamkan akhlak, kedisiplinan beribadah serta kepedulian terhadap sesama. Pesan inilah yang ditekankan dalam kegiatan latihan wirid Pelajar Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Muallimin Kelas XI,, MIA 2, Jumat (11/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di kediaman salah seorang siswa, Akmal Albaniy, Jalan Marendal, Gang Sarifah, tersebut dipimpin Wali Kelas Ustaz Zaki Al Muttaqi.
Para siswa mengikuti rangkaian wirid dengan khusyuk, diawali pembacaan Surah Yasin, takhtim dan tahlil, kemudian ditutup dengan doa yang dibawakan secara bergantian oleh para pelajar.
Kegiatan keagamaan itu tidak sekadar menjadi rutinitas ibadah. Para siswa juga mendapatkan siraman rohani yang berisi motivasi agar semakin giat beribadah, bersungguh-sungguh dalam belajar serta membangun akhlak mulia, baik terhadap sesama, orang tua maupun guru.
Dalam tausiyahnya, Ustaz Poltak, guru bidang studi Akhlak MAS Muallimin, mengingatkan para siswa bahwa ilmu dan ibadah harus berjalan beriringan dengan akhlak.
Ia mengajak para pelajar untuk memahami bahwa menjaga hubungan dengan Allah harus dibuktikan pula melalui perilaku sehari-hari, terutama dalam menjaga lisan dan tidak menyakiti orang lain.
Menurutnya, lisan dapat menjadi sumber kebaikan, tetapi juga dapat menjadi sumber dosa apabila digunakan untuk berbohong, menghina, mencaci atau mengadu domba.
Karena itu, para siswa diminta membiasakan diri berbicara dengan baik dan berpikir terlebih dahulu sebelum mengeluarkan perkataan.
“Kalau akhlak kita buruk dan suka menyakiti orang lain, itu akan berimbas kepada diri kita,” pesan Ustaz Poltak dalam tausiyahnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menghormati orang tua. Kebiasaan mengucapkan kata-kata yang merendahkan atau menghina orang lain, terlebih dengan membawa-bawa nama ayah dan ibunya, menurutnya merupakan perilaku yang harus ditinggalkan para pelajar.
“Jangan sampai karena emosi atau bercanda, kita mengucapkan sesuatu yang menyakiti orang lain. Apalagi membawa-bawa orang tua,” ujarnya.
Selain menjaga lisan dan menghormati orang tua, para siswa juga diingatkan agar tidak menjadikan ibadah sebagai sesuatu yang boleh ditunda-tunda.
Salat lima waktu, katanya, harus menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang pelajar. Kesibukan belajar maupun aktivitas lainnya tidak boleh menjadi alasan untuk meremehkan waktu salat.
Ia mendorong para siswa membangun kebiasaan disiplin sejak dini, termasuk membiasakan diri bangun sebelum waktu Subuh. Waktu tersebut, menurutnya, dapat dimanfaatkan untuk melaksanakan salat Tahajud, membaca Alquran dan mempersiapkan diri menjalani aktivitas sehari-hari.
“Jangan sampai Subuh dibangunkan, kemudian baru salat ketika sudah pagi. Kalau bisa sebelum Subuh sudah bangun. Kalau ingin lebih lama, bisa digunakan untuk Tahajud dan membaca Alquran,” pesannya.
Ia juga mengajak para pelajar tidak hanya mempelajari ilmu agama untuk menghadapi ujian di sekolah. Ilmu yang telah diperoleh harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau sudah belajar tentang salat, maka laksanakan salat dengan baik. Kalau sudah belajar akhlak, maka akhlak itu harus diterapkan dalam kehidupan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Poltak juga mengingatkan para siswa agar tidak larut dalam penggunaan telepon seluler. Kebiasaan bermain HP hingga larut malam dapat mengganggu waktu istirahat dan akhirnya membuat siswa mengantuk serta kehilangan konsentrasi ketika mengikuti pelajaran.
Ia berharap para siswa mampu membagi waktu antara belajar, beribadah, beristirahat dan menggunakan teknologi secara bijak.
“Jangan sampai malam bermain HP sampai larut, kemudian pagi mengantuk di sekolah dan malas belajar,” katanya.
Menurutnya, kesungguhan dalam menuntut ilmu merupakan bagian dari amal yang memiliki nilai besar. Karena itu, para siswa diminta memanfaatkan kesempatan belajar sebaik mungkin.
Ia mengajak mereka datang ke sekolah dengan semangat, mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh dan terus meningkatkan ibadah.
“Semangatlah belajar. Jangan malas. Istiqamah dalam belajar dan semangat dalam ibadah,” pesannya.
Kegiatan wirid dan tausiyah tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang pelajar tidak semata-mata diukur dari nilai akademik. Kecerdasan harus dibarengi dengan keimanan, kedisiplinan dan akhlak yang baik.
Dengan pembiasaan kegiatan keagamaan seperti wirid, membaca Alquran, berdoa dan mendengarkan tausiyah, para siswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter kuat, menghormati orang tua dan guru serta mampu menjaga hubungan baik dengan sesama.
Di akhir tausiyah, Ustaz Poltak mendoakan agar para pelajar MAS Muallimin senantiasa diberikan kemudahan dalam menuntut ilmu, istiqamah dalam beribadah dan meraih kesuksesan di dunia maupun akhirat.
“Semoga anak-anak semua sukses dunia dan akhirat,” harapnya.
(NAI/NAI)











