BPBD Sumut Gelar Pelatihan Mitigasi Bencana dan Pembentukan Destana di Madina (Analisadaily/Rudi Erianto S)
Analisadaily.com, Mandailing Natal - Upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana terus dilakukan di Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Utara memfasilitasi pelatihan pencegahan dan mitigasi bencana sekaligus pembentukan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (Destana/Keltana).
Sejumlah unsur masyarakat dilibatkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat hingga Linmas.
Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan masyarakat soal kebencanaan, tetapi juga mendorong setiap desa memiliki kemampuan untuk melakukan langkah pencegahan dan penanganan ketika bencana terjadi.
Camat Panyabungan Timur, Wahyu Hidayat Siregar, mengungkapkan wilayahnya memiliki sejumlah potensi bencana yang harus diantisipasi.
Menurutnya, ancaman banjir hingga banjir bandang menjadi salah satu perhatian, mengingat sejumlah desa berada di sekitar aliran sungai. Di antaranya Sungai Aek Pohon, Aek Pagur dan Singadodap.
Selain ancaman banjir, kondisi wilayah Panyabungan Timur yang berada di kawasan lereng dan perbukitan juga membuat potensi tanah longsor perlu diwaspadai.
"Ancaman lainnya adalah cuaca ekstrem, angin kencang, serta kebakaran hutan dan lahan," kata Wahyu.
Ia berharap pemerintah desa dan masyarakat tidak hanya bertindak setelah bencana terjadi. Kesiapsiagaan, menurutnya, perlu dibangun sejak dini agar masyarakat dapat mengambil tindakan cepat ketika menghadapi situasi darurat.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Madina Mukhsin Nasution menjelaskan pembentukan Destana bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali dan menghadapi ancaman bencana di lingkungan masing-masing.
Masyarakat juga didorong mampu memanfaatkan serta mengorganisasi sumber daya yang tersedia untuk menekan potensi risiko dan dampak bencana.
"Destana memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi ancaman bencana serta memulihkan diri dengan segera dari dampak bencana yang merugikan," ujarnya.
Mukhsin menyebutkan, BPBD Madina sejauh ini telah membentuk 16 Destana di sejumlah kawasan yang dinilai memiliki kerawanan bencana.
Namun, pembentukan tersebut masih perlu diperluas mengingat jumlah desa dan kelurahan di Madina cukup banyak.
Karena itu, dukungan pemerintah daerah, termasuk dalam penganggaran, dinilai diperlukan untuk memperkuat sekaligus menambah jumlah Destana di wilayah Madina.
Tidak hanya pembentukan Destana, kegiatan tersebut juga diarahkan pada penguatan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), edukasi kebencanaan, simulasi, latihan kesiapsiagaan hingga peningkatan kapasitas relawan.
Masyarakat juga akan dilibatkan dalam proses pemetaan risiko secara partisipatif.
Pemetaan tersebut mencakup identifikasi wilayah rawan bencana, kelompok masyarakat yang rentan, fasilitas penting, jalur evakuasi serta lokasi yang dapat dijadikan titik kumpul.
Dengan langkah tersebut, informasi mengenai potensi risiko bencana di setiap wilayah diharapkan semakin jelas. Data itu nantinya dapat menjadi dasar dalam menyusun langkah mitigasi dan memperkuat koordinasi antara pemerintah dan masyarakat.
Dalam kegiatan itu turut hadir Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Sumatera Utara Manutur Parulian Naibaho, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Madina Irsal Pariadi, Kepala Bidang Rehabilitasi, Rekonstruksi dan Kerja Sama Antar-Lembaga Penanganan Bencana BPBD Madina Hafni, serta Camat Panyabungan Timur Wahyu Hidayat Siregar. (RES)(WITA)











