PADA suatu acara penyuluhan bagi petani beberapa waktu lalu di Desa Syahkuda Kecamatan Doloksilau, Kabupaten Simalungun, berbagai stakeholder telah memberikan ilmu yang dimiliki untuk membantu menyukseskan program tanaman petani, mulai dari Dinas Pertanian, penyedia pupuk, penyedia benih dan berbagai pihak yang berkepentingan berkontribusi dalam wejangan itu.
Ketika tiba giliran Andy Wahab Sitepu, yang juga salah seorang pakar enzim memberikan penyuluhan, khususnya bagi petani cabai, dikatakannya bila menemukan tanaman cabainya keriting, jangan patah semangat dulu, tapi kondisi demikian harus disyukuri.
Ungkapan Andy Wahab tiba-tiba membuat sekelompok petani terperanjat dan ingin tahu mengapa dikatakan cabai yang dinilai petani sudah rusak (keriting) kok malah disyukuri.
Setelah memutarkan video yang menayangkan ungkapan langsung beberapa petani yang sukses mengatasi virus cabai keriting dengan enzim Fitofit di daerah Karo, Andy melanjutkan, ketika masa keriting cabai tersebut bila diaplikasi dengan cairan Fitofit, hasilnya akan melipat ganda. Cabai yang mengeriting itu akan membentuk buah yang lebih besar dan buahnya makin rapat.
“Jika jumlah enzim yang diserap di dalam tanaman yang bervirus cukup tinggi, maka daun-daun ataupun pucuk-pucuk keriting kuning tersebut akan terbuka dan menghijau secara bertahap. Umumnya setelah aplikasi Fitofit pertama daun/pucuk hanya akan terbuka sedikit saja. Aplikasi berikutnya tentu diikuti pertumbuhan pucuk baru. Pucuk ini belum tentu tumbuh mulus sempurna, namun tingkat keriting dan kuning nya akan berkurang dibanding daun/pucuk terdahulunya,” ungkap Andy Wahab Sitepu.
Daun Pucuk Baru
Dijelaskan, setelah beberapa tahapan pertumbuhan pucuk-pucuk baru berikutnya yang disertai aplikasi Fitofit, barulah terlihat permukaan daun pucuk baru yang semakin mulus. Tingkat pemulihan daun tanaman bervirus" tergantung juga kepada usia tanaman. Semakin muda usia tanaman, semakin mudahlah daun pucuk barunya dipulihkan kembali.
Tidak semua daun tanaman bervirus akan terbuka sempurna dan menghijau setelah aplikasi enzim Fitofit. Ada yang bahkan menjadi kering gosong terlebih dahulu dan gugur, barulah tumbuh tunas dan daun baru. Selain itu juga ada yang langsung tumbuh tunas baru dan bunga yang melebihi tanaman yang tak bervirus.
Hal tersebut diakui Perwira Tarigan, petani pepaya di Kecamatan Pujidadi, Binjai yang menanam cabai secara tumpangsari di antara 1100 batang tanaman pepayanya.
Sebelumnya Tarigan sudah kurang bergairan melihat perkembangan tanaman pepayanya yang sudah bagaikan tiada harapan. Sudah berusia 6 bulan tapi buah bunga juga belum muncul. Sedangkan daun tanaman pepaya menguning dan keriting. Lebih-lebih cabai yang ditanamnya secara tumpangsari itu, banyak yang keriting dan mengering.
Tapi, berkat usaha Perwira Tarigan yang juga menjalin hubungan baik dengan Dinas Pertanian Sumut, ia mendapat masukan, kalau tanaman yang terserang virus, baik pepaya maupun cabai masih dapat diselamatkan dengan mengaplikasikan enzim Fitofit.
Informasi tersebut langsung diterapkan Tarigan dan ternyata usahanya itu mampu membuatnya tersenyum. Apalagi tanaman cabai yang sempat mengering itu sudah menghijau kembali dan tandan-tandannya makin rapat dan buahnya besar-besar.
“Ini diluar kelaziman. Masa batangnya kurus kering tapi buahnya banyak sekali,” papar Tarigan yang mengaku juga mengaplikasikan Fitofit pada tanaman cabainya.
Perwira Tarigan ditemani istrinya dan 4 pekerja kebunnya, menceritakan kepada Analisa, bahwa aplikasi cairan Fitofit ini yang dilakukannya bagai mendapat durian runtuh.
Menurut Andy Wahab, kemampuan Fitofit membantu tumbuh-tumbuhan menyerap dan memanfaatkan gas-gas nitrogen, carbondioksida dan uap air dari udara dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen di dalam tanaman, sehingga aktifitas mikroorganisme aerob yang patogen (misalnya serangan virus yang sampai saat ini belum ada yang sanggup mengatasinya dapat dikendalikan. Dengan penurunan kadar oksigen sebagian virus berusaha keluar dari tanaman, sementara sebagian lagi tertinggal di dalamnya dan bertugas untuk menghambat pertumbuhan. Ini berarti ruas-ruas tanaman menjadi pendek, makanya jarak sesama bunga maupun buah tumbuh berdekatan atau rapat. Tentu ini akan meningkatkan jumlah bunga/buah.
Ruas-ruas yang pendek memerlukan pupuk yang lebih sedikit, berarti penghematan pupuk. Selain itu pada tanaman beruas pendek, pupuk dari tanah lebih cepat tiba hingga bagian atas tanaman, sehingga kecepatan pembesaran buah melebihi kecepatan pematangan buah. Dengan demikian ukuran buah tanaman yang berpostur pendek mampu melebihi yang berpostur tinggi.
Berbagai aplikasi telah memperlihatkan, bahwa enzim Fitofit sangat cocok untuk mengatasi masalah yang sering dialami tanaman cabai. Dengan demikian para penanam cabai pun tidak merugi besar ketika harga cabai anjlok, karena tidak lagi mengeluarkan biaya besar yang sia-sia. Di samping itu para penampung cabai juga sangat diuntungkan, karena zat-zat pembusuk buah sudah minim, sehingga cabainya lebih tahan lama disimpan dan di perjalanan.
“Kini keriting virus pada cabai bukan lagi "momok" yang menakutkan, melainkan rezeki,” pungkas Wahab. (Anthony Limtan)











