Komik sebagai Media Informasi Sejarah

Oleh: Dr. Agus Priyatno, MSn. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Utara menyelenggarakan pameran senirupa dan peristiwa sejarah kebangkitan nasional di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU) Jalan Perintis Kemerdekaan No. 33 Medan. Pameran diselenggarakan selama enam hari (24-29 Maret 2014), terbuka untuk umum. Kisah kebangkitan organisasi kepemudaan Boedi Utomo menjadi materi utama pada pameran ini.

Pada pembukaan pameran pengunjung mendapatkan lembaran leaflet Tourist Guide. Buku panduan Museum Kebangkitan Nasional, dan Komik (cerita bergambar) setebal duapuluh halaman berjudul “Tidak Ada yang Semerah”. Komik tentang sejarah berdirinya Boedi Utomo. Komik atau cerita bergambar selama ini dikenal sebagai media hiburan berisi cerita-cerita fiksi. Komik sebagai media informasi kisah sejarah jarang dilciptakan.

Adanya komik sejarah pada pameran ini sangat menarik. Selama ini informasi sejarah kebanyakan disajikan berupa teks tulisan dan foto yang tidak menggugah minat masyarakat. Komik diterbitkan 2011 oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Direktorat Sejarah dan Purbakala Museum Kebangkitan Nasional. Gambar komik dibuat oleh komikus Mansyur yang dikenal dengan panggilan Man.

Kualitas komik termasuk bagus, dicetak pada ukuran kertas A4 berkualitas baik. Meskipun gambar komik hitam putih saja, namun kualitas gambar komik sangat menarik. Cerita komik berdasarkan kisah sejarah, gambar-gambar dikreasi berdasarkan kisah sesungguhnya. Ada keseriusan komikus menggambarkan peristiwa sejarah, tampak bahwa gambar diciptakan berdasarkan riset dokumen maupun fotografi, tidak dikarang bagitu saja.

Cerita komik diawali dengan kisah dua anak memancing di sungai. Mereka membolos sekolah. Kedua anak ini dipergoki ibunya, si anak dimarahi karena tidak berangkat sekolah. Singkat cerita si anak diajak mengunjungi Museum, di tempat ini dia melihat banyak hal yang sangat menarik tentang pentingnya pendidikan. Mereka diajak menyaksikan kisah perjuangan pemuda terdidik zaman dahulu memerdekakan negerinya.

Cerita komik selanjutnya tentang kisah para pemuda di Sekolah Kedokteran Bumi Putera STOVIA (School tot Opleiding van Indlandsche Artsen). Para pemuda tidak hanya gigih belajar memperdalam ilmu kedokteran, mereka juga memikirkan bagaimana memerdekakan bangsanya dari kekuasaan bangsa asing. Mereka menyadari perjuangan selama ini belum terorganisir, masih mengandalkan pengaruh besar para pemimpinnya. Perjuangan berhenti jika pemimpinnya mati.

Agar perjuangan terus berlanjut, perjuangan harus dilakukan secara terorganisir. Berdirilah organsisasi perjuangan bernama Boedi Utomo.

Komik tersebut tidak sekedar menyampaikan fakta-fakta sejarah, juga melukiskan karakterisitik tokoh-tokohnya. Kegelisahan pemuda bernama Soetomo untuk mendirikan organisasi kebangsaan agar perjuangan bisa terus berlangsung hingga mencapai kemerdekaan. Melalui perjuangan terorganisir, pemimpin bisa berganti setiap saat, perjuangan akan terus berlangsung meskipun pemimpin meninggal dunia.

Komik juga menggambarkan tokoh dokter Wahidin Soedirohusodo. Dia dilukiskan memiliki karakter seorang humanis. Dia membuka praktek pengobatan tanpa meminta biaya pengobatan kepada pasiennya. Biaya pengobatan diberikan sukarela, pasien yang kaya membayar semampunya, pasien miskin tidak dikenai biaya.

Dokter ini memiliki kesadaran bahwa bangsa Indonesia harus sehat dan maju pendidikannya. Bangsa tidak terdidik membuat mereka tidak merdeka. Diapun membentuk lembaga pendidikan yang biayanya dikutip dari para bangsawan agar bangsa Indonesia bisa memperoleh pendidikan berkualitas.

Lebih lanjut komik tersebut mengisahkan perjuangan para pelajar di STOVIA. Digambarkan perjuangan para pelajar tidak tanpa resiko. Para dosen Belanda mengancam akan mengeluarkan para pelajar ini dari sekolah kedokteran. Mereka akan dikeluarkan jika mereka meneruskan upayanya mendirikan organisasi perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Cerita komik ini berakhir dengan keberhasilan para pemuda mendirikan Boedi Utomo.

Berdirinya Boedi Utomo menginspirasi para pemuda Indonesia untuk membentuk perlawanan terorganisir terhadap pemerintah kolonial. Di berbagai daerah terbentuklah organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Minahasa, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, dan sebagainya. Para pelajar, kaum terdidiklah yang mengawali perjuangan terorganisir agar negeri ini merdeka sebagai sebuah bangsa.

Setelah mengetahui kisah tersebut si anak tahu bahwa pendidikan penting untuk kemerdekaan. Hari berikutnya si anakpun rajin belajar di sekolah. Demikian halaman terakhir cerita komik sejarah tersebut. Komik sangat efektif dan efisien menyampaikan kisah sejarah karena sangat menghibur.

Selain pameran sejarah pendirian Boedi Utomo, dipamerkan juga karya senirupa dan fotografi karya mahasiswa senirupa Unimed. Beberapa karya cukup menarik diantaranya karya Asmadinoto berupa lukisan mobil dan buah apel. Lukisan realis dengan media cat minyak pada kanvas, teknik lukisan impasto. Winarto Kartupat menampilkan karya senirupa dengan media pasir.

Pameran seperti ini sangat berguna untuk para pelajar agar memahami pentingnya pendidikan. Bagi dunia pariwisata barangkali menarik sebagai wisata sejarah bermuatan pendidikan.

Penulis dosen pendidikan senirupa FBS Unimed dan pengelola Pusat Dokumentasi Senirupa Sumatera Utara

()

Baca Juga

Rekomendasi