Nevatuhella. Astaghfirullahulzim! Istighfar yang keluar dari kerongkonganku, sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala. Merasa lucu dan konyol, ketika bacaanku sampai pada halaman 371 novel Tadarus Cinta Buya Pujangga. Merupakan novelisasi kehidupan Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah). Penulisnya Akmal Nasery Basral, juga penulis novel Sang Pencerah, bestseller Islamic Book Fair 2010. Penerbit Salamandani 2013.
Pasal kelucuan dan kekonyolan di atas, adanya aturan yang dibuat Belanda, soal membonceng orang naik sepeda di Bengkulu. Soalnya orang yang membonceng naik sepeda adalah Soekarno, yang waktu itu sedang dalam masa pengasingan oleh Belanda di Bengkulu (tahun 1938).
Kedekatan Bung Karno dengan rakyat Bengkulu, yang membuat boncengan sepedanya selalu diduduki rakyat, terutama yang berusia tua yang ditemuinya di jalan, membuat pemerintah Hindia Belanda kehabisan akal untuk menghentikan pengaruh Soekarno kepada rakyat, memberlakukan peraturan khusus yang menggelikan: Pelarangan mutlak bagi pengendera sepeda untuk memboncengkan orang lain. Tanpa pengecualian. (Bab terakhir, halaman 371). Hal ini sepele, tapi sangat mengganggu Belanda.
Novel setebal 375 halaman ini sangat menarik. Ditulis dengan bahasa yang lancar, Bahkan terlalu lancar dituturkan. Seolah penulis tak sabaran ingin menceritakan bab-bab selanjutnya. Begitu juga yang saya rasakan sebagai pembaca. Halaman-halaman selanjutnya tergesa-gesa ingin diketahui.
Pembuka dan Penutup Tentang Soekarno
Akmal Nasery Basral membuka novel ini dengan prolog, “Dua Bersilang Takdir “. Menceritakan ketika Hamka pernah dipenjara Soekarno selama 30 bulan tanpa peradilan, diminta Presiden Soeharto untuk mengimami shalat jenazah Bung Karno (Minggu, 21 Juni 1970).
Hamka memenuhinya. Saat itulah Indonesia mendapatkan salah satu pelajaran moral terpentingnya: “Bahwa dendam tak boleh dilestarikan seberat zarrah pun. Betapapun sulitnya, betapapun beratnya!”
Buya Hamka menatap wajah Bung Karno yang mulai membengkak karena efek berbagai obat yang dikonsumsinya selama lima tahun terakhir. Kilasan perseteruannya dengan Soekarno, orang yang pernah memenjarakannya selama 30 purnama kembali berkelebat seperti pecahan sambaran kilat. Penyebabnya adalah komentar-komentar tajam yang dilontarkannya terhadap PKI, partai yang saat itu sedang berbulan madu dengan sang Proklamator (Bab 1 halaman 7). Selanjutnya novel sebanyak 23 bab ini ditutup pula dengan pertemuan awal Hamka dengan Soekarno di tahun 1938.
Pertemuan terjadi di Bengkulu, bertepatan pada waktu itu , Hamka sedang berurusan dengan Karim Oei, seorang pengusaha sukses asal Padang Panjang, pengurus Muhammadiyah Bengkulu. Pada pertemuan ini ketiga tokoh saling memuji. Hamka mengatakan pada Soekarno, dua novelnya, Di bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal van der Wijck telah terbit.
Soekarno memujinya, “Sayang saya belum memilikinya. Pasti novel itu bagus!” Soekarno memuji Karim Oei yang sukses sebagai pengusaha dan langsung mengusulkan agar Karim mau memegang pimpinan Muhammadiyah Bengkulu. Soekarno sendiri dipuji Hamka dan Karim, karena kedekatannya dengan rakyat kecil dan pidatonya yang berapi api.
Hal sangat menarik pada pertemuan ini. Ketiganya berpakaian lengkap dengan jas dan dasi. Soekarno menceritakan pengalamannya berjumpa dengan anak gubernur jendral Belanda yang bertugas di Bengkulu, Hooykas.
“Baiklah. Jadi begini,” Soekarno memulai ceritanya.
“Jadi pada suatu hari, anak Hooykas, residen Bengkulu sedang liburan sekolahnya di Leiden. Mungkin karena dia mendengar dari ayahnya ada seorang tahanan politik yang berbahaya di Bengkulu, dia ingin tahu seperti apa bentuk tahanan politik Hindia Belanda itu,“ lanjut Soekarno dengan senyum mulai terkembang.
“Datanglah dia ke rumah saya diiringi para pengawal. Begitu melihat perpustakaan saya, yang saya yakin sangat sedikit jumlah bukunya dibandingkan di perpustakaan tempatnya belajar, namun terasa cukup banyak untuk ukuran warga kota ini, bertanyalah anak Hooykas ini kepada saya: “Untuk apa bapak mengumpulkan buku dan membaca sebanyak ini?”
Saya jawab, “Anak muda, saya harus banyak membaca dan belajar, karna atas izin Tuhan, saya yang akan menjadi presiden negeri ini setelah merdeka nanti”.
Danau Menghentikan Tangis
Alam Minangkabau di tahun tahun 1920-an yang menjadi setting novel ini. Digambarkan sedemikian rupa oleh Akmal Nasery Basral, seolah oleh kita pembaca berada bersama disana. Kita merasa berada bersama Malik kecil (Hamka), ternyata seorang penangis kuat. Pujukan berupa makanan, minuman, nyanyian tak mempan menghentikan tangis Malik. Bahkan cubitan dan piuh sekalipun. Rupa rupanya keindahan Danau Maninjau-lah yang bisa menghentikan tangisnya. Dua pengasuh Malik, Adjah, adik ibunya dan Ijah, kakak sepupunya suatu kali terperanjat dan bertepuk gembira, ketika Malik yang sudah menangis cukup lama, tertawa dan girang.
Betul betul hilang akal, Pijah seenaknya saja mengambil sebuah kursi kecil yang biasa diduduki bocah itu, lalu diletakkannya pada tingkap rumah yang menghadap ke danau. Pijah mendudukkan Malik yang masih semangat menangis. Dia lalu mengarahkan telunjuknya ke riak Danau Maninjau yang sedang berada dalam warna biri terbaiknya. Dia mencoba tersenyum meski kepalanya terasa hampir pecah mendengar lengking anak itu yang menusuk nusuk gendang telinganya.
“Lihat Malik!” Seru Pijah sambil mengarahkan pandangan anak itu ke danau. Hanya dua kata itu saja. Ajaib sekali. Tangis Malik langsung terhenti saat itu juga! Tidak berkurang perlahan-lahan, tapi langsung berhenti. Malik tertawa dan gembira memukul-mukul tempat duduknya.
Demikianlah Malik pada masa kanak kanaknya. Tumbuh besar dilingkungan keluarga ibunya. Keluarga sangat fanatik pada adat istiadat Minangkabau yang bersandikan kitabullah. Sistem kekeluargaan yang matriarkat, sangat di tantang oleh keluarga ayahnya yang merupakan para kiyai, pemuka agama. Ayah Hamka, Haji Karim Amrullah, bernama panggilan Haji Rasul, pendiri pertama Muahmmadiyah Sumatera barat. Langsung pernah berguru pada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, menjadi imam besar Masjidil Haram di Makkah Al Mukarramah.
Pada usia 12 tahun, orang tua Malik bercerai. Malik frustrasi dan pernah pergi meninggalkan Maninjau kampung halamannya. Berkelana dan akhirnya meneggelamkan diri dalam samudra bacaan. Malik menggunakan waktu istirahatnya bekerja sebagai pemasak lem.
Dia menjadi pelem buku dan pembuat kopi pada sebuah percetakan milik Engku Zainudduin dan Bagindo Zainaro. Pemilik percetakan disamping mencetak buku buku, juga menyewakan buku-buku bacaan sastra dan populer timur, dengan berbagai bahasa, kepada umum. Hal inilah yang membuat Malik mau bekerja di percetakan ini. Bibliotek Zainaro, demikian usaha peminjaman buku itu.
Lewat bacaan dan pengalaman berkelana (Malik pernah mencoba joki kuda di Payakumbuh). Mulailah imajinasi Hamka berkembang bak jamur di musim hujan. Sebelum TKVDW dan DLK terbit, Hamka telah begitu banyak menulis artikel keagamaan dan sosial di Koran Pewarta Deli, Pelita Andalas, Media Muhammadiyah. Dua novel berbahasa Minang juga diterbitkan, Basyariah dan Laila Majnun. Di Medan, Hamka pernah tinggal dan di Bajalingga pernah menjadi guru pengajian orang tua selama merantau ke Deli (sebutan untuk Sumatera Timur saat itu).
Bacaan Memotivasi
Kemajuan komunikasi internet saat ini memang mencengangkan. Di balik itu semua, perjalanan kehidupan Hamka, hampir seratus tahun lalu (1908, Hamka dilahirkan), tanpa internet, dibaca, jauh lebih membuka mata dan hati kita semua untuk lebih optimis memandang ke depan.
Di tangan siapapun menutur cerita kehidupan Hamka, pasti menarik dan menggugah. Akmal Nasery Basral telah mempersembahkannya untuk kita semua.











