Kuala Lumpur, (Analisa). Perusahaan pengelola bandara Malaysia (MAHB) berencana untuk mengubah beberapa perkebunan kelapa sawit di sekitar Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) menjadi taman hiburan, gedung konser, serta lapangan golf untuk menciptakan bisnis dan memikat pengunjung, Rabu (11/6). Sebuah factory outlet, usaha patungan oleh Mitsui Fudosan Co. (8801), pengembang terbesar di Jepang, akan dibuka di kawasan tersebut tahun depan.
“Kota-kota baru akan bermunculan dekat bandara sehingga kawasan tersebut akan dijuluki kota bandara (Aeropolis) KLIA,” kata kepala pejabat keuangan Faizal Manshor. "Saya berpikir bahwa tidak semua bandara di dunia memiliki bank lahan seperti yang kita miliki,” tambahnya. Semakin maju suatu daerah, maka bandaranya terasa semakin kecil untuk menampung penerbangan yang semakin banyak.
Malaysia bersaing dengan negara tetangga seperti Singapura dan Thailand di sektor pariwisata dan investasi asing langsung. Oleh karena itu, negara ini membuka terminal terbesar di dunia bulan lalu dengan tujuan agar biaya operator murah sehingga dapat meningkatkan perjalanan udara diantara para konsumen Asia. Negara ini memiliki 25,7 juta pengunjung dan menghasilkan 65,4 miliar ringgit ($20,4 miliar) dalam penerimaan pariwisata tahun lalu. Pemerintah menargetkan 36 juta wisatawan per tahun dan 168 miliar ringgit pada penerimaan tahun 2020.
Perkembangan Aeropolis KLIA mencakup lebih dari 300 hektar untuk kargo dan logistik taman, lebih dari 500 hektar untuk taman hiburan, dan lebih dari 100 hektar untuk kantor. Ini akan membantu Malaysia mengejar ketinggalan pusat-pusat yang ada di Singapura dan Thailand. KLIA akan mendahului Bandara Changi Singapura dalam jumlah penumpangnya dalam dua atau tiga tahun kedepan. “Lalu lintas penumpang KLIA diproyeksikan tumbuh 10 persen tahun ini,” ungkap Faisal.
Maskapai internasional Malaysia memang mempercepat perbaikan bisnisnya setelah penurunan saham akibat kekhawatiran investor di tengah spekulasi tentang kebangkrutan perusahaan penerbangan Malaysia. Kekhawatiran ini disebabkan karena turunnya jumlah pengunjung ke negara jiran tersebut setelah adanya boikot dari Tiongkok terkait hilangnya pesawat MH 370. (Blmbrg/lil)











