Legenda Aek Sipitu Dai

Oleh: Ria Sitorus. Letak geografis Indonesia yang tepat di garis khatulistiwa menjadikan negara kita kaya akan segala sumberdaya alam. Tak muluk-muluk jika kemudian seluruh dunia memberi julukan terhadap Indonesia sebagai; "Negeri yang kolamnya susu, dan tanahnya emas".

Indonesia dengan segala keanekaragaman sumberdaya alam, hutan hujan tropis yang menyimpan berjuta jenis flora dan fauna, keberagaman suku-bangsa dan etnis, serta multi adat-istiadat yang kesemuanya memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri.

Selain kekayaan sumberdaya alam Indonesia berupa keindahan pemandangan alam, seperti pegunungan yang sejuk, pantai yang hangat, laut yang biru, hamparan hijau hutan-hutan tropis, danau dengan tofografi yang memesona, ribuan air terjun dengan berbagai lanscape lengkap dengan kisah mistiknya dan banyak lagi pesona alam lainnya, juga terdapat situs-situs dari sisa kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri di Indonesia serta berbagai peninggalan warisan budaya kuno, berupa; candi, prasasti, sarkofagus, dan lain sebagainya.

Hal-hal tersebut di atas merupakan peninggalan sejarah dari sisa peradaban nenek moyang kita terdahulu yang bernilai tinggi dan menyimpan potensi wisata-budaya atau dalam istilah lain disebut sebagai wisata-religi untuk dikembangkan dan disajikan kepada para wisatawan, baik wisatawan manca-negara maupun wisatawan lokal/daerah. Sama halnya seperti objek wisata-budaya Aek Sipitu Dai (air tujuh rasa) yang terdapat di Desa Limbong Mulana, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Pulau Samosir, Sumatera Utara.

Provinsi Sumatera Utara menjadi salah satu dari 10 provinsi Daerah Tujuan Wisata (DTW) Nasional. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Utara pada bulan Januari 2010 naik 9,24 persen dibanding pada bulan Januari 2009 yang hanya mencapai 14.067 orang. Tetapi peningkatan itu masih jauh tertinggal dibanding pada tahun 1995 yang mencapai 300.000 orang. Meningkatnya kunjungan wisatawan ke Sumatera Utara ketika itu, dikarenakan semua pihak komponen pariwisata sudah serius menangani sektor pariwisata.

Pulau Samosir merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Utara yang memiliki potensi wisata dengan keindahan alam yang luar biasa memesona seperti sungai-sungai, danau, situs-situs peninggalan bersejarah, situs budaya dan ciri khas lainnya sehingga tergolong daerah tujuan wisata. Salah satu daerah tujuan wisata di Pulau Samosir yang tersohor ini adalah situs objek wisata-religi Aek Sipitu Dai yang terdapat di Desa Limbong Mulana, Kecamatan Sianjur Mula-mula.

Berdasarkan pengamatan penulis, ketika berkunjung ke Aek Sipitu Dai beberapa waktu lalu, bahwa objek wisata ini dapat dikembangkan menjadi salah satu situs wisata-budaya (wisata-religi). Pesona keindahan alam Danau Toba dan Pulau Samosir yang telah tersohor ke seluruh penjuru dunia dan berbagai situs-situs warisan budaya kuno di pulau bertekstur bebatuan ini, tentu akan mendukung perjalanan dan petualangan setiap wisatawan menuju objek wisata-budaya Aek Sipitu Dai.

Sebuah situs objek wisata-budaya seperti Aek Sipitu Dai yang dilengkapi dengan kisah-kisah mistis dari kitab legenda Batak Toba yang masih diyakini sebagaian besar masyarakat sekitarnya, memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan dapat dijadikan sebagai modal untuk menarik minat para wisatawan untuk berkunjung ke tempat ini. Namun, sebuah objek wisata seperti ini perlu ditata dan dipelihara sehingga diharapkan mampu mengundang lebih banyak lagi wisatawan yang akan mengunjunginya.

Situs objek wisata religi Aek Sipitu Dai ini merupakan tujuh pancuran mata air dengan rasa yang berbeda-beda. Situs ini merupakan peninggalan sejarah dari kisah legenda Batak (Toba).

Berdasarkan pengamatan yang telah penulis lakukan bebarapa waktu lalu, bahwa kondisi objek wisata ini sangat memprihatinkan. Kondisi situs objek wisata religi Aek Sipitu Dai ini sudah mulai rusak. Patung-patung perempuan yang memegang pancuran air tampak berlumut tebal dan tidak terawat, di sekeliling situs Aek Sipitu Dai tersebut ditumbuhi rerumputan liar, sarana dan prasarana di sekitar objek wisata ini juga masih belum memadai. Sarana yang penulis maksudkan belum memadai seperti halnya: WC umum, restoran, atau setidaknya warung makan (yang halal), tempat parkir, dan lain-lain. Namun, meskipun pengembangan dan pemeliharaan yang dilakukan pada objek wisata ini belum optimal tetapi sudah ada beberapa pengunjung yang datang ke lokasi wisata ini.

Pengunjung yang datang ke objek wisata ini terdiri dari berbagai kalangan, baik anak-anak, remaja (usia sekolah), para mahasiswa (khususnya mereka dari akedemisi antroplogi dan sastra), para penulis, peneliti, sosiolog, antropolog, para pelukis, budayawan, seniman, bahkan kelompok-kelompok wisatawan yang datang bersama keluarga mereka, baik itu wisatawan domestik atau wisatawan mancanegara.

Namun menurut hemat penulis, bagi pengelola pariwisata dan pemerintah setempat masih sangat penting untuk mempelajari potensi objek wisata religi Aek Sipitu Dai, sarana dan prasarana, penerapan sapta pesona, serta motif pengunjung yang datang ke objek wisata religi Aek Sipitu Dai ini, guna mengupayakan pengembangan objek wisata religi yang terletak di Desa Limbong Mulana, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Pulau Samosir ini. ***

()

Baca Juga

Rekomendasi