Nanjing De Xiao Nuhai;

Fakta Psikologis Pembantaian

Oleh: Hidayat Banjar

Pembantaian Nanking, juga dikenal sebagai Pemerkosaan Nanking. Sebuah episode pembunuhan dan perkosaan massal. Dilakukan oleh tentara Jepang terhadap penduduk Nanking (ejaan resmi saat ini: Nanjing) selama Perang Tiongkok-Jepang Kedua. Kisah tragis ini dideskripsikan Vaneesa Huang dalam “Nanjing De Xiao Nuhai (Senyum si Gadis Kecil dari Nanjing)” dengan lirih dan mengharu-biru.

Oleh Vaneesa Huang, kisah berlatar sejarah setebal 285 halaman ini, ditulis dengan sudut pandang humanis. Vaneesa agaknya memang menghindari agitasi dalam 34 bagian (bab) di dalam buku yang diterbitkan Diva Press, Jogjakarta, cetakan pertama Juli 2012 ini. Kisah dijalin dalam dua plot (alur) dengan latar belakang China dan Jepang.

Sebagaimana pidato Presiden China, Xi Jinping pada peringatan 77 tahun Pembantaian Nanjing, Sabtu (13/12/14) di Nanjing, bekas ibukota China. Kepada para tentara, mahasiswa dan mereka yang selamat dari pembantaian Desember 1937 itu, tujuan peringatan untuk “membangkitkan rasa kerinduan akan perdamaian dan tidak mengumbar kebencian.”

Ya, Vaneesa Huang pun menulis novel Senyum si Gadis Kecil dari Nanjing, guna membangkitkan kesadaran para pembaca, betapa berharganya sebuah perdamaian.

Kisah diawali dengan plot, situasi Xiaguan, Nanjing, tahun 1924. Seorang lelaki duduk di atas batu, di pinggir Sungai Yangzi (sungai terpanjang di Asia dan sering disebut Sungai Yangtze). Kesibukan dan keramaian orang-orang yang terdengar berisik tidak membuat lelaki itu terusik.

Xiao Changyi, nama lelaki itu, tak punya ayah dan ibu. Mati bunuh diri, saat dia masih kanak karena tidak bisa membiayai hidup. Tetangga-tetangga Xiao Changyi merasa heran, ketika dia tidak menangis. Malah diam membisu menyaksikan kematian kedua orangtuanya. Bila ditanya, tak mau berkata sepatah kata pun. Mereka mengira Xiao Changyi menjadi bisu.

Yatim Piatu

Usia yang kedua belas, Xiao Changyi hidup dari belas kasihan orang yang melihatnya. Tak pernah berganti baju dan seperti gelandangan. Sampai pada suatu hari, dia bertemu dengan seorang wanita tua yang juga hidup sendirian di sebuah gubuk tua dan kumuh. Wanita tua itu memungut Changyi yang terus membisu tak mau bicara. Anak lelaki itu hanya menjawab sekali saja, jika orang bertanya tentang siapa namanya.

Sampai pada akhirnya, ketika wanita tua yang bernama Nenek Liu demam tinggi dan membuat bocah itu panik, saat itulah Changyi mulai berbicara agak panjang. Sehari-hari kerjanya hanya melukis (amatiran) yang satu lukisannya dihargai hanya cukup makan untuk tiga hari saja.

Begitulah, setelah Nenek Liu meninggal dunia, Changyi terus melukis dan mengontrak rumah milik  Nyonya Lu Shu Fang yang cerewat. Lewat lukisan, Changyi berkenalan dengan keluarga kaya dan terhormat.

Usai melukis Li Sansan dan ibunya, Changyi mendapat kantong kain merah terang berisi uang. Hasil yang lebih dari hari-hari sebelumnya digunakan mencicil rumah kontrakan dan sisanya untuk makan selama beberapa hari.

Di bagian berikut, dikisahkan hubungan cinta Changyi dengan anak majikannya bernama Zhou Jiangli. Changyi berada di rumah keluarga ini, karena dipaksa oleh Lu Shu Fang agar bekerja sebagai pembantu. Melukis, apalagi amatiran, bukanlah profesi yang dapat membuat hidup. Di sini pula Changyi kembali bertemu dengan Sansan (keponakan Jiangli) dan  Zhou Fangyin (kakak Jiangli) yang pernah dilukisnya. Bakat melukis inilah yang membuat Jiangli tertarik dengan Changyi dan bersedia melepaskan kegadisannya di sebuah kamar hotel.

Dididik Keras

Akibatnya, Changyi dan Jiangli diusir dari kediaman keluarga terhormat itu. Ayah Jiangli, Zhou Wangchen tak terima anaknya bersuamikan pembantu. Meskipun Jiangli sudah mengatakan, Changyi bukanlah sekadar pembantu, juga pelukis. Ayahnya tetap bersikeras mengusir mereka. Sang ibu, Ma Fenfuang menangis dan merengek-rengek agar Jiangli dan kekasihnya tak diusir dari rumah mereka, namun Wangchen tetap pada pendirian.

Pada plot berseting Nagasaki, Jepang 1924, di bagian ketiga, dideskripsikan mimpi keluarga Yoshinaga Yuki berusia 45 tahun. Lelaki ini gagal mewujudkan mimpinya menjadi tentara karena kakinya cacat akibat terjatuh dari pohon. Dia memiliki 11 anak dan hanya satu lelaki yang bernama Ichiko (anak kesebelas), lahir pada Oktober 1917.

Usia Ichiko yang masih tujuh tahun, dididik keras agar dapat jadi tentara. Dia menolak, karena  cita-citanya jadi petani atau nelayan, bukan tentara. Yuki memukuli kakak di atas Ichiko setingkat dengan hebat. Tak tahan melihat penyiksaan itu, akhirnya Ichiko mau berlatih dengan keras.

Jiwa Ichiko tetap menolak menjadi tentara. Garis takdir ternyata membawa Ichiko ke jalan yang diharapkan Yuki. Ichiko terjebak pada peristiwa perampokan. Yuki datang membantu, namun nahas, sang ayah terbunuh dalam perkelahian menggunakan samurai. Kejadian inilah yang membulatkan tekad Ichiko jadi tentara.

Dia berlatih sendiri tanpa bimbingan ayah. Kelembutan hatinya tetap saja hidup dan semakin kuat manakala adiknya (anak keduabelas) lahir, juga perempuan. Adiknya mengidap difabel karena demam panas. Saat usia 12 tahun, Kou berada di kursi roda, sementara ibu mereka (Haruka) semakin tua.

Kisah memilukan itu mencapai puncaknya pada Desember 1937. Ichiko dan teman-teman dikirim ke Nanjing untuk melakukan pembantaian. Keluarga Zhou dihabisi. Tersisa dan nyaris mati, hanya Yue Wan dan Jiangli (anak dan istri Changyi).

Pembantaian

Pembantaian terjadi selama periode enam minggu mulai 13 Desember 1937. Jepang menguasai Nanking, kemudian menjadi ibukota Tiongkok (lihat Republik Tiongkok (1912–1949)). Selama periode ini, antara 40.000 hingga lebih 300.000 (perkiraan bervariasi) warga sipil Tiongkok dibunuh Tentara Kekaisaran Jepang. Di dalam novel, jumlah korban tak disebutkan.

Perkosaan meluas dan penjarahan juga terjadi. Jiangli dan ibunya yang sudah menjadi nenek, pun diperkosa. Yue Wan tidak diperkosa dan selamat dari kematian, karena Ichiko tidak tega melakukannya.

Ketika melihat Yue Wan, dia terbayang Kou (adiknya yang cacat). Karena itu, Yue Wan hanya ditusuk dengan pelan dan kemudian tergeletak seolah-olah sudah mati. Jiangli yang diperkosa dan juga ditusuk bayonet tidak mati, karena keajaiban saja.

Pada Januari 1938, Yue Wan yang sudah beberapa hari tertumpuk di lubang galian tempat mayat-mayat, tersadar. Dia mencium bau busuk dan pemandangan mengerikan. Tubuh-tubuh yang sudah menjadi mayat tanpa kepala.

Dua orang yang memeriksa tumpukan mayat menemukan Yue Wan. Salah seorangnya adalah Gu Lao. Pedagang jamur yang biasa membeli jamur Yue Wan dan temannya (Cen Yi Ping). Selanjutnya, Yue Wan pun mencari ibunya dan ketika bertemu, keduanya menangis haru serta berpelukan.

Kemudian, Yue Wan mencari ayahnya. Dia tidak tahu kalau sang ayah (Changyi) dan kakeknya (Wangchen) telah tewas dilindas tank. Wangchen sempat bertemu menantu yang tak direstuinya dan meminta maaf pada Cangyi di arena pembantaian.

Meski berlatar sejarah, Novel ini bukanlah sejarah. Di dalam sejarahnya, Letnan Jenderal Hisao Tani diseret ke pengadilan militer atas kejahatan perang di Nanking berserta 3 orang lainnya. Kapten Gunkichi Tanaka (ketika pembantaian membunuh 300 warga China dengan pedang Tsu-Kuang. Dia menamai pedangnya dengan nama anaknya) dan dua Letnan yang mengadakan kontes membunuh 100 orang dengan pedang yaitu Toshiaki Mukai dan Tsuyoshi Noda.

Letnan Jenderal Hisao Tani dinyatakan bersalah pada 6 Februari 1947 dan dieksekusi mati pada 10 Maret 1947 di hadapan regu tembak. Kedua Letnan, Toshiaki Mukai dan Tsuyoshi Noda dieksekusi pada 28 Januari 1948.

Jenderal Iwane Matsui didakwa sengaja membiarkan dan lalai melaksanakan tugasnya untuk mengambil langkah yang tepat mencegah pelanggaran terhadap konvensi Den Haag. Masih ada beberapa orang yang bertanggung jawab, namun tidak pernah di peradilankan karena berbagai alasan.

Di dalam novel tidak dikisahkan peristiwa setelah pembantaian. Ichiko dan kawan-kawan serta Okada Samuro sang komandan pulang ke Jepang. Sejarah tentu menyajikan fakta sosial. Karya sastra lebih menekankan kepada fakta psikologis yang menyentuh naluri kemanusiaan pembaca.

Penulis; adalah Sastrawan

()

Baca Juga

Rekomendasi