Ahmad Ali, Mahasiswa FKIP UMSU

Dari Anak Band Kini Hafiz Alquran

Oleh: Muhammad Arifin.

Memiliki latar belakang keluarga kurang dekat dengan agama sebelumnya dan dulu bukan yang taat agama. Ternyata, bukan halangan untuk merubah dan menjadi terbaik.

Bahkan, dalam tempo 23 bulan dan bisa dibilang waktu yang cukup lama. Ahmad Ali kelahiran, Tanjung Morawa, 30 Agustus 1992 kini hafiz Alquran 30 juz. Subhanallah.

Mahasiswa semester III Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UMSU mengakui walaupun tergolong lama dibanding teman-temannya yang ada menghafal 3 bulan. 6 bulan, dirinya mengaku tergolong paling cepat karena latarbelakang tidak orang yang dekat dengan agama.  Sedangkan yang lain merupakan orang yang keluarganya memang dekat agama.

“Saya ini dulu anak band, gitaris band The Slash. Jadi, jauh dari agama,” katanya.

Diakuinya,  dirinya menjadi hafiz Alquran setelah sempat bermimpi sebanyak tiga kali. “Jadi, waktu SMA bermimpi tiga kali. Mimpi yang pertama, saya mati suri. Saya dibunuh, saya melihat jasad keluar dari tubuh.Sungguh sangat menyesal karena mungkin banyak dosa,” katanya.

Dia melanjutkan, dirinya terbangun, dalam keadaan menangis. “Saya takut mimpi ini seperti kenyataan. Saya berpikir kok mimpi seperti ini. Mungkin terlalu banyak dosa atau terlalu jauh dari agama,” ujarnya.

Dua bulan kemudian, lanjut Ali dia mimpi yang kedua. Mimpinya sama dengan mimpi pertama. “Setelah mimpi itu saya ingin bertobat. Tobat berjalan satu minggu. Saya ulangi perbuatan main gitar dan jauh dari agama karena saya kembali ke masa lalu. Saya mimpi ketiga, berjumpa banyak orang dalam satu masjid dan menyambut saya, mereka mengenakan pakaian putih. Saya berpikir kenapa mimpi itu datang sebanyak tiga kali. Apakah mimpi ini hidayah atau teguran,” katanya.

Sempat Bingung

Pada saat itu, dirinya mengaku bingung karena tidak tahu mau kemana usai ujian nasional. Melanjut sekolah atau berhenti. ”Ada yang menyarankan masuk ke pesantren. Masuk pesantren, saya sempat bingung karena tidak bisa membaca Alquran. Apalagi latarbelakang anak band,” ujarnya yang mengaku akhirnya mendapat saran masuk ke pesantren  dari gurunya (Pak Abdi-red).

“Guru saya sempat menyarankan mencari guru Alquran. Tapi saya tidak ada biaya membayarnya,”ungkap pemuda tampan ini.

Hingga suatu saat, ceritanya, di sekolahnya mengadakan maulid. Ustaznya hafiz Quran. Dirinya sempat tidak percaya ada orang yang menghafal Alquran. Tapi, cerita dari teman ustaznya memang mampu membaca Alquran tanpa teks.

Setelah ceramah, lanjut Ali dirinya melihat ustaz membagikan brosur tentang penerimaan santri baru Pesantren Tahfiz Alquran Nur Aisyah -Tanjung Morawa.

“Saya mencoba melamar menjadi santri di pesantren tersebut. Test bacaan Alquran wajib. Tetapi, saya tidak dapat membaca dengan baik karena belum belajar Alquran. Saya sempat iri karena saingan dengan banyak anak ustaz dan golongan pesantren, sedangkan saya anak band. Tapi, saya tidak putus asa dan terus berusaha untuk belajar Alquran,” tegas alumni SMA N 1 Batang Kuis ini.

Setelah 2 minggu seleksi penerimaan tahfizh Alquran diakui tetap tidak bisa membaca Alquran. “Ketika akan diumumkan  siapa yang berhasil lulus seleksi tersebut, saya juga belum bisa membaca Alquran. Tiga hari sebelum itu saya salat tahajud dan berdoa,” ceritanya.

Dalam doanya, Ali mengaku meminta kepada Allah jika ini yang terbaik maka mudahkanlah.

Diakui Ali, dirinya takut mendengar pengumuman karena terbenak dalam hati pasti tidak lulus. “Pengumuman itu dilaksankan setelah salat Isya, dan sayapun doa terakhir kalinya setelah dengan doa yang sama,” ucapnya.

Akhirnya pengumuman pun tiba, tanpa disadari dirinya dipanggil. “Saya hampir tidak percaya. Saya bergegas ingin memastikan kepada ustaz tersebut. Apakah saya benar-benar lulus?, tetapi ustaz tersebut mengatakan saya lulus. Di situ lansung saya sujud syukur kepada Allah karena doa saya diijabah  dan memberikan jalan  yang terbaik, yaitu menjadi penghapal Alquran,” katanya.

Dia menegaskan, di dalam Alquran surah Al Qomar, Allah mengatakan sebanyak 4 kali Alquran itu mudah untuk dipelajari dan dihapal.

“Di dalam hadis Rasulullah mengatakan seorang yang hapal Alquran maka dia akan dijaga oleh Allah SWT dan dijamin kehidupannya di dunia dan di akhirat karena orang yang hapal Alquran itu adalah keluarganya Allah dan Allah tidak akan membiarkan keluarganya menderita,” cerita Ali.

Menurutnya, semua terbukti setelah dirinya selesai  mengapal Alquran 30 juz dengan tekad yang kuat dengan usaha yang maksimal  selama 23 bulan. “Saya mampu menghapal Alquran 30 juz dan langsung diminta ustadz untuk menjadi guru tahfizh Alquran di kota Medan,” tegasnya.  

Kini, hampir  tidak terfikirkan dirinya juga bisa mengajar sembari kuliah. Padahal dulu adalah orang yang tergolong tidak mampu. “Setelah saya mengajar selama dua tahun, Alhamdulillah saya bisa membeli tanah sendiri, dan membantu orangtua. Memilik apa yang saya inginkan. Sempat berfikir apakah ini yang dinamakan dijamin oleh Allah kehidupannya di dunia,” tegasnya.  

Kini, Ali bisa membahagiakan orangtua hasil menjadi penghafal Alquran. Sekarang selain menjadi guru tahfizh di Medan dan menjadi instruktur di lembaga tahfiz Alquran. Dirinya juga memiliki berbagai usaha yang dapat membantu memenuhi kebutuhan. Ali berkeinginan ilmu bahasa Inggris yang dipelajarinya di FKIP UMSU bisa mengantarkan mengajarkan Alquran hingga mancanegara.

()

Baca Juga

Rekomendasi