Oleh : Dewanty Ajeng Wiradita.
Kafe, dalam Bahasa Perancis, cafe (kopi) lazim dijadikan tempat pertemuan bagi banyak orang untuk makan dan minum. Sejak dulu, warga Sumatera Utara gemar minum kopi, mulai dari kedai kopi di pusat Kota Medan hingga lapak tepi bukit pinggiran Danau Toba.
Kini, terkait kebutuhan afiliasi individu berdasarkan teori Psikologi milik McLelland, kafe menjadi tempat menikmati hidangan juga sebagai tempat yang nyaman untuk bersosialisasi. Fungsi kenyamanan, dapat diterapkan pemilik kafe dengan merancang kondisi arsitektur luar maupun interior sedemikian rupa. Agar terkesan apik dan pengunjung betah berlama di dalamnya.
Adalah sebuah kafe, yang bertempat di rumah besar di bilangan Sei Serayu Medan. Pemilik kafe mengatakan, operasional kafe di gedung tersebut berawal dari kejenuhannya dengan suasana sebelumnya yang bertempat di rumah toko (ruko). “Ingin mencari suasana baru, kami carilah rumah yang ‘gedong’ (besar). Kebetulan rumah ini milik orang tua saya, lokasinya cukup strategis tinggal rombak isi dalamnya,” ungkap pemilik kafe, Nino.
Bangunan dua lantai dengan luar sekitar 1000 meter persegi dan dioperasikan mulai Maret 2015 ini didesain orang tua pemilik, yang merupakan lulusan Teknik Sipil. Bagian luar bangunan, didominasi warna putih, namun bercorak natural di bagian dalamnya.
Masuk dari pintu depan, kita dapat melihat hadirnya dua ‘lapis’ ruangan. Ruangan pertama didapati bertema kayu, baik lantai maupun ornamen dinding. Dinding bermotif polos, terdapat kursi yang berjumlah 20 unit dengan meja panjang di tengahnya. Tepat di sisi dinding, barulah bisa didapati kursi dengan meja individual. Kursi-meja antar ruangan, sengaja tidak dibedakan, bisa menyambungkan tema kayu aslinya gedung tersebut.
Lapisan kedua, didapati beberapa sofa berwarna gelap di sebelah dapur. Masih didominasi warna natural.
Nino, menuturkan desain yang mendominasi kafe tersebut berkisar pada ornamen dan materi yang digunakan. “Tema khusus kita pakai konsep industrial, banyak memanfaatkan barang bekas, palet, diwarnai mural. Untuk penataan lampu, menggunakan penghubungnya pipa tanpa penutup pada bola lampu. Saya rasa elemen tersebut sudah cukup ditonjolkan di lantai 1,” ungkapnya pada Analisa saat ditemui di kafe tersebut, Kamis (3/12) pagi.
Ketika ditanya kiblat desain interior kafenya, ia memberikan jawabannya. “Kita tidak punya kiblat khusus. Hanya mau menekankan filosofi dalam berbisnis. Kita, berbasis Islami. Terlihat dari pintu masuk, yang didominasi ornamen bintang ‘segi delapan’. Ornamen ini identik dengan arsitektur Islam. Jadi dalam bisnis, kita bertujuan supaya bisa cari (usaha) yang halal,” imbuhnya sambil tersenyum.
Pantauan Analisa, pada bagian dalam, memang tampak ornamen ‘segi delapan’ yang tersebar. Pada pintu gerbang utama di depan, ukiran besi berwarna hitam ‘segi delapan’ langsung menyambut pengunjung. Berikutnya, kolam air mancur di tengah area parkir. Segaris lurus dari sana, didapati lantai pertama pintu depan dihiasi ornamen ini. Demikian dengan ukiran besi di lengan tangga dan ventilasi udara.
Kendatipun, penegasan konsep rohani ini tidak menutup kolaborasi tambahan desain lain, yakni mural (cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok, atau permukaan luas lain yang bersifat permanen).
Pada ruangan lapis kedua di lantai pertama dan satu ruangan di lantai dua, pengunjung disuguhi karya figur manusia di dinding. Hal ini tentu berseberangan dengan konsep seni dalam Islam, yang menggambar sesuatu yang mirip dengan makhluk hidup, tidak diperbolehkan.
Buka Diri
Namun, menurut Dosen Arsitektur sekaligus Sekretaris Departemen Arsitek Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, Rudolf Sitorus, probabilitas kedua aliran desain ini diaplikasikan karena pemiliknya bermaksud membuka diri terhadap perkembangan zaman.
“Kemungkinan pemiliknya mau menghadirkan konsep yang unik dan otentik dengan menghadirkan tema berbasis rohani. Tapi kemudian tak menutup diri (kaku), lalu menambahkan konsep egaliter (sama/sederajat) dengan menghadirkan mural di dalamnya. Padahal hal ini kan berseberangan,” paparnya kepada Analisa ketika dihubungi via telepon.
Lebih lanjut Rudolf mengatakan, konsep Islami yang terintegrasi ini bisa memberi ruh pada atmosfer kafe. Sekali lagi, demi menambah kesan unik dan otentik sebagai ciri khasnya.
Keleluasaan beraktivitas, juga bisa tercermin pada desain, yakni ruangan yang tidak terlalu tertutup. “Di pintu depan, samping kiri, dan berbagai sisi lantai dua, pintu terbuka lebar sehingga udara bebas keluar-masuk dan pemandangan luar tetap terlihat. Ini menjawab kebutuhan manusia akan hasrat dilihat dan melihat suasana maupun orang lain,” ungkapnya.
Desain Segmentasi
Aplikasi desain yang majemuk ini pun tak lepas dari segmentasi pengunjung yang datang. “Kita undang semua elemen masyarakat, baik dari segmen mahasiswa, pekerja, maupun keluarga,” jelasnya.
Desain dari santai hingga lux (mewah) pun diterapkan. Meskipun, konsep mewah ini masih tahap pembenahan. Hal ini juga berkaitan dengan jam buka kafe yang mulai pukul 07.00-24.00 WIB setiap harinya demi menjawab kebutuhan pengunjung.
Utamanya, segmen pekerja, di pagi hari maka kafe menyediakan ruang pertemuan, fasilitas infocus dan wi-fi, agar pekerja bisa bekerja di sana, atau diistilahkan dengan co working. “Jadi mereka bisa pindah kantor mereka ke sini, bahkan untuk sensasi bisnis.” ungkapnya.
Sedangkan pada malam hari lebih diperuntukkan bagi mahasiswa, dan akhir pekan bagi keluarga.
Konsep Sederhana
Nino menyatakan lebih gemar menyebut tempat tersebut dengan ‘kedai’ demi memunculkan kesan sederhana walau dari segi gedung, terbilang megah. “Di ‘kedai’, orang bebas datang dan beraktivitas,” ungkapnya.
Bicara pemilihan warna, Nino menyoroti warna efek divergensi lampu pada seisi ruangan. Dipilih lampu temaram agar memberikan rasa nyaman, bahkan romantis.











