Oleh: Elwin FL Tobing.
Imah melangkah lunglai ke halte di depan kampus, sendirian. Maya sudah pulang duluan dibonceng Rio. Imah malas-malasan melambaikan tangan pada angkot yang mendekat. Angkot itu berhenti. Imah melirik ke depan. Sopirnya bukan Bang Anto. Imah mendesah. Duduk di angkot dengan hati gelisah. Gerimis mulai turun siang itu.
4. Cemburu Ya?
“Angkot itu 'kan lewat rumahmu? Kok tidak disetop?” heran Maya. Panas terik membakar langit Pematang Siantar. Maya ingin cepat-cepat pulang, sebelum wajahnya benar-benar matang terpanggang Matahari. Rio juga terlihat mulai gelisah menunggu. Cowok Maya itu beberapa kali memberi kode dengan acungan kepala.
“Sudah! Kalau mau pulang duluan tidak apa-apa. Tuh, Rio sudah panggil,” Imah masih duduk dengan santainya di bangku halte. Maya tak beranjak. Dia takut peristiwa kemarin terulang kembali.
“Sudah, pulang saja. Payah amat sih, tinggal pulang,” usir Imah.
“Nanti kau mengamuk lagi,” Maya khawatir.
“Tidak! Lagipula Mak Lampir itu tidak masuk hari ini.”
“Kenapa?’
“Mana tahu? Takut, mungkin!”
Kemarin memang terjadi huru-hara. Bermula dari sindiran Ulfi dengan geng-nya, yang sedang ngerumpi sambil melahap rujak yang kebetulan lewat di depan kampus.
“Untuuung...saja ongkos angkot sudah turun,” ucap Ulfi sambil melirik Imah.
“Kenapa memangnya?” sambut Riri.
“Ya, iyalah. Yang tidak ada jemputan bisa lebih hemat. Kalau tidak, bisa bolos kuliah, nek, tak ada ongkos,” entah sengaja atau tidak, Ulfi bicara sambil melirik Imah.
“Makanya jadi cewek tak usah sok bertingkah. Ditelantarkan di tengah jalan baru tahu rasa.”
Darah Imah tersirap. Dia yang tadinya belum yakin betul jadi alamat sindiran Ulfi, seketika meledak murka. Tangannya bergerak cepat meraup bungkus rujak di depan Ulfi dan menghamburkan isinya ke wajah gadis itu. Seketika Ulfi menjerit-jerit karena matanya perih tersiram bumbu yang pedas. Anggota geng Ulfi yang melihat kenekatan Imah terpelongo pucat. Hanya Ida yang berani protes, “Hei cewek gila! Apa –apaan ka...”
Bblup! Secepat gerakan pertama, rujak berikutnya telah menerpa wajah Ida.
“Aduh perih, pedas, dasar orang gila, stres...aduh tolong, tolooong…!” Ida kalang kabut. Menggelepar-gelepar menahan perih di matanya. Benda-benda di sekitarnya berhamburan terkena kibasan tangannya yang liar.
Tukang rujak kebingungan. Diam-diam dia beranjak menyelamatkan dagangannya. Dia khawatir adegan pelemparan rujak itu terus berlanjut. Takutnya amunisi di depan geng Ulfi habis, Imah beralih menyerbu rujak dalam toples.
“Tahankan kalianlah. Ayo, siapa lagi yang berani buka mulut!” tantang Imah tak menunjukkan gentar sedikit pun.
Yang lain jadi mengkeret. Mereka buru-buru menyingkir sambil menuntun Ulfi dan Ida ke kamar mandi untuk membersihkan ceceran bumbu rujak di wajah keduanya. Imah masih mengejar. Tapi Maya menangkapnya.
“Sudah dong, Mah! Kau mau apakan lagi mereka? Sempat mereka buta, mampus kau!” tahan Maya.
“Biar kubutakan sekalian!” Imah meronta.
Tapi Maya sekuat tenaga menahan tubuhnya. Beberapa mahasiswa lain ikut menyabarkan Imah. Saat Imah mulai tenang, Rizki datang, dan tiba-tiba, plak! Tamparannya menghantam pipi Imah, “Brengsek!” makinya.
Imah jelas tak terima. Sekuat tenaga dia melompat dan mencakar wajah Rizki. Mereka sempat bergumul sebelum dipisahkan oleh orang-orang yang ada di situ. Kampus geger. Tapi tak ada yang berani mengadili. Mereka kenal siapa Rizki. Biarkan saja dia dengan segala tingkah lakunya. Diam-diam, banyak yang bersyukur melihat bekas cakaran menggores wajah tampannya yang arogan itu.
Panas Matahari mulai reda. Tapi wajah Maya makin kusut saja. Dia mulai kesal melihat Imah yang membiarkan saja angkot jurusan rumahnya lewat.
“Mau pulang tidak sih, Mah? Setop dong angkotnya!”
“Ih. Kau rese ya? Pulang duluan sana, aku masih mau di sini.”
“Mau apa lagi? Menunggu Ulfi untuk berantem lagi?”
“Tidaaaak...! Tidak lho Maya-ku Sayang. Pulang saja cepat. Aku tak apa-apa.”
Maya menghela napas. Akhirnya, dengan langkah bimbang dia minta izin pulang duluan. Setelah Imah mengangguk, dia menghampiri Rio yang tertidur di rerumputan karena bosan menunggu. Air liur cowok bertubuh gempal itu terlihat menetes pertanda tidurnya sudah lama dan lelap. Dengan penuh cinta, Maya mengelap tetesan liur itu dengan ujung bajunya. Ih, romantis yang jorok…!
Sepeninggal Maya dan Rio, Imah mencermati angkot dengan lebih teliti. Tadi dia malu ketahuan Maya. Imah sedang menunggu angkot Bang Anto. Tadi sudah melintas dua kali. Tapi berhubung Maya masih ada, Imah membiarkan angkot itu lewat. Tak lama, angkot tua bertuliskan Sinar Siantar itu terlihat meluncur pelan. Imah langsung mengenal supirnya. Bang Anto punya ciri khusus. Dia sering memakai kaos PSMS Medan. Diam-diam Imah membasahi bibir dan menarik ujung-ujung bajunya biar rapi.
Bang Anto tersenyum ketika Imah melambai. Kebetulan bangku depan kosong. Imah duduk di sana.
“Sore kali pulangnya, Mah,” sapa Bang Anto sambil memperbaiki letak kaca spion yang miring.
“Banyak tugas, Bang,” Imah beralasan. Wajahnya disetel agar terlihat capek sambil berusaha menepis grogi. Mencoba terlihat santai. Dia mengambil diary kecil dan mengipas-ngipaskan ke wajahnya.
“Gerah ya?” Bang Anto mulai menjalankan angkot.
Imah mengangguk. Tanpa diduga, Bang Anto menghentikan angkot di dekat sebuah kedai kecil.
“Minta fanta dingin satu, Namboru,” pintanya pada si penjaga kedai.
Imah kaget ketika Bang Anto menyuruhnya menerima minuman itu dari tukang kedai.
“Kan gerah, Mah? Minumlah.”
“Aduh..ck...kok, duh... Bang Anto... makasihlah Bang,” Imah tergagap-gagap.
Bang Anto mengangguk. Angkot meluncur pelan menyusuri jalanan berdebu. Berhenti di Pajak Horas menaikkan penumpang. Lalu kembali meluncur sepanjang Jalan Sutomo. Imah menyeruput fanta sambil menyapukan tatapannya pada pemandangan di pinggir jalan. Dia berencana bercakap lebih akrab dengan Bang Anto. Tanya-tanya alamat, keluarga, suka-duka jadi sopir dan semacamnya.
Tapi Imah tak punya kesempatan mewujudkan niatnya. Soalnya ibu gemuk yang duduk persis di belakang Bang Anto tak berhenti berceloteh. Ibu itu sedang membangga-banggakan putrinya yang katanya baru diterima kerja di ponsel. Sepertinya dia sedang mempromosikan anak gadisnya itu pada Bang Anto. Sanjungan dan pujian bertaburan memenuhi kisahnya.
“Adek ini siapa?” tunjuk ibu itu tiba-tiba pada Imah. “Pacar Nak Anto, ya?”
“Ah, Ibu ini ada-ada saja. Ini Imah, Bu. Kenalan biasa, kok. Dia ini mahasiswi lho, Bu. Nanti dia tersinggung Ibu bilang pacaran dengan sopir angkot,” kata Bang Anto.
“Ooh, gitunya. Tapi kok sampe dibelikan fanta?” selidik ibu itu penuh rasa ingin tahu dan cemburu. Imah sampai keki mendengarnya.
“Dia haus, Bu. Sore begini baru pulang kuliah, ya pasti lapar, haus. Tidak apa-apa 'kan dikasih minum?”
Walau masih nampak tidak menerima, tapi ibu itu tak lagi melanjutkan interogasinya. Dia kembali melanjutkan cerita tentang putrinya, Iswani, yang sejak kehadirannya membuat kios ponsel tempat kerjanya diserbu banyak pelanggan. Dengan ramah Bang Anto melayani arah cerita ibu itu. Bang Anto ikut memuji keberuntungan si ibu karena memiliki putri sebaik dan secantik Iswani. Alhasil, si ibu semakin lupa diri dan lupa tujuan. Saking semangatnya berkisah, gang rumahnya sampai terlewat.
“Eh, sudah di mana ini? Aduh, stop stop!”
Imah terkikik geli.
Setelah ibu itu turun di Gang Dahlia, ibu yang di belakangnya merapat ke dekat Bang Anto. Ibu bertubuh kurus itu mengomentari cerita si ibu gemuk yang menurutnya terlalu berlebihan. Bang Anto hanya tertawa pelan menanggapi.
Imah memperbaiki letak duduknya. Mendehem pelan sambil mengatur urutan pertanyaan dalam hati. Mulutnya sudah terbuka separuh ketika tiba-tiba ibu kurus mendahului dengan cerita. Semakin ditelaah, ternyata ceritanya tak beda jauh dengan kisah si ibu gemuk tadi.
Ibu ini juga menceritakan putrinya yang seminggu lagi akan pulang dari Malaysia. Putrinya itu sudah tiga tahun jadi tkw. Selama tiga tahun ini--menurut cerita si ibu kurus-- putrinya rajin mengirim uang dalam jumlah besar. Berkat Duma--nama putri ibu itu-- mereka sudah punya kursi sofa satu set. Kipas angin besar, gosokan merek Kirin, dan televisi yang layarnya datar dan gambarnya sejernih Aqua. Duma juga rajin berkirim kabar. Putrinya itu begitu perhatian dan penuh tanggung jawab pada keluarga.
Menurut si ibu kurus, seandainya Duma ketemu jodoh sepulangnya dari Malaysia, putrinya itu tak balik lagi ke sana. Dia akan di sini bersama suaminya, dan berniat membuka usaha dengan modal yang dibawanya dari Malaysia.
“Nak Anto main-mainlah ke rumah. Tahu 'kan rumah Ibu? Tanya saja pada tukang tambal ban di dekat sekolahan SD itu, ‘mana rumah Bu Duma yang anaknya kerja di luar negeri’. Semua orang itu pasti tahulah,” kata ibu itu sambil tertawa renyah.
“Iya, Bu. Nantilah kalau lagi libur,” jawab Bang Anto ramah.
Imah cemberut sambil melirik sebal pada ibu itu. Entah kenapa, dia tak suka mendengar jawaban Bang Anto. Ada resah yang menggurat dadanya. Sebagai pelampiasan kejengkelan hati, Imah mengunyah sedotan fanta hingga lumat. Dia membayangkan dirinya sedang mengganyang si ibu kurus yang semakin sok akrab dan perhatian sama Bang Anto. Bang Anto juga sih! Untuk apa semua ibu-ibu ditanggapi ramah begitu? Cueki sekali-sekali kenapa?
5. Ow-ow... Kamu Ketahuan!
Berawal dari keengganan Imah ditemani saat pulang kuliah. Maya heran. Masa betah menunggu angkot sendirian? Sudah begitu, Imah tak mau menyetop angkot selama Maya masih di dekatnya. Aneh 'kan? Aneh dong! Iya tidak? Iya bilang!
Maka, kemarin Maya pura-pura pulang dibonceng Rio. Setelah sampai di Aspol, mereka memutar kembali, dan diam-diam mengintai Imah dari balik lapak penjual koran. Imah dengan sumringah menyetop sebuah angkot tua. Lalu dengan pedenya duduk di depan, di samping pak sopir yang sedang bekerja. Maya menyuruh Rio membuntuti angkot itu. Sambil menutup wajah mereka rapat-rapat dengan helm, Rio memepet angkot dan, astaga-astagi ada buaya makan indomi! Maya melihat Imah bercanda dengan si sopir. Pakai pukul-pukulan dan cubit-cubitan segala, tidak ada malunya. Serentak pikiran Maya melayang pada iklan-iklan dukun di koran dan majalah. Pasti si sopir telah mengguna-gunai Imah. Sobat Maya yang kurus itu pasti kena pelet. Cuma Maya belum bisa memastikan, yang dipakai pelet ayam atau pelet ikan, hihi...
Dan pagi ini Maya siap sudah dengan dakwaan.
Maya mengepalkan tangan ketika melihat angkot tua itu menepi di halte depan kampus. Sambil mengertakkan gigi, Maya menghampiri Imah yang membuka pintu depan dengan wajah kasmaran. Maya melihat Imah melambai sebelum angkot itu beranjak pelan meninggalkan halte.
Imah kaget melihat Maya berdiri di depannya dengan wajah menuduh. Imah coba menguasai diri. Menciptakan senyum di bibir dan meraih lengan Maya. “Tumben menunggu aku. Ayo masuk.”
“Akrab kali kau sama sopir itu. Pacarmu?” Maya tembak langsung.
Wajah Imah berkelit. Kaget sekali mendapat pertanyaan telak begitu.
“Itu Bang Anto,” lirih Imah berusaha melarikan tatap dari mata Maya.
“Oke! Aku ingat kau pernah menyinggung nama itu. Jadi dia pacar barumu?” kejar Maya.
Imah menggeleng. “Kami cuma teman,” suara Imah tak meyakinkan, membuat Maya semakin geregetan.
“Teman?” Maya pitam. “Tiap hari naik dan pulang kuliah dengan angkot yang sama. Duduk di depan sambil bercanda-canda. Masa sih cuma teman?”
“Benar, May. Kami belum pacaran...”
“Tapi akan pacaran, begitu?”
Imah tak menjawab.
“Kau kenapa sih, Mah? Macam tak ada cowok lain saja. Masa sama sopir?
“Bang Anto…orangnya baik kok, May.”
“Tapi dia cuma sopir, Mah. Kau mahasiswi. Mikir dong! Pakai ininya nih,” Maya mengetuk-ngetuk jidat Imah.
Bersambung Minggu depan











