Oleh: Mihar Harahap. Apa dan bagaimana novel “Dan Perang Pun Usai” karya Ismail Marahimin, tak sesiapa dapat menggugatnya. Novel ini telah memenangkan Lomba Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian JakartaTahun 1977. Sudah diterbitkan dalam bentuk buku, cetakan pertama tahun 1979. Cetakan kedua dan ketiga, masing-masing tahun 1984 dan tahun 2000. Ini berarti penerbitan novel mendapat sambutan masyarakat Indonesia, terbukti laku di pasaran buku.
Tak usah lagi diperkatakan kalau di sana-sini ada saja kesalahan penulisan. Harap maklum dan semoga tak mengusik pembaca. Hanya menurut kita, di dalam buku, sepatutnya diturunkanlah kata pengantar dari penerbit. Apalagi dari penulis bahkan editor.
Ke-ada-annya bermanfaat bagi pembaca untuk mengetahui latar pikir, rasa dan kehendak, proses kreatif dan apresiasi kritikus. Terlebih akan memudahkan pembaca untuk dapat mendekati dan mendalami novel itu.
Barangkali luput dari perhatian sastrawan di Medan, kalau Ismail Marahimin ini, anak Medan. Dia lahir, sekolah dan bekerja di Medan. Lahir 25 April 1934. Pendidikan SD, SMP, SGA, PGSLP dan sarjana program studi Bahasa Inggeris. Sempat melanjutkan kuliah (1969-1971) di University of Hawaii. Pernah menjadi guru SMP Negeri, dosen IKIP Negeri dan editor majalah wisata Your Destination. Tak lupa, menulis di majalah Eksekutif, surat kabar Kompas dan Tempo.
Tak tahu mengapa, judul novel berubah dari aslinya “Tiga Lagu Dolanan”. Untungnya kemudian, novel ini mendapat Hadiah Sastra Pegasus (1984 atau 1986) dari Mobil Oil Amerika yang ada di Indonesia.
Terbit dalam berbagai bahasa, seperti bahasa Inggeris (1987), bahasa Jepang (1990) dan bahasa Belanda (1993). Begitu bertuah novel yang mungkin satu-satunya ini. Kita pun merasa perlu membaca ulang sekaligus mengapresiasi kekuatan dan kelemahannya.
Menurut hemat kita, kekuatan novel terletak pada cerita yang terkait dengan latar daerah, sejarah dan sosial. Latar daerah yakni cerita berpusat di barak pertahanan Jepang, Kampung Teratak Buluh, Sungai Kampar Kanan, Pekanbaru, Sumsel, Sijunjung, Sumbar dan Tokyo Jepang.
Cerita terus-menerus berlangsung seharian-semalaman. Menggunakan transportasi kereta api, perahu atau jalan kaki berjam-jam. Juga ada hubungan telepon jarak jauh Jepang-Indonesia dilakukan tentara.
Jauh di pedalaman, melintasi sungai,bukit, hutan, binatang buas, ada perkampungan sebagai tempat pelarian. Penduduk asli sekitar 100 orang, laki-laki dan perempuan. Kampung misteri ini bak disembunyikan penovel. Sedikit informasi, kecuali pendatang dapat menggauli wanita sesuka hati (lelakinya tak marah) sebab tiada ikatan perkawinan. Kalau sudah begitu, biasanya pendatang takkan pulang. Sebaliknya bila tak menggauli perempuan, maka pendatang bebas melenggang pulang.
Latar sejarah amat dominan dalam novel, terutama pada akhir penjajahan Jepang. Tentulah menjadi bagian sejarah perjuangan anak bangsa dalam merebut kemerdekaan negaranya.
Di markas barak pertahanan, ada Belanda interniran, bekas romusha dari Pulau Jawa dan wanita pelayan. Kecuali penduduk, semua menjadi tawanan,umumnya diperkerjakan secara paksa untuk kuasa dan kepentingan Jepang. Misal membangun jalan, benteng, barak, rel kereta api dan sebagainya.
Kalaupun disebut klimaks cerita adalah tatkala Tokyo mengumumkan, Jepang angkat bendera pada Sekutu dalam Perang Asia Timur Raya. Bom Amerika melumpuhkan kekuatan serta kekuasaan Jepang. Dampaknya, para perwira melakukan harakiri.
Politisnya, dikatakan perang telah selesai. Jepang hanya menjaga keamanan saja, hingga pihak Sekutu datang mengambil alih pusat kekuasaan di Indonesia. Jadi, Jepang bukan kalah, melainkan karena perang telah selesai.
Begitupun, tentara Jepang sempat mengejar tawanannya yang melarikan diri ke kampung misterius. Pengejaran terlambat. Kebetulan Pastor (Belanda), Kliwon (romusha), Lena (penduduk) tak ikut lari, lalu ditembaki. Ketiganya rubuh tak berkutik. Orangtua (Lena) yang melihat anaknya rubuh tak berkutik. Letnan Ose (komandan) pun tak berkutik ketika Satiyah-san (pelayan) tak ingin berpisah, meski barak akan dipindahkan.Tampaknya, kedua insan itu saling jatuh hati.
Latar sosial, terlihat baik di dalam maupun di luar markas. Di dalam markas, terbukti Kliwon bebas keluar-masuk barak. Haya, entah mengapa, prajurit Letnan Ose menembaknya. Hubungan tentara Belanda dan tentara Jepang bisa dikatakan baik, walau dalam status tawanan.
Di luar markasantara penjajah dan masyarakat setempat tak ada hubungan yang berarti. Mungkin saling menjaga atau menghindari permusuhan. Suasana kehidupan di kampung itu berjalan normal saja.
Satu segi, taktik Jepang menerima pekerja, lalu dialih menjadi romusha. Segi lain, romusha itu sendiri diberi makan, upah dan lainnya, sehingga tak melanggar Perjanjian Geneva. Kesan bahwa romusha kejam, sadis, tak berprikemanusiaan menjadi terbantahkan. Malah ibarat pekerja kontrak, diberi gaji, pergi dan pulang dijemput serta diperhatikan kesehatannya. Hal ini untuk menunjukkan, hubungan sosial pekerja dengan majikan dianggap berjalan sebagaimana biasanya.
Terlepas dari kekuatan novel, kelemahannya sangat signifikan. Pertama, soal cara bercerita. Penovel adalah orang ketiga, pelapor, peninjau, pencerita. Seperti wartawan biasa yang mengolah fakta, menggambarkan persitiwa secara berimbang.
Dalam prosa tak begitu. Harus ada titik fokus (perisiwa di dalam barak) lebih utama ketimbang penguat cerita (peristiwa di luar barak) sebagai sub pengayakan. Artinya, cara bercerita dapat membedakan fokus dan pengayakan cerita.
Kedua, soal jalan cerita. Terasa jalan cerita maju tidak mundur tidak, melainkan menoton. Hemat kita, kemonotonan terjadi, selain penovel menceritakan berbagai peristiwa secara seimbang, juga karena ketika menceritakan peristiwa baru, sering dikaitkan dengan peristiwa lama. Keseringan ini semacam menunda-nunda cerita berikutnya, bila tak diperhatikan dengan seksama justru dapat menghambat/memperlambat keingintahuan pembaca terhadap cerita berikutnya itu.
Ketiga, soal penokohan. Kalau ditanya, siapa tokoh novel ini? Jawab, tak ada! Atau semua pelaku adalah tokoh. Tidak juga. Sebab tokoh sebagai pengemban cerita sekaligus mengekspresikan karakternya. Sikap, tindakan dan ucapan harus muncul pada pelaku yang disebut tokoh itu. Malah makin detil ekspresi karakter, maka semakin jelas eksistensi tokoh dalam cerita. Dalam novel banyak pelaku, tetapi tak satupun diantaranya adalah tokoh yang sebenarnya tokoh cerita.
Kesimpulan kita, kekuatan novel ini telah mengantarkan Ismail Marahimin menjadi juara kedua, tetapi bukan juara pertama. Dipahami karena begitu terpesonanya dewan juri dengan penguasaan daerah, sejarah dan sosial pada akhir penjajahan Jepang. Kemudian, ditulis ke berbagai bahasa, Jepang, Belanda dan Inggeris, juga dipahami karena para pelaku berkebangsaaan Jepang dan Belanda. Pandangan lebih kepada unsur politisnya ketimbang unsur karya sastranya.
Penulis Kritikus Sastra, MPR-OOS, Ketua Fosad, Pengawas dan Dosen UISU










