Membaca Kisah Nyata The Miracle of Quran

DI dalam surat al-Hijr ayat 9, Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Kami-lah yang menu­runkan al-Quran dan Sungguh Kami benar-benar menjaganya.” Seperti apa Allah SWT menjaga al-Quran? Apakah ben­tuk penjagaan tersebut hanya dengan pemeliharaan al-Quran dari perubahan-perubahan isinya saja? Atau­kah ada bentuk penjagaan al-Quran yang lainnya?

Adalah buku “Keajaiban Itu Nyata” salah satu bukti nyata betapa Allah Swt memelihara al-Quran. Pemiliharaan tersebut bukan saja dari isi kandungannya saja. Pemeliharaan juga berlaku buat orang yang menghapalnya. Sehingga ketika mendapat musibah, ia tetap terjaga seperti terjaganya al-Quran dalam ingatannya.

Membaca kisah nyata Rian Fadhil Hidayah yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama ini bakal mem­buat kita berulang-ulang membaca tasbih. Kalau boleh dikata, apa yang dialami Rian menjadi penafsir dari firman Allah swt di atas. Dari sejak awal Allah menurunkan al-Quran untuknya dengan menjagakan dirinya mencintai al-Quran sejak kecil hingga akhirnya menjadi hafidz al-Quran. Saat sudah menghapal bebe­rapa juz lalu datang musibah yang me­ngenai kepala­nya, namun sedikitpun tak membuat hapa­lannya hilang. Di sini bukti keajaiban itu.

Tak tanggung-tanggung, dokter malah memprediksi Rian menjadi orang yang cacat dan bisu ketika operasi dan masih pemuli­hannya selama 13 hari berhasil. Operasi yang dilakukan adalah operasi penyelamatan dan pengangkatan pecahan daun pintu yang jatuh dari lantai 4. Meski santri yang menjatuhkan telah dikeluarkan dari Ponpes Darul Qur’an, tapi tulang tengkorak Rian hancur seluas kira-kira 4 x 8 cm. Bahkan ada serpihan kayu sepan­jang 2 cm yang menan­cap di otak kirinya. (hal. 77)

Tak seorang ahli medis pun yang men­duga Rian bakal selamat dan sehat seperti sedia kalanya. Seluruh ustadz, termasuk Ustad Yusuf Mansur, meyakini bahwa semua ini adalah the miracle of Qur’an. Di sinilah bukti nyata bahwa Allah yang mehidupkan dan mematikan manu­sia. Tak ada yang bisa melakukan selain-Nya.

Buku yang ditulis Rian sendiri ini, sebe­narnya, bakal menjadi menarik ketika penulis mampu memaparkan siapa saja tokoh yang menjadi sumber informasinya. Sebab, tak mungkin bila penulis tahu de­ngan sendiri ustad dan rekan-rekan yang membawanya ke rumah sakit dan menung­guinya selama operasi. Apalagi sampai tahu bahwa Ustad Yusuf Mansur mem­bacakan shalawat syifa di saat dirinya se­dang mengalami koma.

Meski ada kekurangan dalam hal tersebut, namun yang menjadi pelajaran lain adalah penulis mengingatkan pem­baca bahwa sabar dan ikhlas adalah kunci terbaik menjalani kehidupan ini. Plus, jangan pernah lupakan untuk senantiasa taat dan patuh kepada orang tua. Buat pembaca yang seusia penulis disarankan untuk memiliki dream. Bila sudah ada impian, jangan lupa berdoa dan bertindak dengan sungguh-sungguh. Sebab Success is not a destination, but it’s a journey.

Buku ini layak dibaca siapa saja. Tanpa pandang usia. Untuk yang masih muda, apa­lagi seusia penulis, buku ini menjadi motivasi menggapai cita-cita. Bagi para orang tua, bisa belajar seperti apa menjadi orang tua yang mampu membantu mewu­judkan cita-cita anaknya.

Peresensi: Rahmat Hidayat Nasution adalah Pengajar di FEBI UIN SU

()

Baca Juga

Rekomendasi