Oleh: Saurma. ADA dua kata, evaluasi dan kritik. Kalau Anda diminta untuk memilih, pasti Anda memilih kata pertama daripada kata kedua. Entah mengapa, kata pertama direspon positif sedang kata kedua dianggap sebagai sesuatu yang negatif dan dianggap akan menyerang seseorang. Apakah benar demikian?
Seorang rekan merasa kesal saat dirinya dikritik habis-habisan dalam suatu forum. Ia mengaku menyadari kesalahannya, tetapi ia merasa kesalahan tersebut tidak sepenuhnya kesalahannya sehingga ia merasa disudutkan dengan kritikan yang disampaikan kepadanya.
Memilih Evaluasi
“Sepatutnya saya tidak hanya disalahkan atas apa yang terjadi tetapi semestinya dievaluasi apa sebenarnya yang menyebabkan kekurangan itu. Sebab mustahil kekurangan satu tim ditimpakan kepada saya seorang. Ini kan tanggung jawab bersama. Saya juga sudah berbuat yang saya anggap baik tetapi memang saya juga ada lakukan sedikit kesalahan,” uneg rekan tersebut. Ia dengan lantangnya menyatakan ingin dievaluasi daripada langsung dikritik sebagai penyebab masalah.
Seperti juga seorang anak yang merasa marah dan kecewa karena disalahkan abangnya di hadapan sepupunya dan disebut sebagai anak yang bodoh akibat tidak mampu berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Inggris. Nilai bahasa Inggrisnya di sekolah memang kurang bagus. Tetapi untuk pelajaran matematika, sains dan IPA ia memiliki nilai sangat baik. Anak ini menganggap dirinya tidak patut disebut bodoh hanya karena kurang pintar menggunakan bahasa asing.
“Seharusnya saya tidak disebut bodoh hanya karena saya kurang pandai berbahasa Inggris. Pelajaran lain kan nilai saya bagus dan saya termasuk rangking 5 besar di sekolah,” serunya mengadu pada sang Ibu.
Bagian dari Evaluasi
Ya, banyak orang memaknai kritik sebagai sesuatu yang menjatuhkan, mempermalukan, menegaskan kesalahan dan kekurangan serta dimaksudkan untuk menyerang seseorang secara membabi-buta. Hal itu membuat banyak orang lantas alergi untuk dikritik. Padahal, kritik sebenarnya adalah bagian dari evaluasi. Bedanya, kritik umumnya hanya mengungkapkan kejelekan-kejelekan yang ada, sementara evaluasi menampilkan kejelekan tersebut bersamaan dengan kebaikannya.
Tetapi karena cara menyampaikan kritik seringkali dianggap kasar bagi yang menerima kritik. Hal ini membuat siapun yang menerima kritikan menjadi enggan mendengar dan cenderung menjauh bahkan menganggap si pengkritik sebagai musuh.
Bahkan, meskipun belakangan orang mengeluarkan istilah kritik membangun untuk menyatakan bahwa meski itu sebuah kritikan namun tidak dengan tujuan menghancurkan atau mempermalukan seseorang, tetapi tetap saja banyak yang alergi untuk dikritik. Bagi mereka, kritik tetap kritik, meskipun disebut-sebut kritik membangun justru adalah sebuah langkah agar orang yang dikritik menyadari kekurangannya dan mulai memperbaikinya.
Hal ini sangat berbeda dengan evaluasi yang dianggap cukup berimbang dimana letak kekurangan dan kelebihan seseorang dinyatakan berbarengan. Sehingga, secara psikologis membuat seseorang tidak perlu merasa terlalu bersalah, karena banyak hal baik yang sudah dilakukan juga diungkapkan. Dengan demikian, bagi yang sedang dievaluasi seakan-akan ada sesuatu yang otomatis telah mereduksi kejelekan atau kekurangan dan kesalahan dimaksud. Artinya, sebenarnya kesalahan atau kekurangannya tetap disampaikan tetapi tidak melulu kesalahan itu.
Komunikasi Kritik
Ya, cara menyampaikan sesuatu khususnya kritik ataupun evaluasi menjadi sesuatu yang menarik untuk kita amati. Betapa tidak, setiap waktu kita bisa saja menjadi seperti juri yang menilai apa saja yang melintas dalam kehidupan kita. Mulai dari masalah terkait diri kita pribadi, sekitar kita, masyarakat, bangsa, negara hingga dunia internasional. Semua tidak terlepas dari amatan kita hingga secara tidak langsung kita terpengaruh untuk memberi komentar.
Hal itu sebagaimana sering kita saksikan atau kita lakukan di media sosial yang kini menjadi sahabat utama manusia masa kini. Setiap kali ada sesuatu yang kita anggap menyenangkan ataupun menyedihkan dan mengganggu maka kita dengan cepat melakukan kritikan.
Cara kita mengkomunikasikan ketidaksukaan serta ketidakperkenanan kita terkadang spontan dan kasar, tetapi ada pula yang melakukannya dengan cara yang halus dengan menyindir namun bagi yang dikritik tetap saja dianggap sebagai sesuatu yang pedas dan menyakitkan untuk didengar.
Padahal, jika benar kritikan yang kita lakukan adalah kritik membangun tentunya kita tidak harus berbahasa yang kasar, tidak sopan dan merendahkan. Kita dapat memilih gaya komunikasi kritik yang lebih manusiawi sebagaimana bahasa evaluasi yang menimbang dari dua sisi dan membuat seseorang tidak harus antipati dan kehilangan muka akibat dipaparkannya kesalahannya.
Kemampuan melakukan gaya komunikasi kritik ini menjadi sesuatu yang patut dimiliki setiap pemimpin. Seorang pemimpin tentu menghadapi anggota yang memiliki kekurangan dan kelebihan. Jika sang pemimpin selalu kasar dalam menyampaikan kekurangan anggotanya, maka mereka bisa menjadi kesal dan kecewa bahkan marah seperti rekan dan anak sekolah tadi.
Sehingga, bagi setiap pemimpin yang bijaksana harus mau memperhatikan realitas yang ada. Sederhana saja, mari kita tanyakan diri kita sendiri. Apakah kita bisa menerima saat kita dipersalahkan atas sesuatu di hadapan orang lain? Jika tidak, orang lain juga pasti demikian sehingga tidak pantas untuk kita lakukan.
Sebab itu, pilihan gaya komunikasi kritik dengan evaluasi menjadi penyejuk untuk menjadikan seseorang menyadari kesalahannya dan mulai mengubahnya untuk menjadi lebih baik. Demikian pula komentar-komentar kita di media sosial, daripada cuma mencak-mencak tidak menentu, kenapa tidak membuat evaluasi atas persoalan yang ada sehingga siapapun bisa menerimanya. Bagaimana menurut Anda?
“...pilihan gaya komunikasi kritik dengan evaluasi menjadi penyejuk untuk menjadikan seseorang menyadari kesalahannya dan mulai mengubahnya untuk menjadi lebih baik...”











