Dia Juga Ingin Bahagia

Oleh: Dian Tiara

Setiap lekukan dan liukan tubuhnya mengalir bulir-bulir peluh dari surga. Dan di taman ini, tempat mentari ragu untuk bersinar digantikan kunang-kunang yang berkelipan seirama dengan dentingan es dalam gelas. Mereka senggugukan ketika Martin berjalan menyusuri tenggorokan yang haus akan sentuhannya-sekali lagi kami teguk nikmat firdaus. 

***

Perempuan sama halnya seperti putri malu, apabila disentuh ia akan layu kemudian kembali mekar tanpa ada beban apapun. Kebahagiaan seorang perempuan adalah ketika tiba masanya akan ada seorang pria yang akan mendampinginya. 

***

Bukan hanya semalam kubuka lembaran kelam yang mengelilingi hidup. Selama hampir 10 tahun kugeluti dunia imajinasi. Setiap saat hanya pikiran buram yang terbayang sebelum ku terlelap. Bahkan mimpi itupun datang sesuai dengan khayalan yang telah kucipta. Sesungguhnya aku lelah. Bukan hanya otak dan tubuhku tetapi hati yang terkadang menjerit rasanya sulit karena aku telah terikat oleh imaji yang kini mengontrol perjalanan hidup. Aku, tentang tokoh-tokoh liar yang kuciptakan. Bagaimanapun aku berusaha keras untuk melepaskan diri, maka semakin dalam juga aku terpenjara dalam ilusi yang kubuat. Sudah terlampau jauh aku mengikat diriku dengan permainan dimana akulah sang sutradara sekaligus pembuat cerita. Akulah wadah permainan itu, setiap suasana yang tercipta adalah gambaran imajiku. Aku tidak tahu sampai kapan aku harus menjalani permainan ini yang semakin hari membuatku menjadi budak dari khayalan sendiri. Aku ingin lepas. Sungguh aku ingin bebas. Ingin kurasakan beban yang selama ini kubuat hilang. Ingin kurasakan diriku yang sebenarnya.

Aku seorang perempuan terpenjara. Udara yang kuhirup adalah udara neraka. Di bawah cahaya lampu malam aku adalah perempuan pemasang ranjau. Sewaktu-waktu ranjau itu akan menghancurkanku. Itu pasti, hanya saja kapan ia akan kupijak aku tak tahu. Aku seorang perempuan pendusta. Setiap kata yang kulontarkan adalah kebohongan untuk menutupi kebusukan yang kusimpan selama bertahun-tahun.

***

“Rat, mau sampai kapan kau diam saja,hah? Ayolah jangan seperti itu.”. 

Dasar lelaki tua. Ingin rasanya kuhilangkan orang seperti dia dari dunia ini. Cih! Lihatlah tampang busuknya.”Aku benar-benar lelah. Lagi pula hari ini libur. Lain kali saja bagaimana?” Seperti biasa kusunggingkan senyum saat berbicara padanya. Itulah kelebihanku sebagai seorang perempuan. Pria manapun akan luluh jika disuguhi dengan senyuman-palsu.

“Baiklah. Tapi kau harus janji.” Aku hanya menganggukkan kepala dan ia pun akhirnya pergi. Kuhirup udara sebanyak-banyaknya begitu ia keluar dari ruangan 3 x 4 ini. Busuk. Itulah yang tercium oleh inderaku. Tubuh ini. 

Kuambil sepuntung rokok yang tadinya kuhisap saat bersama pria itu. Asap memenuhi ruangan kecil yang kutempati saat ini. Hanya hal ini yang bisa kulakukan dalam keheningan, dimana hanya ada aku dan sisi wanitaku. 

Kulihat wanita dan pria dalam figura itu sedang tersenyum tanpa ada beban apapun. Senyum yang indah. Aku bahkan lupa bagaimana caranya tersenyum dalam arti yang sebenarnya. Kutelan liurku dengan susah payah saat jantungku berdetak tak stabil, bahkan cengkraman tangan dibagian kiri kemeja putih milikku ini semakin menegang. Tubuhku rasanya menggigil, tapi aku tak kedinginan. Keringat mengucur melalui dahiku yang lebar dan terus ke bawah. Oh Tuhan, apa yang terjadi denganku. Rokok ini tidak berguna. Sesak. Sulit sekali untuk bernafas. Krieeet. Kualihkan pandanganku saat pintu terbuka. Mataku tetap saja waspada untuk mengetahui siapa orang yang tidak tahu diri seenaknya saja masuk ke kamarku. Selang beberapa terlihatlah kepala menyembul dari balik pintu. Oh, ternyata dia. Putri yang baru saja bergabung menjadi salah satu anggota keluargaku. Dia berjalan mendekatiku sambil meremas ujung gaun di atas paha yang ia kenakan. Aku mendecak kagum betapa ia sangat cantik mengenakan gaun berwarna peach itu. Tidak salah aku membawanya kemari. Untuk sejenak kustabilkan aliran pernapasan dan kuletakkan foto itu dalam laci meja rias lalu kupandang wajah polosnya.

“Oh, ternyata kau. Bagaimana, hm ?”

“Ini, bun.” Ia menyerahkan sebuah kertas dengan tangan gemetar. Kontan saja mataku melotot melihat apa yang ada di kertas itu. Fantastis. Aku tersenyum bangga terhadapnya dan kurangkul ia untuk duduk disampingku.

“Kerja bagus. Sudah kuduga kau akan berhasil.” Ucapku sambil mengusap bahunya dengan lembut, iapun tersenyum. Kurasa ia sudah mulai menyesuaikan diri. Awal yang bagus.

“Oya, bagaimana perasaanmu ? Menyenangkan bukan ?” Ia hanya menganggukkan kepalanya dan menatap lurus mataku tanpa ada rasa takut seperti tadi. Sudah berani dia, ya.

“Itu luar biasa bunda, ku kira akan menyakitkan tapi justru sebaliknya.” 

“Baguslah, kau pasti akan semakin menikmatinya. Cobalah ini.” Kuberi ia sebatang rokok yang tadinya kuletakkan di atas meja. Awalnya ia tampak ragu untuk mengambilnya tapi setelah beberapa saat iapun mengambilnya. Kami tersenyum bersama layaknya ibu dengan anaknya sendiri. Bukan hanya kami berdua yang tertawa, tetapi mereka juga tertawa di atas ranjang mereka.

Malam ini dewi - dewi telah datang dalam hidupku memberikan jutaan kali kebahagiaan yang berlipat ganda. Bukan hanya malam ini, tetapi malam yang lalu dan berikutnya, mereka akan membawakanku bulan. 

***

“Bunda, aku butuh pakaian baru. Ayo kita belanja, uhm.” Rina bergelayut manja di lenganku sambil memasang wajah memelas agar akau mau membelikannya pakaian baru. Dia adalah salah satu anakku dari 7 orang anak yang kumiliki. Ia memiliki mata sayu yang jika ia tersenyum akan membentuk lengkungan sabit dengan bola mata jernih di dalamnya. Sungguh mata itu benar-benar indah. Entah berapa banyak pria yang sudah terperangkap dimata itu. Luar biasa. Aku memiliki anak-anak yang seperti seorang dewi. Haruskah kubersyukur.

“Baiklah ayo kita belanja, ajak juga adik-adikmu yang lain. Hari ini kita libur.”

“Mereka semuanya ?” Matanya menyipit saat ia mempertanyakan hal itu. Aku hanya mengenggukkan kepala sebagai tanda iya.

“Uuhh, kukira hanya antara ibu dan anak.”

“Mereka kan adik-adikmu.”

“Iya, iya”, ucapnya berlalu sambil mengecup pipi kananku lalu pergi ke kamar adik-adiknya. Rina adalah anak tertua jadi wajar saja kalau aku sangat mengandalkan dia. Usianya sekarang sudah genap 27 tahun, tapi ia semakin menawan di usianya yang matang itu. 

Kadang saat aku tengah sendirian, sempat terpikir olehku bagaimana mereka melangsungkan kehidupan nantinya. Dari luar mereka adalah wanita seperti biasanya bagi orang-orang yang tidak mengenal mereka. Tetapi bagi orang yang mengenal, mereka adalah teman kelamin - kelamin nakal para kucing malam. Ingin rasanya aku hidup layaknya manusia normal. Tapi aku ingkari perasaan itu, karena hidup seperti ini adalah jalan hidupku. Ya, jalan hidupku yang berbeda dari jalan hidup mereka.

“Bun, ayo. Mau sampai kapan duduk disitu.” Teriak Anin membuyarkan segala lamunanku tentang mereka. Langsung saja aku berdiri dan menghampiri mereka yang sudah berdiri di depan pintu siap untuk berangkat. Kamipun pergi dengan mengendarai mobil yang selalu mengantar mereka pergi bekerja jika tidak ada yang mau menjemput. Mobil inilah yang menjadi saksi betapa kami memuja tubuh indah ini. Tapi kali ini kuberharap, biarkanlah kami berjalan tanpa ada orang-orang itu yang mengetahui.

Hari ini sang dewi menjelma menjadi manusia yang seutuhnya. Bersama dengan itu mereka merekah walau mahkota sudah terjamah. Tubuh selagi utuh, mayang.

***

“Aku ingin hidup bersamanya. Biarkanlah aku pergi mengikutinya. Aku mohon. Aku menyayanginya.” Kata-kata itu. Air mata itu terus saja mengalir dari mata indah miliknya. Sabit itu telah tertutup oleh awan hitam. Tangannya menggapai tubuhku dan menyandarkan kepalanya dipundakku. Dapat kurasakan tubuhnya gemetar seiring dengan air mata yang tiada hentinya. Aku hanya diam. Tidak ingin merespon, baik dengan ucapan ataupun bahasa tubuhku. Semuanya serasa kaku dan kosong disaat bersamaan. 

“Tolonglah, lepaskan aku dari duniamu. Aku ingin hidup, bunda. Tolonglah.” Suaranya kembali terdengar. Rapuh. Itu yang kurasakan, dibalik suaranya yang bergetar. Tapi aku tidak ingin melepaskannya. Dan tidak akan kulepaskan.

“Kembali ke kamarmu.”

“Bunda, aku..”

“Kembali sekarang!” Kutinggikan suaraku saat menyuruhnya masuk ke kamar. Ini pertama kalinya aku membentaknya. Dia anakku yang sekarang menunjukkan bahwa ia memang bukan anakku. 

Egoku memang telah menguasai tubuh dan segala pikiranku sejak orang itu menghancurkan hidup orang-orang yang kusayangi. Tinggal di tengah kota besar adalah impianku. Sekarang itu semua sudah terwujud dengan aku menjadi bagian lampu malam kota besar ini. 

Kubuka pintu kamar Rina dengan sangat pelan hingga tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Ia sedang meringkuk dibalik selimut. Punggunggnya bergetar, aku tahu ia masih menangis. Di selimut itu ia tertawa dan juga menderita.

“Berhentilah menangis.” Suaraku membuatnya terkejut dan langsung membalikkan tubuhnya untuk menghadap kearah pintu tempatku berdiri. Astaga, mata itu tak lagi bercahaya. Sedalam itukah ia terluka. Melihatnya seperti melihatku 10 tahun yang lalu. Mata bengkak dan wajah pucat. Aku tidak tahan lagi. 

Walaupun dia bukan darah dagingku tapi aku sangat menyayanginya bukan hubungan antara bos dengan bawahan. Sebiadab apapun aku telah memperkosanya untuk menjadi salah satu tokoh dalam drama hidup yang kubuat, dia adalah anak yang telah menghidupiku selama bertahun tahun.

Kudekati ia yang telah duduk di atas tempat tidur lalu kusingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah indahnya. Sakit. Terdapat luka yang sangat dalam di wajahnya. “Apa kau benar-benar ingin pergi?” Suaraku memecah keheningan yang tercipta di antara kami berdua. Ia menatap lalu menganggukkan kepalanya dengan ragu. 

“Apa kau yakin dia akan menerimamu apa adanya?” Sekali lagi ia hanya menganggukkan kepala sambil menatap ke bawah. 

“Aku bertemu dengannya 6 bulan yang lalu.” Sesaat aku terhenyak mendengar suara serak yang mencoba menceritakan segalanya tentang orang yang membuatnya pergi meninggalkan dunia hitam ini.

“Dia orang yang sederhana. Saat itu aku sedang bekerja melayani klien yang datang atas permintaanmu. Klienku itu melecehkanku dengan menciumku didepan umum saat kami makan bersama. Aku tahu itu wajar, karena itu memang tugasku. Tapi aku malu. Sungguh, aku sangat malu. 

Walaupun aku bukan wanita baik-baik, setidaknya aku ingin menjadi baik dihadapan orang banyak. Aku ingin hidup seperti wanita lainnya.” Lagi-lagi air mata itu turun dari mata sayu miliknya. Sebelum ia melanjutnya pembicaraan yang sempat terputus karena air mata itu turun, ia menarik nafas lalu membuangnya kasar. 

“Dia menamparku. Perih dan panas menjalar di pipi. Tapi itu tidak seberapa dengan sakit yang kurasakan di hati, saat mata orang-orang yang ada ditempat itu menatapku dengan tatapan merendahkan.” Suaranya meninggi dan bergetar. Aku bisa merasakan sakit yang dirasakannya, karena aku juga pernah mengalami bagaimana rasanya direndahkan oleh orang lain. “Aku pergi dari tempat itu. Aku bisa mendengarnya saat bajingan itu memanggilku jalang dan mencercaku dengan berbagai umpatan. Kau tak tahu bagaimana rasanya kan? Sempat terpikir 

(Bersambung ke hal. 34)

()

Baca Juga

Rekomendasi