Feminitas Dalam Novel "Looking For Alaska"

Oleh: Sartika Sari. Pada bagian ini, saya me­lakukan analisis atas ambiguitas sikap tokoh perempuan yang bernama Alaska. Dalam novel Looking For Alaska dengan meng­gunakan dekonstruksi Der­rida.

Pemilihan ini berdasarkan per­timbangan metode, untuk mene­mu­kan ambiguitas sikap tokoh, paling mengena. Derrida menem­patkan teks sebagai karya filo­sofis.  Yakni, membaca dengan cara melacak struktur dan strategi pembentukan makna di balik tiap teks itu. Antara lain dengan jalan membongkar sistem perlawanan-perlawanan utama yang tersem­bunyi di dalamnya. Serta, secara terus menerus melakukan pem­bong­karan, mencari makna ‘ke­cil’, ‘perlawanan’ yang terpen­dam dalam teks.

Dengan cara ini saya akan men­coba keluar dari konsep opo­sisi biner melalui penelusuran dan pembongkaran makna. Untuk  me­nunjukkan bagaimana sikap, perkataan dan kebiasaan tokoh Alaska menimbulkan ambiguitas. Saya memilih tokoh Alaska dalam novel Looking For Alaska yang ditulis pada tahun 2005, tertarik pada karakter tokoh Alaska, dikons­truksikan John Green.

Alaska dan Culver Creek

Alaska, tokoh perempuan idealis. Senantiasa memberontak sistem patriarkat yang ada di seki­tarnya. Selalu berusaha memba­ngun citra tubuh sebagai perempu­an seksi dan sensitif pada persoal­an gender.

Novel Looking For Alaska me­ngisahkan tentang persahabatan Alaska dengan Miles Halter. Juga siswa yang berasal dari Florida, Chip Martin dari California, dan Takumi dari Jepang. Mereka ber­sekolah di sekolah asrama Culver Creek di selatan Birmingham, Alabama. Di sekolah itu, ada dua jenis grup. Yaitu anak-anak as­rama biasa dan ada Weekday War­riors. Merupakan anak-anak orang kaya, tinggal di Birmingham dan pulang ke mansion ber-AC milik orang tua mereka tiap akhir pekan. Mereka kelompok anak-anak keren.

Persahabatan Miles (dipanggil Pudge), Chip (dipanggil Kolonel). Alaska dan Takumi tumbuh di lingkungan asrama yang memiliki banyak peraturan dan keberaga­man. Pudge adalah anak baru. Ketika dia datang, dia mendapat Kolonel sebagai teman sekamar­nya. Kemudian bersama Kolonel, dia dikenalkan pada Alaska dan Takumi. Dalam persahabatan me­reka, Alaska dapat dikatakan sebagai pemegang kendali. Dia se­lalu memiliki misi dan rencana khusus untuk menyerang grup orang kaya. Alaska gadis jahil dan cerdik. Selain itu dia juga cantik dan seksi.

Konflik-konflik persahabatan mereka kemudian dibangun dari berbagai kelakuan, termasuk me­la­kukan pelanggaran. Di Culver Creek, ada beberapa pelanggaran terparah.

Berbaring dalam keadaan te­lanjang di tempat tidur (kontak genital menjadi pelanggaran pertama). Mabuk dan menghisap ganja. Alaska, penyimpan rokok dan alkhohol terbanyak. Dia se­lalu tak kehabisan cara untuk me­nyembunyikannya. Hampir seti­ap malam, dia memimpin per­mai­nan untuk menunaikan pe­lang­garan-pelanggaran. Paling se­ring mabuk dan sesekali mela­kukan seks.

Alaska memimpin strategi un­tuk kabur dari asrama dan me­nikmati candunya. Termasuk ba­gaimana mengecoh  Mr. Starnes, dekan yang tinggal di asrama mereka agar tidak dikenai hukum­an.

Di antara ketiga laki-laki itu, Alaska ditempatkan pada posisi yang istimewa. Da paling cantik dan selalu jadi pusat perhatian. Alaska gemar berpakaian seksi. Lincah dan bersahabat dengan (lebih banyak) lelaki adalah pe­rempuan yang juga senang meng­ucapkan semangat-semangat fe­minisme. Dia sangat emosi apa­bila teman-teman dan orang di se­kitarnya memandang rendah kaum perempuan. Alaska bisa langsung menjerit dan menyang­gah habis-habisan siapa pun ter­dengar menyinggung kaumnya. Persahabatan mereka berlang­sung dalam rutinitas yang demiki­an, dan berakhir ketika Alaska di­temukan meninggal dalam ke­celakaan lalu lintas.             

Tubuh dan Femininitas

Tubuh sebagai sesuatu yang lebih dari wadah Diri. Diri ber­tubuh sedemikian sehingga wa­cana mengenai tubuh bukanlah semata-mata melihat tubuh dalam kapasitas ragawi. Lebih pada ba­gaimana “kenyataan” fisik itu me­rupakan bagian tak terpisah­kan dari keseluruhan Diri perem­puan (Battersby dalam Priyatna, 2014:81).

 Dalam Looking For Alaska, fenomena tubuh dan Diri Alaska mengonstruksikan sosok dirinya. Sebagai perempuan di tengah am­bivalensi  dan kuantitas laki-laki yang mendominasi. Kendati de­mikian, Alaska berusaha resisten dengan memperkuat keberadaan dirinya melalui ketegasan sikap dan perkataan.

Oh tidak, kau baru saja meng­ejek gender/ akan kupukul bokong­mu lalu memasukkanmu ke blen­der. Kau pikir aku suka Tori dan Ani jadi rimaku tak mahir.

Alaska melawan pemikiran-pemikiran patriarkat yang dilekat­kan pada perempuan. Ketika dia mendengar temannya membica­rakan tubuh perempuan sebagai objek, Alaska semakin tidak terima. Diam-diam Alaska juga menjadi perbincangan antara Kolonel dan Pudge. Mengenai keseksian tubuh, gaya berpakaian dan sikapnya yang kadang-ka­dang sangat genit. Tanpa sepenge­ta­huannya, selama ini penampilan dan sikap Alaska sendiri sangat mengundang perbincangan para laki-laki. Termasuk Kolonel dan Pudge, anak yang baru saja me­ngenal Alaska. Kenyataan ini sa­ngat paradoks dengan fakta-fakta yang dibangun Alaska melalui ucapannya. Dia menolak keras pandangan laki-laki terha­dap tubuh perempuan. Dia selalu menarik perhatian dan mengun­dang perbincangan melalui ke­seksian tubuhnya. Dia berdiri dan berjalan ke jendela lalu mem­bung­kuk untuk merayap keluar “Jangan lihat bokongku,” katanya.

Kutipan ini kembali menun­jukkan, Alaska tidak ingin tu­buhnya dijadikan objek pengli­hatan. Meski dalam kondisi yang  mengharuskan Pudge melihat bokongnya-karena hendak me­ng­i­kuti cara Alaska keluar dari kamar siswa lain. Tindakan Alaska dengan mendahului Pud­ge dan mengucapkan kata lara­ngan. Di sisi lain telah menyirat­kan, Alaska sebenarnya sadar kalau tubuhnya akan atau sedang dilihat Pudge.  Alaska tetap mela­kukan itu. Setengah jam kemu­dian aku terbangun ketika dia du­duk di ranjangku, bokongnya menyentuh pinggulku.

Dalam kutipan di atas, Alaska sengaja duduk di ranjang Pudge dengan gayanya yang menggo­da. Pudge pun merasa kedekatan yang lebih dengan tubuh Alaska, hingga naluri seksualnya bangkit. Alaska sudah menjadikan itu se­bagai bagian dari kebiasaannya kalau masuk ke kamar Pudge. Pada posisi itu, tentu saja Alaska bukan menjadi objek, namun telah menjadi subjek yang me­manfaatkan peluang keberada­annya. Meski Pudge terkesan be­gitu menikmati tubuh Alaska, Alaska pun sebenarnya pada po­si­si yang menguntungkan karena bisa melampiaskan hasrat kebe­basannya sebagai perempuan.

Berdasarkan kutipan-kutipan dan analisis yang saya paparkan, perkataan Alaska kerap disan­ding­kan dengan sikapnya yang se­cara gamblang menimbulkan ambiguitas. Alaska selalu me­nyua­­rakan feminisme, namun si­kapnya justru mengundang ter­jadinya tindakan-tindakan pe­man­faatan atas diri perempuan.

Keambiguitasan sikap Alas­ka ini menurut asumsi saya, bu­kan bertolak belakang dengan kon­sep perkataannya. Sikap Alas­ka yang demikian justru men­jadi strategi penguatan atas femininitas. Pilihan sikap Alaska didasari oleh kemauannya sendi­ri, maka pada posisi itu ia telah melanggengkan perkataan-per­kataannya sendiri. Alaska mene­gakkan feminisme melalui ke­am­biguan sikap. Pilihan ini se­kaligus menjadi bentuk kecerdi­kannya untuk menyiasati keada­an agar tetap menguntungkan.

Strategi Penguatan Femininitas

Konstruksi gender, menem­patkan perempuan dalam wila­yah domestik turut  direpresen­tasikan dalam teks. Alaska, se­orang gadis, berusaha memba­ng­un  citra diri sebagai seorang feminis. Menjunjung hak-hak dan kebebasan perempuan, sa­ngat sensitif dengan persoalan gen­der.

Alaska memutuskan untuk membantu Dolores memasak ma­kan malam. Menurutnya diskrimi­natif menyerahkan urusan masak-memasak pada perempuan. Le­bih baik menikmati makanan dis­kriminatif yang lezat daripada makanan payah yang dimasak laki-laki. 119

Alaska menentang diskrimina­si dan pemosisian perempuan pada wilayah domestik. Sikapnya se­cara terbuka melanggengkan prak­tik yang dia gugat sendiri. Sikap Alaska demikian kembali menim­bulkan ambiguitas. Jika memang menjadikan memasak sebagai ak­tivitas membahagiakan perempu­an, tentu semestinya tidak ada per­nyataan diskriminatif pada bagian awal. Diganti dengan cara berpikir lebih energik untuk melanggeng­kan aktivitas sebagai bagian dari kepemilikan hak-hak perempuan.

Kendati demikian, saya me­nang­kap itu adalah strategi Alaska untuk memperkuat femininitas yang dia junjung. Dengan menge­luarkan argumen, dia lebih baik me­nikmati makanan yang diskri­mi­natif daripada makanan payah yang dimasak laki-laki. Sebenar­nya Alaska telah menempatkan la­ki-laki pada posisi paling ‘tidak diinginkan’. Pernyataan yang pa­radoks, namun ampuh sekali untuk menaikkan citra perempuan yang senantiasa dia cita-citakan.

Perempuan seharusnya tak bo­leh bohong tentang perempuan la­in! Kau sudah melanggar perjan­jian suci antarperempuan!”

Kata-kata itu diucapkan Alaska karena emosi pada Sara. Sara di­anggap membohongi Jake, pacar Alaska tentang kedekatan Alaska dan Kolonel. Sebagai perempuan yang menjunjung feminisme, Alaska sudah menanamkan sema­ngat solidaritas yang tinggi antar­perempuan. Paling tidak, melalui ucapan-ucapannya. Dia sangat ke­sal ketika Sara telah mengingkari semangat solidaritas tersebut.

Tindakan Alaska terbukti, dia memiliki semangat solidaritas tinggi terhadap sesama perem­puan. Dia membantu Lara untuk mendapatkan keinginannya. Pada kenyataan selanjutnya, pemikiran-pemikiran Alaska tentang solida­ritas ini disambung dengan sikap yang berbeda.

“Jujur atau tantangan?”

“Jujur.”

“Bercumbulah denganku.”

 Jadi aku melakukannya.

Alaska sudah mengetahui ka­lau Pudge adalah pacar Lara. Te­man sebelumnya dia bantu untuk mendekati Pudge. Alaska juga sudah memiliki Jake, pacarnya yang sedang bersekolah di Vander­bilt. Dia tetap berciuman dan ber­hubungan seks dengan Pudge. Dia bercumbu dengan Pudge, mela­ya­ni nafsu seksual Pudge. Pada akhirnya, sikap Alaska telah  dira­sakan Pudge sebagai bentuk per­selingkuhan.

Sikap Alaska, jika dimaknai se­cara normatif tentu berujung pa­da pengingkaran atas perkataan-perkataannya sendiri tentang so­lidaritas. Alaska akan dianggap se­bagai perempuan tidak konsisten dengan semangat feminis yang da umbar. Jika dimaknai dari sisi lain, sikap Alaska adalah bentuk stra­tegi dari pelanggengan jiwa fe­minisnya. Alaska sudah lama ti­dak bertemu dengan Jake dan has­rat seksualnya tidak terpenuhi.

Dengan permainan, tantangan atau jujur, Alaska mendistribu­sikan dua visi. Pertama, dia bisa me­lampiaskan hasrat seksualnya pada Pudge. Kedua, dia tetap men­jaga solidaritas antar perempuan, karena konteks hubungan yang dia lakukan dengan Pudge adalah permainan. Sebatas pemenuhan aturan bermain, siapa yang me­nantang dan menjawab tantangan.

Dari kedua kutipan ini, Alaska berhasil membangun ambiguitas. Dengan mudah dapat menjebak mun­culnya makna tunggal dan penghakiman ketidakkonsistenan ucapan dan sikapnya. Jika dimak­nai lebih dalam, dengan kacamata dekonstruksi, keambiguitasan di­bangun Alaska adalah caranya memperkuat pertahanan feminini­tas. Di balik sikapnya yang tampak mengingkari perkataan, Alaska me­nyelipkan upaya-upaya untuk melanggengkan pemikirannya. Sebuah strategi yang berbeda.

Penulis; Mahasiswa Pascasarjana Universitas Padjadjaran

()

Baca Juga

Rekomendasi