Oleh: Komang Jaka Ferdian, S.IP
Bumi tidak membutuhkan manusia, akan tetapi manusia membutuhkan bumi. Penggalan kalimat tersebut mencerminkan bahwa sesungguhnya manusia belum menyadari bahwa krisis lingkungan adalah krisis paling berbahaya di abad-21 selain krisis ekonomi dan krisis politik. Perubahan iklim akibat kerusakan lingkungan semakin terasa akibat tindakan manusia yang secara sporadis mengeskploitasi alam, hanya demi keuntungan semata. Tanpa pernah menghiraukan kerusakan-kerusakan yang akan ditimbulkan.
Perubahan iklim terjadi akibat adanya sikap apatis, egois, dan muris yang dilakukan manusia terhadap alam. Menurut data yang dirilis United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) mengatakan 90 Persen perubahan iklim yang terjadi saat ini akibat aktivitas manusia. Ketergantungan manusia terhadap energi bahan bakar yang berasal dari fosil (minyak bumi, batu bara, dll) menimbulkan efek gas rumah kaca dan mengakibatkan pemanasan global.
Pemanasan global ini mengakibatkan peningkatan suhu bumi yang berasal dari gas emisi. Gas-gas yang dimaksud antara lain Karbondioksida (CO2), Nitrogen monoksida (NO), gas Metana dan Cloroflorocarbon (CFC). Pemanasan global terjadi karena peningkatan gas tersebut yang dihasilkan dari kegiatan manusia. Industri yang menggunakan mesin-mesin produksi berbahan bakar fosil menghasilkan asap-asap yang mengandung gas-gas berbahaya. Gas berbahaya yang dihasilkan dari kegiatan industri tersebut tidak dapat keluar lapisan bumi dan mengakibatkan terjadinya efek rumah kaca.
Dampak pemanasan global
Bumi kita saat ini mengalami degradasi parah akibat prilaku manusia. Pemanasan global memiliki berbagai dampak buruk bagi kehidupan manusia. Salah satunya adalah gelombang panas yang terjadi di negara Italia beberapa waktu lalu. Pemandangan yang mengejutkan di pinggir pantai Italia terdapat mobil yang di parkirkan meleleh akibat suhu yang mencapai100 fahrenheit atau 37°C. Selain melelehnya mobil yang di parkirakan, gelombang panas yang terjadi di negara Italia setidaknya merenggut nyawa 140 warga karena terjadinya peningkatan suhu yang sangat fluktuaktif.
Selain Italia, terdapat berbagai negara yang mengalami gelombang panas pada tahun 2013 antara lain Australia, Jepang, Mesir, India, India dan Amerika Serikat. Dari negara-negara tersebut, yang paling merasakan gelombang panas yaitu Australia. Rata-rata suhu yang tercatat mencapai 40.3°C.Hal ini terjadi akibat adanya peningkatan konsentrasi emisi gas rumah kaca yang mencapai level tertinggi pada tahun 2012. (World Meteorological Organization)
Tragedi-tragedi tersebut merupakan dampak yang langsung dirasakan oleh manusia akibat kemarahan bumi. Adapun dampak yang tidak langsung dirasakan oleh manusia, dan terkadang manusia tidak merasakan perubahannya, yaitu peningkatan permukaan air laut. World Meteorological Organization (WMO) melaporkan bahwa permukaan air laut melalui pengukuran satelit sejak tahun 1993, mengalami peningkatan sebanyak 3,2 milimeter per tahunnya. Sehingga apabila dikalkulasikan hingga tahun 2016 permukaan laut meningkat sebanyak 73,6 milimeter. Hal ini dipicu oleh mencairnya lapisan es dan gletser yang ada di benua Arktik akibat efek rumah kaca.
Pada benua Arktik, luas permukaan es mengalami penurunan yang sangat tinggi. Luas rata-rata permukaan es di Arktik pada periode 1981-2010 menurut National Snow and Ice Data Center, lembaga milik pemerintah Amerika mengalami penurunan yaitu dari 500.000 Km² menjadi 15,13 juta Km². Penguatan data tersebut didukung oleh penelitian dari University of Colorado-Boulder menyimpulkan bahwa lapisan es yang berumur lebih dari empat tahun berkurang 15 Persen, periode tertinggi terjadi pada tahun 1984 yang mencapai 18 Persen menjadi hanya 3 Persen pada tahun 2013. Inilah yang menjadikan bukti bahwa pencairan es di Arktik menyebabkan kenaikan permukaan air laut.
Dampak dari pemanasan global bukan hanya dirasakan oleh manusia saja, akan tetapi hewan juga merasakan dampak pemanasan global. Organisasi peduli lingkungan dunia yaitu Greenpeace mencatat bahwa populasi mamalia di Afrika mengalami penurunan mencapai 59 Persen. Hal tersebut dampak dari hilangnya habitat hewan di Afrika. Peningkatan suhu mengakibatkan banyaknya hutan yang terbakar sehingga berakibat pada hilangnya habitat para hewan. (Mongabay, 22/12/2013)
Pengurangan pemanasan global dan revolusi energi
Perkumpulan negara yang berjumlah 120 negara menyatakan kesepakatan menandatangani perjanjian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memerangi pemanasan global. Penandatanganan perjanjian tersebut akan dilaksanakan di kota New York pada tanggal 22 April 2016. Penandatangan perjanjian ini tepat dilaksanakan pada hari Bumi. Entah di sengaja atau tidak, peringatan hari bumi akan menjadi momentum dimana manusia akan memerangi penggunaan energi yang berbahaya bagi bumi.
Perjanjian ini nantinya berisikan draft yang mencapai 32 halaman. Dalam penerapannya, PBB memaksa negara-negara kaya setidaknya untuk mengumpulkan dana sebesar US$ 100 miliar atau sekitar Rp. 1.313 triliun per tahun dalam bentuk bantuan mengurangi pemanasan global. Negara-negara yang sepakat untuk melakukan pandatanganan perjanjian tersebut yaitu Amerika Serikat, Cina, India, Uni Eropa, hampir semua negara-negara Afrika, dan sebagainya.
Selain perjanjian tersebut, organisasi-organisasi yang bergerak di bidang Lingkungan melakukan penelitian-penelitian untuk menghasilkan revolusi energi terarukan. Berbagai penelitian serta pengembangan untuk teknologi bersih telah dikaji untuk mengatasi permasalahan pemanasan global. Berbagai macam penelitian dan uji coba telah dilakukan untuk mendapatkan energi yang tidak berasal dari bahan bakar fosil. Adapun pemanfaatan energi lain dilakukan seperti pemanfaatan angin, matahari, air dan lain-lain. Hal ini dilakukan untuk mengurangi pemanasan global.
Revolusi energi terbarukan nantinya tidak menggunakan biaya besar seperti energi yang berasal dari bahan bakar fosil. Greenpeace di Indonesia, memulai penelitian untuk menghasilkan revolusi energi terbarukan pada tahun 2011. Greenpeace membangun Pembangkit Listrik Hybrid Tenaga Surya dan tenaga angin di Pulau Mansiam, Papua Barat. Greenpeace meyakini Pembangkitan listrik dengan menggunakan energi terbarukan diyakini mampu memberikan penerangan di pulau terpencil Indonesia.
Penggunaan Energi terbarukan ini, nantinya dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Inovasi yang dilakukan oleh greenpeace Indonesia memberikan langkah awal untuk mencintai dan lebih melindungi bumi. Diharapkan berbagai kalangan, nantinya dapat menerapkan sistem revolusi energi terbarukan, sehingga bumi kita akan menjadi lebih terjaga dan lestari.
Rumah merupakan tempat ternyaman bagi sebagian manusia. Merawat rumah merupakan tugas dari tiap-tiap manusia agar merasa nyaman ketika berada di rumah sendiri. Bumi adalah sebuah rumah besar yang di dalamnya terdapat berbagai macam Kepentingan. Lindungilah Bumi seperti kita melindungi rumah kita sendiri. Rawatlah bumi sebagai bagian dari diri kita. Leburkan kepentingan masing-masing pihak menjadi kepentingan bersama untuk melindungi bumi, agar kita merasa nyaman di rumah kita sendiri.***
Penulis adalah Mahasiswa Magister Ilmu Politik Universitas Diponegoro)











