Atasi Fenomena Kekeringan

Warga Zimbabwe Lakukan Ritual Pemanggilan Hujan

FENOMENA alam seperti hujan selalu dimanfaatkan manusia dalam berbagai hal. Hujan membuat ma­nusia senang dan sedih.

Pasalnya jika hujan turun terus menerus, banjir bisa terjadi di mana-mana, se­dang­kan hujan tak lama tu­run, kekeringan akan melan­da sebagian besar wilayah. Di daerah yang sangat ke­ring, hujan tak ubahnya sua­­tu keajaiban dan sering diper­lukan sua­tu ritual untuk men­­dapat­kannya.

Dari zaman dahulu hingga sekarang, manusia banyak me­lakukan ritual-ritual khu­sus untuk memanggil hujan.

Biasanya mereka melaku­kan tarian, hing­ga beberapa persembahan agar langit mau menurunkan hujan.

Salah satu negara yang melakukan ritual meminta hujan adalah Zimbabwe timur. Di bawah langit yang cerah, sejumlah lelaki ber­kum­pul di bawah pepohonan kerongtang tanpa daun di sebuah pinggiran desa untuk menyanyi, bersiul dan melo­long. Itulah cara mereka memanggil hujan di Zimbab­we.

"Kita harus kembali pada tradisi lama untuk mengatasi kekeringan," ujar Nekias Muk­windiza, seorang kakek tua yang telah berusia 80 tahun.

Kakek Mukwind­iza adalah pawang hu­jan ternama pada 1940. Sekarang dia yakin tradisi lama itu bisa menjadi solusi bagi fenomena keke­ringan di Zimbabwe yang semakin memprihatunjan.

"Saya tahu karena saya se­ring ikut da­lam ritual pe­mang­gilan hujan. Dulu, ritual ini berhasil," ujarnya. Menurut beberapa ilmu­wan, maraknya kem­bali tra­disi itu adalah bukti dari tidak adanya cara efektif untuk mengatasi ke­ma­rau panjang.

Para ilmuwan itu berpen­dapat bahwa Zim­babwe seha­rusnya tidak lagi bercocok ta­­nam jagung dan mengubah­nya dengan tanaman yang lebih tahan kering seperti ja­­wa­wut dan gandum. Zim­babwe juga ha­rus mulai me­nyimpan air saat hujan da­tang.

"Kita harus melatih para tetua desa mengenai penting­nya adaptasi terhadap pe­ru­bahan iklim seperti pertanian yang ber­kanjutan dan teknik penyimpanan air," tandas Law­rence Nyagwande, ke­pala or­ga­nisasi sipil Environ­ment Africa.

Maraknya ritual memang­gil hujan se­bagai cara untuk mengatasi kemarau yang ber­­ke­panjangan justru membuat para pe­tani tidak responsif dalam beradaptasi dan me­ngubah cara tanam mereka, kata dia.

Para pendukung ritual memanggil hujan me­ngakui bahwa cuaca di Zimbabwe pada beberapa waktu terakhir adalah fenomena yang belum pernah mereka saksikan--tem­peratur yang sangat panas dan hujan yang tidak tentu.

Mukwindiza percaya bah­wa cuaca pa­nas itu adalah hu­kuman dari Tuhan karena telah meninggalkan keper­cay­aan lama.

"Selama lebih satu dekade kami tidak per­nah melakukan acara ini. Tuhan marah kepa­da kami," jelasnya.

Desa-desa meninggalkan praktik terse­but akibat perse­lisihan soal siapa yang ha­rus memimpin ritual. Namun di tengah ke­langkaan air, mere­ka kini terpaksa me­ning­galkan perbedaan dan bersa­ma-sama meminta hujan.

Menurut beberapa pakar, kekeringan, yang membuat warga Zimbabwe bergan­tung pada bantuan asing untuk makanan, berhubungan erat dengan perubahan iklim. Na­mun para tetua adat belum percaya. "Jika kita kembali ke nilai-nilai dan keper­cayaan lama, semua akan berubah men­jadi lebih baik. Hujan akan datang de­ngan deras," tegas Muk­windiza. (wkp/rtr/es)

()

Baca Juga

Rekomendasi