SEMUA orang pasti kenal dengan gajah. Gajah merupakan salah satu hewan besar yang memiliki ciri khas, yaitu memiliki belalai dan gading besar pada tubuhnya.Hewan ini dapat ditemukan di daerah-daerah seperti afrika dan Asia, termasuk di Indonesia.
Saat ini gajah sudah masuk ke dalam hewan yang harus dilindungi, karena populasinya semakin menurun akibat perburuan liar.
Gajah sendiri hidup secara berkelompok, dengan bobot yang mencapai puluhan ton.
Spesies gajah sangat banyak dan beragam, tergantung dari daerah mana gajah tersebut hidup dan tinggal. Keunikan gajah berupa gading sepertinya tinggal kenangan.
Pasalnya spesies ini bisa punah di beberapa daerah, terutama gajah-gajah yang selamat dan berevolusi menjadi hampir tak memiliki gading.
Jumlah populasi gajah Afrika yang meningkat kini lahir tak bergading karena para pemburu secara konsisten telah menargetkan hewan-hewan bergading terbaik selama beberapa dekade, sehingga mengubah pola genetika.
Jumlah gajah Afrika yang lahir tanpa gading mengalami peningkatan. Menurut peneliti, di beberapa daerah sekitar 98 persen gajah betina tak memiliki gading.
Dikutip dari Independent, hampir sepertiga gajah Afrika telah diburu secara ilegal dalam sepuluh tahun terakhir. Hal itu terjadi karena permintaan gading gajah meningkat dari Asia, terutama Tiongkok.
Sekitar 144.000 gajah dibantai antara 2007 hingga 2014, sehingga sejumlah spesies terancam punah di beberapa daerah.
Sementara itu, populasi gajah yang dapat bertahan hidup terancam tak memiliki gading seperti sepupu mereka di Asia, ujar peneliti memperingatkan.
Joyce Poole merupakan kepala Elephant Voices dan telah melacak perkembangan spesies gajah selama lebih 30 tahun.
Keturunan tak bergading
Menurutnya, ada korelasi langsung antara intensitas perburuan dan jumlah gajah betina yang lahir tanpa gading di beberapa kawanan yang dia pantau.
Di Taman Nasional Gorongosa di Mozambik, 90 persen gajah dibantai antara tahun 1977 dan 1992, di saat perang saudara terjadi di negara tersebut.
Menurut Poole, karena pemburu menargetkan hewan bergading, hampir setengah gajah betina tak memiliki gading selama 35 tahun.
Meskipun saat ini perburuan telah terkendali dan populasi mengalami pemulihan, mereka akan mewariskan gen tanpa gading ke anak betina mereka, di mana 30 persen gajah betina yang lahir sejak perang tak memiliki gading.
“Betina yang tak bergading lebih memungkinkan menghasilkan keturunan tak bergading,” jelas Poole.
Contoh yang paling mencolok terjadi di Taman Nasional Gajah Addo, di mana 98 persen gajah betina tidak memiliki gading. Perburuan hebat nyaris membunuh seluruh populasi, namun terdapat 11 gajah yang tersisa pada 1931. Meski demikian, empat dari delapan betina yang masih bertahan tak memiliki gading.
Pada 2008, para ilmuwan menemukan fakta mengejutkan. Di antara gajah bergading yang tersisa, ukuran gading mereka setengah kali lebih kecil dibanding gading gajah pada abad sebelumnya.
Kendati tak memiliki gading mungkin dapat melindungi gajah dari perburuan, namun itu bukan sesuatu yang ideal.
“Gading digunakan untuk menggali makanan dan air, untuk menggali pohon dan cabang serta memindahkannya, untuk membela diri atau kepentingan seksual,” ujar laporan dari BBC. “Pakar konservasi menyatakan bahwa gajah tanpa gading adalah gajah lumpuh.” (idp/kbn/dm/es)










