Laos Pilih Presiden dan Perdana Menteri

Bangkok, (Analisa). Majelis Nasional Laos, Rabu (20/4), memilih kepala Partai Komunis Bounnhang Vorachit menjadi presiden baru negara itu dan menteri luar negeri Thongloun Sisoulith menjadi perdana menteri.

Pemilihan itu dipandang sejumlah pengulas sebagai kelanjutan "status quo" di Laos, yang tertutup sejak dikuasai komunis pada akhir perang Vietnam.

Televisi nasional menayangkan sidang Majelis Nasional, tempat anggota parlemen mendata prestasi Bounnhang, yang diangkat menjadi pemimpin Partai Komunis pada Januari.

"Majelis Nasional menyetujui Bounnhang Vorachit menjadi presiden, dengan mendapatkan lebih dari dua pertiga suara," kata kepala majelis itu, Pany Yathotou.

Majelis beranggotakan 149 orang itu menyelesaikan proses pencalonan dan pemilihan bagi kedua kandidat dalam satu jam. Dalam pidato penerimaannya, Bounnhang mengatakan bahwa dia akan berjuang untuk "kebijakan internasional yang damai, persatuan, persahabatan dan kerjasama".

Salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia Tenggara, Laos yang dikelilingi oleh daratan itu memiliki pertumbuhan PDB rata-rata sebesar tujuh persen dalam satu dasawarsa terakhir, dengan meningkatnya penggunaan sumber daya alam yang memberikan kontribusi sebesar sepertiga dari pertumbuhan hasil produksi, Bank Dunia mengatakan.

Keadaan ini telah meningkatkan pendapatan dan akses terhadap aliran listrik, telekomunikasi dan kesehatan untuk wilayah yang kebanyakan pedesaan itu dengan jumlah penduduk sebesar 6,7 juta jiwa. Laos memiliki ikatan politik yang dekat dengan Vietnam yang komunis dan meniru sistem politik negara itu.

Negara tetangganya yang juga dipimpin oleh komunis, Tiongkok, juga berlomba untuk memberikan pengaruhnya di Laos, dengan memberikan pinjaman, bantuan dan investasi dalam hal infrastruktur.

Laos masih berjuang untuk menyingkirkan diri mereka dari warisan yang menyakitkan dari Perang Vietnam, saat mereka menjadi negara yang dijatuhi paling banyak bom dalam sejarah setelah Amerika Serikat beserta sekutunya menjatuhkan sekitar dua juta ton peledak sejak 1964 hingga 1973. (Ant/Rtr)

()

Baca Juga

Rekomendasi