Mencetak Pelukis Profesional

Melalui Pendidikan Formal

Oleh: Dr. Agus Priyatno, M.Sn

Dapatkah pelukis profesional diciptakan melalui pendidikan seni formal?  Jawabnya: Dapat. Terbukti pendidikan seni formal di Indonesia mampu menghasilkan pelukis-pelukis profesional. Mereka mampu berprestasi di tingkat regional maupun inaternasional.

Mahasiswa berbakat maupun kurang berbakat, setelah menyelesaikan studinya, mereka dapat menciptakan karya seni berkualitas tinggi. Kompetensi yang mereka kuasai lebih banyak ditentukan oleh proses belajar, bukan ditentukan oleh bakat saja. Kreativitas dan produktivitas mereka dikarenakan kemauan kuat, ketekunan, dan kesungguhan menjalani profesi sebagai pelukis.

Pelukis alumnus ISI Yogyakarta, Surakarta, Denpasar, dan program studi Senirupa ITB Bandung mampu menjadi pemenang di kompetisi seni internasional. Karya-karya mereka juga dikoleksi oleh museum-museum seni terkemuka dunia.

Lukisan karya pelukis akademis Agus Kamal misalnya. Berhasil memperoleh penghargaan tertinggi dalam kompetisi seni tingkat dunia di Monte Carlo Monaco tahun 1985. Sejumlah karyanya dipamerkan di museum seni Fukuoka Jepang, karya yang dipamerkan ada yang dikoleksi oleh museum tersebut.

Di balai lelang lukisan internasional, pelukis profesional alumni perguruan tinggi seni Indonesia masuk dalam daftar katalog yang diterbitkan. Sejumlah lukisan karya mereka termasuk yang dilelang di berbagai lelang seni internasional. Keberadaan karya seni mereka dibalai lelang seni internasional merupakan prestasi tersendiri.

Di Negeri kita, institusi pendidikan seni menghasilkan tiga kualifikasi sarjana seni. Mereka adalah sarjana pencipta seni, sarjana pengkaji seni dan sarjana pendidik seni.

Bidang senilukis, sarjana pencipta seni menjadi pelukis profesional. Sarjana pengkaji seni menjadi penulis buku, kritikus atau peneliti. Sarjana pendidikan seni menjadi guru senilukis yang mengajar di sekolah-sekolah tingkat dasar dan menengah. Muara dari proses belajar senilukis adalah lahirnya pelukis pencipta karya seni bermutu yang mampu bersaing di tingkat regional maupun global.

Kurikulum sekolah seni dirancang untuk menghasilkan pelukis kreator yang kreatif dan produktif.  Ketika belajar, mereka didokrin tentang pentingnya menciptaan karya seni orisinal dan unik. Mereka diajari menjadi trendsetter, bukan follower.

Menciptakan karya orisinal, artinya karya yang diciptakan asli kreasi sendiri. Hal ini merupakan syarat utama penciptaan seni. Bukan karya mencontoh. Karya yang diciptakan juga harus unik, tidak sama dengan karya pelukis lainnya.

Mereka belajar tentang bahan, teknik dan berbagai metode berkreasi. Setiap mahasiswa senirupa berjuang agar menemukan keunikan atau  ciri khas dalam karya yang mereka ciptakan. Keunikan atau ciri khas dapat dibuat dengan mengolah bahan, teknik melukis berbeda, atau metode berkreasi lain dari yang lain.

Mereka tidak hanya belajar ketrampilan atau skill melukis, juga dibekali pengetahuan yang mendukung profesionalisme mereka. Mereka studi tentang sejarah senilukis, wawasan seni, kritik seni, filsafat seni, manajemen seni dan sebagainya. Pendidikan di jenjang strata satu atau sarjana ditempuh selama sembilan semester, atau empat setengah tahun. Ada studi yang bersifat teori dan praktek.

Seorang kreator seni pantang mereproduksi atau mencipta ulang karya pelukis lain.   Setiap pelukis berusaha menciptakan sesuatu yang baru dan menunjukkan kreativitas. Mereka bukanlah pelukis duplikator, yang hanya menciptakan ulang karya senilukis kreasi pelukis lain. Mereka adalah pencipta hal-hal yang baru dalam senilukis.

Sekarang zamannya industri kreatif, keberadaan pelukis ataupun seniman lainnya sangat penting untuk menggerakkan industri yang berdampak ekonomi luas tersebut. Berbagai negara mengelola industri kreatif untuk mendapatkan manfaat ekonomi sebesar-besarnya, untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat. Mereka mencetak para seniman profesional melalui pendidikan formal seni.  Segala kemajuan dan prestasi yang mereka raih dimulai dari kelas atau sekolah.

Indonesia secara geografis luas, jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia. Luas dan jumlah penduduk satu propinsi di negeri ini bisa jadi sama dengan satu negara di Eropa. Idealinya setiap propinsi di negeri ini memiliki institusi pendidikan seni yang menghasilkan seniman profesional, termasuk pelukis melalui jalur pendidikan formal.

Sampai saat ini, Sumatera Utara yang luas wilayahnya lebih dari 72 ribu kilometer persegi, berpenduduk lebih dari 13 juta jiwa, tidak memiliki institusi pendidikan seni pencetak seniman profesional.

Para pelukis profesional yang aktif berkarya sekarang adalah pelukis otodidak. Pada saatnya mereka akan surut karena bertambahnya usia, perlu adanya regenerasi. Jalur pendidikan formal adalah solusi terhadap masalah ini.

Kompetisi di berbagai bidang akan semakin berat. Ketika masyarakat ekonomi Asean berlaku, seniman profesional, termasuk pelukis juga harus bisa bersaing di tingkat regional maupun global. Pendidikan formal akademis yang melahirkan seniman profesional (juga pelukis), sudah mestinya dipikirkan keberadaannya di Sumatera Utara. Kita harus berjuang di semua lini menghadapi tantangan zaman. Kalau tidak dirintis mulai sekarang, kapan lagi?

Penulis; dosen pendidikan senirupa FBS Unimed dan Pengelola Pusat Dokumentasi Seni Rupa Sumatera Utara.

 

()

Baca Juga

Rekomendasi