Menjadi Muslim yang Berakhlak

MENURUT perspektif Islam, akhlak adalah salah satu perkara penting yang harus diajarkan kepada anak-anak sejak masa kanak-kanak hingga mereka dewasa. Pendidikan akhlak ini baik diajarkan di lembaga pendidikan formal atau di lembaga pendidikan non formal, di rumah tangga atau di dalam masyarakat, semuanya sebagai bentuk kepedulian dan kepatuhan kepada ajaran yang pernah dipraktikkan oleh Rasulullah Saw.

Buku, Akhlak; Menjadi Seorang Muslim Berakhlak Mulia mencoba merujuk akhlak para sahabat dan kelebihannya seperti Abu Bakar, Umar, Abu Dzar, Khalid bin Walid, Ali bin Abi Thalib, Imran bin Husein, Urwah bin Zubair dan nama lainnya.

Dari sana jelas terlihat bagaimana sesung­guhnya akhlak para sahabat-sahabat Rasulullah ini, bandingkan dengan Rasulullah Saw sendiri yang memang diutus untuk me­nyempurnakan akhlak ma­nusia.

Lewat pembelajaran akhlak para sahabat Rasulullah yang ditulis oleh Dr. Muhammad Abdurrahman, M.Ed ini kita bisa merasakan bahwa para sahabat Rasulullah ini memang orang-orang yang ‘belajar’ dari Rasulullah tentang akhlak.

Sebenarnya kita bisa mela­kukan hal yang sama seperti mereka, namun lagi-lagi terka­dang teladan yang menjadi con­toh di hadapan kita terkadang tidak hadir, tidak seperti para sahabat yang langsung bisa melihat keteladanan Rasulullah.

Orang yang mengaku Islam, maka akhlaknya seharusnya juga bisa meniru Rasulullah Saw, tetapi kenyataannya banyak yang berto­lak belakang. Akibatnya, Islam dipandang lewat pemeluk­nya bukan dilihat dari ajarannya. Pada­hal belum tentu Islam menga­jarkan yang sama dengan apa yang dila­kukan pe­meluknya. Sebagai contoh, bagai­mana Islam menga­jarkan akhlak terhadap guru, ulama dan pemim­pin. Lalu bagai­mana Islam menga­jarkan akhlak berte­tangga, akhlak berpakaian, sampai kepada akhlak berbangsa dan bernegara.

Sungguh menarik jika kita mem­baca buku ini, karena buku ini mencoba men­dudukkan bagaimana sebe­nar­nya kita harus berakhlak.

Di akhir buku ini ada bab yang berbicara tentang tasawuf dan pengamalannya. Di sini penulis mencoba menjelaskan maqam-maqam di dalam tasawuf di mana maqam yang dinilai tertinggi adalah maqam mahabbah yang mula-mula memperkenalkan ajaran mahabbah dalam tasawuf adalah Rabi’ah al-Adawiyah.

Kita bisa menelaan bagaimana konsep mahabbah ini, sehingga cinta yang selama ini kita salah artikan benar-benar berganti dengan mencintai Allah.

Yang jelas buku ini sangat bermanfaat untuk dibaca dan diamalkan sebagai bentuk per­wujudan dalam mengamalkan akhlak.

Peresensi: Juniawati Suza, S.Ag, Kepala Sekolah Paud Aisyah Az-Zahra

()

Baca Juga

Rekomendasi