Oleh: Rhinto Sustono.
SEKILAS memang terkesan magis. Di wadahi tampah bambu, taburan kamboja kuning bebagi ruang dengan melati putih. Di sekeliling wadah, juga bertabur kamboja tak seberapa merah dan potongan kertas sebentuk.
Bukan untuk sesajian. Tampilan meja persegi panjang penuh bunga ini, menjadi pemanis ruang pameran para perupa yang tergabung dalam Simpaian Seniman Seni Rupa Indonesia (Simpassri). Persis di dekat itu, pada dindingnya, lukisan karya Bambang Sukarno begitu gagah. Sosok tokoh besar, Ir Soekarno, didominasi hitam-putih pudar.
Lukisan ukuran 150 cm x 200 cm itu, diseimbangkan dengan sentuhan merah-putih. Tentu untuk menjaga keutuhan komposisi.
Kedua karya racikan seni itu, seakan beradu. Berebut pesona untuk dinikmati pengunjung. Pun syair ‘Hidup Terkekang’ yang dilantunkan pengamen jalanan, berbaur memadati semua ruang kosong di Sanggar Simpassri, Jalan Teratai Medan, Senin (29/8).
Diiringi gitar akustik dan gesekan biola, refrein lagu besutan Panbers itu kian memadatkan arti. “Ooo kumau bebas, bebas di alam ini…,” menjadi isyarat dari sebungkus pesan yang ingin disampaikan para perupa.
Kemerdekaan berkreasi menjadi isu penting bagi siapa pun. Terlebih bagi para perupa Simpassri. Kebebasan berkreasi, begitu memerdekaan imajinasi semua karya pada pameran yang segera berakhir besok, Senin (5/9).
Ketua Simpassri Anang Sutoto menegaskan, semangat kemerdekaan masih mewarnai pameran yang berlangsung sepekan itu. Ada 14 anggota Simpasri yang turut memamerkan karyanya.
Bekerja sama dengan Museum Perkebunan Indonesia, pameran bertajuk ‘Pulang ke Rumah’ itu, dinilai sebagai pameran paling meriah. Usai menggunting pita penanda pameran dibuka, Kepala Museum Sumut Sri Hastuti, mengaku penilaian itu tidak berlebihan. Sebab, kali ini adalah yang keempat ia membuka hajatan sama yang digelar Simpassri.
Abstrak
Di sudut lain, lukisan berukuran paling besar karya Anang Sutoto begitu menyita perhatian. Goresan warna-warni memenuhi kanvas berukuran 200 cm x 400 cm. Memadukan berbagai bentuk visual, Anang memadukan segala warna pada lukisan abstraknya.
Posisi penempatan yang tepat, lukisan berjudul “Pulang ke Rumah” milik Anang itu, menjadi lokasi paling diminati pengunjung untuk berfoto. Selain Anang Sutoto, pelukis lainnya, S Handono Hadi juga menggoreskan karyanya yang sarat visul abstrak.
Bedanya, elemen artistik dalam karya S Handono dipadu dengan kaligrafi Arab. Bukan kaligrafi murni layaknya mushab dan jenis dekorasi. Tiga karyanya dalam pameran itu, “Bersyukur V”, “Bertasbih”, dan “Zikir II”.
Humas Simpassri Bahar Adexinal kepada Analisa mengatakan, ada belasan lukisan yang dipamerkan. Masing-masing pelukis memiliki kekayan imajinasi dan karakter tersendiri. Semuanya berangkat dari akar kehidupan dan budaya khas Sumut.
Sejumlah nama lainya yang juga tergabung dalam pameran itu, Alwan dengan lukisan “layu Sebelum Berkembang” dan “Keakuan”, Khaerul Saleh yang memamerkan lukisan “Menortor”, Mangatas Pasaribu dengan judul “Kerbau Kurban”, dan Panji Sutrisno “Maturan di Pura” dan “Bibit Unggul”. Kemudian Pujio menampilkan karya “Sang Dewi’, Teradim Sitepu “Gunung Sinabung” dan “Danau Toba”. Sedangkan Togu Sinambela memamerkan “Kebakaran Hutan” (patung) dan Wan Saad dengan lukisan mural “Pulang ke Rumah”.
Seni Instalasi
Kecuali lukisan, Mangatas Pasaribu mengajak pengunjung untuk kembali pada masa keemasan Tembakau Deli. “Ini seni instalasi penuh makna,” papar Bahar.
Bentangan kain putih yang menanjak pada keranjang pandan berserak, dibubuhi beberapa lembar tembakau layaknya langkah kaki. Makna yang bisa ditangkap, layaknya sebuah perjalanan panjang sejarah tembakau sebagai warisan budaya.
Pada klimaksnya, lembaran tembakau kering digantungkan, bergelayutan pada utas benang ke langit-langit. Dengan ketinggian berbeda, pola tinggi-rendah yang dipadukan seperti memberi makna sebuah bingkai cerita yang menjadi rahasia.
Ragam perbedaan yang mendasari para perupa dalam berkreasi, menjadi sangat menarik dan memperkaya khasanah berseni. Menurut Bahar, segala apresiasi diserahkan kepada para penikmat (pengunjung).
Layaknya tema pameran, ‘Pulang Ke Rumah’, muaranya untuk memotivasi diri sesuai jargon Kota Medan saat ini, ‘Medan Rumah Kita’. Melalui pameran itu, diharapkan kebersamaan para pelukis yang terhimpun dalam Simpassri akan lebih baik dan kompak. Terutama demi kemajuan bersama dalam menghidupkan seni rupa di Sumatera Utara.











