Oleh: Indah Pratiwi
BAGI sebagian pencinta rokok dan kopi di tanah air, istilah ‘nyethe’ sudah tak asing lagi di telinga mereka.
Terutama bagi para pencinta kopi maupun perokok di Tulungagung, Jawa timur. Warung kopi yang menawarkan menu kopi cethe pun banyak tersebar di daerah ini sehingga dikenal sebagai ‘kota cethe’.
Pengertian cethe sendiri adalah mengoleskan endapan kopi ke batang rokok. Kegiatan cethe bermula pada tahun 1982 dari kebiasaan para petani yang akan pulang ke rumah setelah selesai mengerjakan sawahnya.
Di tengah jalan, mereka memiliki kebiasaan mampir ke warung untuk istirahat sejenak, ngopi serta mengobrol seputar pertanian mereka. Hingga saat ini tidak ada yang tahu berawal dari mana sehingga batang rokok tersebut diolesi dengan endapan kopi.
Seiring perkembangannya, cethe dibuat untuk mengekspresikan karya seni yakni mengoleskan ke batang rokok dengan motif beranekaragam seperti, motif batik, tribal, abstrak dan huruf dengan hasil yang unik. Ada juga yang mengatakan bahwa melukis di batang rokok dengan sarana cethe disebut ‘Mbatik’.
Di Kota Medan sendiri, cethe masih dianggap sebagai hal yang tabu. Belum banyak masyarakat yang mengetahui seni menyethe ini. Seperti yang dikatakan Ecun, seorang pehobi cethe Kota Medan.
Pria kelahiran 15 Februari 1993 ini menyebutkan, istilah cethe belum terlalu familiar di Kota Medan.
Mayoritas pencinta kopi di Kota Medan masih mengonsumsi kopi dengan cara yang lazim digunakan orang kebanyakan. Tak banyak yang tahu tentang cethe.
“Iya, belum banyak masyarakat Kota Medan yang mengetahui tentang seni nyethe ini.
Beberapa dari mereka yang pernah melihat saya saat nyethe malah merasa aneh,” tutur pria berambut keriting itu.
Pria bertubuh kurus itu mengaku, ia sudah mengenal dan menjadi pehobi cethe sejak tahun 2012. Menurutnya, nyethe merupakan cara unik untuk mengonsumsi kopi.
Tak hanya dapat menyeruput segelas kopi, tetapi juga bisa menyalurkan bakat seni yang dimiliki khususnya seni lukis.
“Saya juga tidak setiap hari nyethe, biasanya sih tergantung mood. Kalau lagi mood, dalam sehari saya bisa menyethe delapan batang rokok kretek.
Untuk komunitasnya, belum ada di Medan. Hanya beberapa pehobi cethe saja yang sering berkumpul di warung kopi di Medan ini. Itu pun masih teman-teman saya,” pungkasnya.
Disebutkannya, dalam proses pembuatan cethe, bahan yang perlu disiapkan adalah kopi, lepek, tisu dan susu krim.
Sedangkan alat-alat untuk menggambarnya antara lain tusuk gigi, silet dan benang jahit.
Bahan utama ‘tinta kopi’ cethe tidak hanya ampas kopi tetapi diperlukan susu kental manis sebagai adonannya.
“Cara membuatnya mudah, ambil sisa ampas kopi dan letakkan tisu di atasnya hingga air pada ampas meresap.
Setelah itu, campurkan susu kental manis dan aduk merata agar adonannya dapat dipakai melukis.
Selanjutnya celupkan alat (tusuk gigi atau silet) ke dalam cethe lalu kita bisa berkreasi sesuai dengan motif yang diinginkan,” jelasnya.
Ia berharap, ke depan, semakin banyak masyarakat Kota Medan yang mengetahui tentang cethe. Sehingga budaya cethe bisa dapat dilestarikan sebagai salah satu budaya yang dimiliki Indonesia.











