Pemimpin Baru Jakarta

PEMILIHAN Kepala Daerah di DKI Jakarta banyak me­nye­dot perhatian banyak pihak baik nasional maupun inter­nasional hingga dipantau oleh 29 negara. Anggaran yang dikeluarkan juga tidak sedikit. Pemerintah juga memberikan jaminan keamanan bagi 7,2 juta warga Jakarta yang akan menggunakan hak pilihnya dengan mengerahkan 62 ribu pasukan keamanan dari anggota Polri, TNI, dan Linmas. Hal ini dikarenakan tensi politik menjelang “H-3” pencoblosan suana Jakarta memanas dengan adanya informasi pengerahan massa. Begitu juga penetrasi media massa yang sangat ma­sif. terjadi “perang” idiologi yang dihawatirkan akan terjadi ge­sekan politik mengarah kepada perpecahan.

Patut disyukuri karena apa yang dikuatirkan itu tidak ter­jadi dan Pilkada DKI Jakarta putaran kedua berjalan kon­dusif. Pemerintah telah menunjukkan komitmennya untuk te­tap menjaga keamanan Jakarta dan memberikan perlindu­ngan bagi warganya untuk menyalurkan hak politik memilih Gu­bernur dan Wakil Gubernur. Walaupun terjadi sedikit riak-riak yang bisa menjurus keributan sehari sebelum pencoblosan mulai dari banyaknya warga yang belum menerima undangan memilih (formulir C6), adanya dugaan “serangan fajar” dengan mem­bagikan beras, brosur mengarah ke­pada provokatif, dan lainnya. Namun semua indikasi itu berhasil diantisipasi aparat keamanan bekerjasama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU), dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Se­hing­ga harapan agar Pilkada berjalan secara lancar, jujur, adil, langsung, bebas, dan rahasia, dapat terwujud.

Kini Pilkada DKI KJakarta telah usai dengan raihan suara ter­­banyak (versi hitung cepat) dimenangkan pasangan Anies-Sandi. Kemenangan ini adalah kemenangan warga DKI Ja­karta. Wajar seluruh rakyat Indonesia mengapresiasi jalannya de­mokrasi di ibu kota ini sebagai pusat pemerintahan sekaligus  cer­min demokrasi nasional. Dua kubu yang bertarung yakni Ahok-Jarot dan Anis-Sandi harus bersama-sama menyatukan kembali pendukungnya yang sempat “terpecah” karena beda pilihan. Ketegangan maupun gesekan yang terjadi harus kembali dirajut dengan semangat kebersamaan. Semua perbedaan harus menyatu setelah usainya pilkada. Seperti per­nah diungkapkan calon nomor urut 2 Basuki Tjahja Pur­na­ma (Ahok) pada acara penandatanganan deklarasi Pilka­da Damai.

Dalam pidato pada deklarasi damai itu Ahok mengatakan, sebenarnya dirinya dan Sandiaga (Wakil Anies Baswedan) adalah teman. Namun suasana di masyarakatlah yang membuat mereka berdua terlihat tidak berteman. Karena itu Ahok ingin semua proses Pilgub DKI Jakarta bisa berjalan dengan baik, dan kemenangan nantinya adalah untuk semua warga Jakarta. Ungkapan calon pertahana ini hendaknya dapat diterjemahkan dengan baik oleh seluruh warga Jakarta. Sehingga suasana kedamaian dapat tetap terjaga. Karena tidak bisa dipungkiri Jakarta adalah cermin masyarakat Indonesia. Jika baik tingkat demokrasi di Jakarta maka baik pula demokrasi seluruh Indonesia. Demikian juga sebaliknya.

Sembari menunggu keputusan resmi dari KPU, masyarakat Ja­karta terus berbenah dan kembali merajut persaudaraan yang sempat retak. Jangan lagi dipersoalkan perbedaan yang sudah berlalu, dan bersama-sama menatap ke depan untuk me­ngawal pembangunan Jakarta yang lebih baik lagi. Bagi yang menang jangan merasa besar hati hingga bisa men­cederai perasaan lawan politiknya. Begitu juga yang calonnya ka­lah mendukung calon yang menang. Kedua kubu harus kem­bali berangkulan, bergandeng tangan demi masa depan DKI Jakarta. Sekali lagi kemenangan ini adalah kemenangan ber­sama masyarakat DKI Jakarta yang telah berhasil men­jalankan demokrasi memilih pemimpinnnya dengan damai.

Apresiasi juga disampaikan bagi seluruh petugas ke­ama­nan, Polri dan TNI, penyelanggara Pilkada yakni KPU dan Bawaslu. Terlebih apresiasi kepada kedua pasangan calon yang telah bersama-sama menyampaikan pidato politik­nya. Pasangan nomor urut 2 Basuki-Jarot telah bersama-sama menyampaikan ucapan selamat kepada pasangan Anies-Sandi dan siap memberikan data-data untuk diteruskan da­lam membangun Jakarta. Basuki juga mengajak seluruh rela­wan, masyarakat, dan partai pendukung untuk bersama-sama men­dukung gubernur terpilih nantinya, dan  mengajak untuk melu­pakan perbedaan. 

Begitu juga pidato yang disampaikan pasangan nomor urut 3 Anies-Sandi menyatakan, agama, suku, ras, partai politik boleh berbeda. Namun darah kita harus tetap satu, yakni darah Indonesia. Gubenur dan Wakil Gubernur terpilih juga adalah pemimpin seluruh masyarakat DKI Jakarta tanpa terkecuali. Keduanya juga berjanji akan merealisasikan janji-janji politiknya, dan akan meneruskan program pembangunan yang telah disusun oleh gubernur sebelumnya. Salamat bagi warga DKI Jakarta yang telah memilih pemimpin barunya.

()

Baca Juga

Rekomendasi