Memupus Tajassus, Memupuk Ukhuwah

• Oleh: Muhammad Idris Nasution

Membangun ukhuwah adalah tugas umat manusia demi mencapai kemaslahatan, baik di dunia maupun di akhirat. Namun membangun ukhuwah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam membangun ukhuwah ini, ada banyak tantangan dan hambatan, baik dari dalam maupun dari luar diri manusia. Dari dalam, terdapat beberapa penyakit yang kerap menggerogoti ukhuwah dan menghancurkannya. Di antara pe­nyakit kronis dan berbahaya bagi ukhuwah ini adalah penyakit bernama tajassus.

Tajassus adalah al-bahts ‘an al-‘aurat wa al-ma’ayib wa al-kasyf ‘amma satarah an-nas.Secara ringkas, dalam bahasa hadis Nabi Saw, tajassus adalah tatabbu’ ‘aurat an-nas. Kata tatabbu’ dalam Kamus Al-Munawwir diartikan ‘mencari/menyelidiki dengan sempur­na’. Dari sini dapat dikatakan, tajassus adalah mencari/menyelidiki kecacatan-kecacatan orang dengan sempurna.Ini adalah perangai tercela, tetapi telah berhasil menginvasi dan menggerogoti umat, terutama di era digital ini. Malah jauh lebih buruk, karena setelah men­cari-cari cacat orang, cacat-cacat itu kemudian disebarluaskan hingga orang sejagat mengetahuinya. Akibat­nya, si cacat tersebut dihantam bullying ber­tubi-tubi, oleh orang yang mengenal dan tidak mengenalnya.

Hari ini, fenomena ini marak terjadi, dia dianggap sebagai sesuatu yang normal, tidak masalah, dan untuk kasus-kasus tertentu kadang dianggap sebagai sesuatu yang dianjurkan dan didukung agama. Orang merasa tidak bersalah dan berdosa melakukannya. Padahal Allah Swt. secara tegas melarang perilaku ini di dalam Kitab Suci Alquran. “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu bertajassus (mencari-cari aib orang), dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS Al-Hujurat: 12)

Jika kita memperhatikan ayat larangan tajassus di atas, ia diletakkan di tengah-tengah perbincangan Alquran tentang persaudaraan keimanan pada QS Al-Hujurat: 10 dan persau­da­raan kemanusiaan pada QS Al-Hujurat: 13. Karena itu, maksud dan tujuan larangan ini tidak jauh-jauh dari upaya untuk membina persaudaraan. Bahwa tajassus seperti hama bagi tumbuhan dan layaknya parasit pada tanaman. Ia mesti diberantas dan dibasmi agar ukhu­wah tetap terjalin dan persauda­raan tetap terjamin.

Tajassus adalah penyakit sosial yang tidak dapat tidak mesti diberantas, karena ia dapat menelurkan kebencian dan menumbuh-suburkan pertengkaran dan perselisihan, di mana ini merupakan pangkal perpecahan yang meruntuhkan sendi-sendi persaudaraan. Pemberan­ta­san tajassus dalam ayat di atas dimu­lai dari memangkas sumbernya, yakni larangan berpurba sangka,karena pada umumnya, tajassus bermula dari purba-sangka. Orang bertajassus, melakukan penyelidikankarena hendak membukti­kan kebenaran dugaannya, bahwa du­gaan tersebut tidak keliru. Ath-Thabrani mengatakan, “Apabila engkau berpur­ba-sangka, maka jangan cari pembena­rannya.”

Namun, menurut Sayyid Quthb dalam kitab tafsirnya, Fi Zhilal Alquran, kadang tajassus dilakukan bukan untuk mencari pembenaran dugaan, tetapi memang semata ingin mengungkap kecacatan-kecacatan dan menyelidiki keburukan-keburukan. Artinya, kadang memang ada kesengajaan dari sese­orang untuk mempreteli aib-aib orang lain dengan berbagai kepentingan, seperti hendak menjatuhkan martabat­nya, membunuh karakternya, memupus kepercayaan kepadanya, menganggu dan mengusik kehidupannya, merusak hubungannya, sampai apa yang santer kita sebut ‘mengkriminalisasinya’.

Lalu larangan tajassus kemudian disusul dengan larangan menggunjing. Karena setelah menggali aib, orang memang akan cenderung membicara­kan­nya dan mengungkapkannya ke­pada orang lain. Bahkan di era media sosial ini lebih sadis, aib itu diviralkan ke dunia maya, hingga orang-orang di belahan bumi paling jauh sekalipun da­pat mengetahuinya.Tak dapat disang­kal, ini akan merusak persaudaraan, bahkan dapat memicu dan memacu pertengkaran hingga pembunuhan.

Kita perlu belajar dari kisah sahabat Nabi Saw. mengimplementasikan pesan ayat di atas dalam kehidupan mereka untuk menjauhi tajassus. Mus­thafa Al-Maraghi dalam kitab tafsirnya, Tafsir Al-Maraghi, jld. 26. H. 138,me­nguraikan sebuah cerita yang bersum­ber dari Abdur Rahman bin Auf, salah seorang sahabat Nabi yang dijanjikan masuk surga. Pada satu malam beliau keluar bersama dengan Umar bin Khattab di Madinah. Lalu mereka mene­mukan satu rumah, beberapa orang berkumpul di dalamnya, disinari lampu-lampu, terdengar suara-suara bising dan gaduh. Prasangka pun muncul kalau mereka sedang mabuk-mabukan. Umar berkata: Ini adalah rumahnya Rabi’ah bin Umayyah bin Khalaf. Mere­ka sekarang sedang mabuk. Bagaimana pandapatmu? Abdur Rahman bin Auf berkata: Menu­rutku kita telah melaku­kan suatu perbua­tan yang telah dilarang oleh Allah. Dia telah melarang kita bertaja­ssus, sekarang kita melakukan­nya. Umar pun berpaling dan mening­galkan mereka.

Barangkali sulit bagi sebagian kita menerima sikap dua sahabat utama Nabi ini. Mengapa mereka tidak segera mencari tahu saja kebenaran sangkaan mereka dengan menggerebek rumah tersebut? Kalau mereka memang benar-benar mabuk, tegakkan nahy munkar, dan berikan hukuman kepada mereka. Namun tak disangka, mereka justru me­ninggalkannya begitu saja. Malah mereka yang menganggap diri mereka telah melakukan suatu perbua­tan dosa, melampaui kewenangan mere­ka sendiri. Inilah sebenarnya tips untuk menjauhi tajassus, yakni sibuk memikir­kan aib sendiri daripada men­cari-cari cacat orang lain.

Ada kisah lain, di mana Umar me­nampilkan sikap lebih agresif. Abu Qilabah bercerita, ada sebuah laporan yang sampai kepada Umar bin Khattab bahwa Abu Mihjan Ats-Tsaqafi sedang minum khamar bersama kawan-kawan­nya di rumahnya. Berdasarkan laporan tersebut, Umar pun pergi memeriksanya untuk membuktikan apakah laporan tersebut benar adanya. Setelah beliau memasuki rumahnya, ternyata hanya ada satu orang lain di rumah itu. Abu Mihjan berkata: Sesungguhnya tindakan ini tidak halal bagimu. Allah telah melarangmu melakukan tajassus. Maka Umar pun keluar dan meninggalkannya.

Dari kisah ini kita belajar agar jangan mencari-cari aib saudara kita. Jika seseorang berusaha menutupi aibnya, kita dilarang untuk membongkarnya. Sesungguhnya, masing-masing diri kita juga memiliki aib, yang, barangkali kalau bukan karena ditutupi oleh Allah, justru lebih buruk dari orang lain. Rasulullah telah berpesan, barangsiapa menutupi aib saudaranya, maka Allah akan menu­tupi aib-aibnya di dunia dan di akhirat. Namun sebaliknya, Rasulullah mem­beri­kan ancaman keras,“Wahai sekalian orang-orang yang beriman dengan lisannya, tetapi keimanan tidak mema­suki hatinya! Janganlah meng­gunjing orang-orang Islam dan jangan menelu­suri cacat-cacat mereka. Karena orang yang menelusuricacat-cacat mereka, Allah akan menelusuri cacat mereka. Barangsiapa yang ditelusuri Allah cacatnya, Dia akan membuka aibnya di pekarangan rumah mereka sendiri.” Wallahu a’lam.

Penulis adalah Imam Masjid Nurul Huda Asrama Brimob Medan.

()

Baca Juga

Rekomendasi