Oleh: Jonson J Pasaribu
BERKARYA adalah keseharian dari dalam diri setiap seniman. Berkarya selalu dan terus lahir atas dasar dorongan yang keluar menyembur dari dalam diri sang seniman. Dorongan yang dikarenakan kegelisahan apapun bentuknya. Kegelisahan ini biasanya selalu muncul dari kondisi medan sosial kultural di lingkungan yang sedang berlangsung.
Seperti apapun keadaan medan kultural sosial itu selama mampu menyentuh hati sang seniman. Jelas semua akan menjadi sebentuk karya adiluhung bagi seniman yang mencipta. Di medan sosial kultural inilah, kemudian seniman berperan sebagai pengontrol kondisi sosial. Berposisi sebagai pihak yang membela ketertindasan atau kesewenangan yang sedang dan telah terjadi.
Seniman juga bisa hadir sebagai penyuara keadilan. Memposisikan diri sebagai pemberi pertimbangan atas keputusan yang harus diambil oleh pemegang kekusaan dalam wilayah tertentu. Tentu saja dengan harapan, keputusan yang diambil selalu berpihak pada kepentingan orang banyak. Sebab seni harus berada pada posisi yang tepat, dan itu sebuah pilihan wajib.
Banyak seniman yang sering tidak menempatkan dirinya pada posisi ini, akibatnya tak pernah punya posisi tawar. Seniman yang tidak mempunyai posisi tawar ini akan menjadi penyuara by order yang baik jika bisa menguntungkannya. Buruk jika tak menguntungkan baginya. Pada akhirnya dampaknya akan terasa. Karyanya tak lagi mempresentasikan keadaan masyarakat yang sebenarnya. Hanya menjadi penghias dan bagian penggembira di kolom abu-abu dalam hidup keseniannya yang bisa juga menjadi tak jelas.
Dari keadaan ini akan terjadilah alienasi dari karya seniman ke masyarakat. Masyarakat bahkan tidak bisa lagi mengerti karya yang ditampilkan seniman karena jauh dari kenyataan yang sedang berlangsung.
Keterasingan yang terjadi antara seniman dengan masyarakat ditimbulkan karena semakin terbangunnya tembok pemisah antara seniman dengan masyarakat. Seniman sibuk dengan sangat khusuknya berkarya di studio menjauh dari keramaian medan sosial kultural.
Diam bermenung menciptakan karya-karya yang sepi (hanya sepi bagi dirinya). Dengan kondisi berkarya begini, apakah benar seniman menciptakan karya yang dekat dengan kondisi kekinian masyarakat?
Kalau hasilnya hanya berupa gambaran rekaan alam yang ada dihadapannya, batu hanya menjadi seperti batu dan batu adalah batu. Batu yang tak menyatakan apapun sebagai batu sekalipun sudah diendapakan dalam ruang pikir dan imagi seniman.
Kondisi ini adalah kondisi dengan keadaan palsu keadaan imitasi, sebuah peniruan dari alam belaka, tanpa pesan di balik karya. Keadaan ini menjadi kepura-puraan dalam proses kesenian dan kesenimanannya. Seniman sering tidak menyadari dari mana ide berasal. Bukankah seniman secara gratis mengambil semua ide dari alam dan lingkungannya? Semua yang tersebar di alam dan lingkungan dengan segala macam bentuk peristiwa yang ada di dalamnya.
Pernahkah terpikir kembali bagi seniman untuk membagikan secara gratis semua yang dia dapatkan itu? Bisakah itu mungkin terjadi. Mungkin ini juga sebuah pernyataan yang salah.
Dari sini sesungguhnya seniman sudah bisa berpikir ulang kembali untuk mengabdi pada karya yang diciptakan. Dari mana dia berasal dan kepada siapa dia akan berakhir atau diterima.
Hanya ada dua pilihan dalam pendekatan ini. Membangun atau meruntuhkan. Meruntuhkan, meruntuhkan keegoan dan keangkuahan seniman untuk menembus batas antara seniman dengan masyarakat. Juga antara seniman dengan sesama seniman. Meruntuhkan hal ini akan membangun nafas baru bagi daya seni seniman.
Kebersamaan dalam pergaulan kreatif tentu akan menggemakan suara kesenian itu terdengar lebih deras dan bisa dirasakan sebagai sebuah perubahan. Perkerabatan kreatif akan membawa seniman menyentuh soal-soal bagaimana terus mengolah dan mengelola gagasan seni. Seluruh ide dan gagasan yang sudah ada dalam diri mereka menjadi karya-karya seni yang akan membuat takjub para pemirsanya.
Membangun bisa dengan menerima kelebihan dan mengakui karya seniman lain. Mengakui bahwa karya yang diciptakan oleh seniman lain pantas untuk diapresiasi dan memang layak mendapat penghargaan yang baik.
Membangun dan meruntuhkan selalu bergandengan dengan dua sisi yang berlawanan bisa juga bersamaan atau malah sebaliknya. Membangun pada wilayah ini pada dasarnya sedang meruntuhkan sesuatu yang bernama “selfish”.
Meruntuhkan sebuah tradisi lama yang sudah tak lagi sesuai dengan perjalanan yang sedang berlangsung pada saat ini. Sesuatu yang pasti, kesenian terus berkembang, sementara tradisi yang sudah berlangung sulit atau tak pernah bisa dirubah.
Perubahan hanya akan ada ketika kita mulai sadar akan kondisi yang terjadi dan mulai berbuat, sendiri atau bersama-sama. Semua itu lagi-lagi hanya sebuah pilihan.
Penulis; Seniman, dari Tanjung Morawa, 2018.











