Tradisi Membangun Diri

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Dalam kehidupan bermasyarakat ini banyak sekali perbedaan-perbedaan yang mungkin terkadang membuat kita selalu tanda Tanya. Tentu yang sering kita jumpai kususnya diindonesia ini begitu banyak Agama, Suku, Bahasa dan tentu­nya tradisi, terkadang kita bertanyak bu­kankan kita sudah menganut suatu Aga­ma, apakah diperbolehkan yang telah me­meluk suatu agama tetapi mengikuti suatu tradisi yang sudah turun temurun dari le­lu­hur kita. Lalu bagaimana menurut pan­da­ngan agama Buddha mengenai tentang tradisi. Tentu Buddha menanggapi suatu tradisi ini sudah sejak jaman dahulu kala, bahkan sekarang ini agama Buddha juga banyak menggunakan tradisi keagamaan, beliau berpesan, suatu tradisi bias diikuti selama tradisi tersebut tidak merugikan diri sendiri dan tidak merugikan makhluk lain.

Pada waktu dekat-dekat ini telah dira­yakannya yang banyak orang mengeta­hui­nya yaitu tradisi menyambut Tahun baru Imlek, tetapi masih banyak orang yang beranggapan bahwa tahun baru im­lek ini sangat dekat kaitannya dengan aga­ma Buddha, bahkan tidak sedikit orang berang­ga­pan bahwa imlek ini adalah sa­lah satu hari raya agama Buddha, tentu ini berbeda tra­disi, imlek perayaannya su­dah 2569 tahun dan pertama kali terjadi di Tiongkok. Dan sedangkan Agama Bud­dha telah diperingati 2562 Tahun ber­mula di Jambudvipa yang sekarang men­jadi india. Tetapi tetap saja umat Buddha yang memiliki tradisi dari leluhur mereka baik itu imlek maupun bu­lan suro bagi tradisi orang jawa boleh-boleh saja untuk dirayakan didalam vihara sesuai dengan pesan Buddha yang telah disam­paikan diatas.

Lalu apakah didalam agama Buddha ada suatu tradisi upacara?. Tentu ini me­miliki suatu tradisi upacara, dan bahkan upacara ini ada yang berasal dari jaman Buddha masih ada didunia ini, yaitu upa­cara penahbisan bhikkhu & samanera dan Upacara yang sekarang ini merupakan perkembangan dari kebiasaan yang ada, yang terjadi sewaktu Buddha masih hi­dup, yaitu yang disebut `Vattha’, yang artinya kewajiban yang harus dipenuhi oleh para bhikkhu seperti merawat Buddha, membersihkan ruangan, mengisi air, dsb; dan kemudian mereka semua bersa­ma dengan umat lalu duduk mendengar­kan khotbah Buddha. Setelah Buddha pa­rinibbana, para bhikkhu dan umat tetap berkumpul untuk mengenang  Buddha dan menghormat Tiratana, yang sekaligus me­rupakan kelanjutan kebiasaan Vattha.

Dalam agama Buddha juga terdapat ajaran tentang tradisi `pemujaan’. Menu­rut naskah Pali – Dukanipata, Anguttara Nikaya, Sutta Pitaka, ada dua cara pemu­jaan, yaitu:A. Amisa Puja. Secara hafa­fiah berarti pemujaan dengan persem­ba­han. Kitab Mangalattha-dipani mengurai­kan empat hal yang perlu diperhatikan da­lam menerapkan Amisa Puja ini, yaitu: a. Sakkara: memberikan persembahan ma­teri. b. Garukara: menaruh kasih serta bakti terhadap nilai-nilai luhur. c. Mana­na: memperlihatkan rasa percaya/yakin. d. Vandana: menguncarkan ungkapan atau kata persanjungan. B. Patipatti Puja. Makna Patipatti Puja. Secara harafiah ber­arti pemujaan dengan pelaksanaan. Sering juga disebut sebagai Dhammapuja. Me­nurut Kitab Paramatthajotika, yang di­mak­sud “pelaksanaan” dalam hal ini ada­lah, 1. Berlindung pada Tiratana, yakni Buddha, Dhamma, dan Ariya Sangha. 2. Bertekad untuk melaksanakan Panca Sila Buddhis (Lima Kemoralan) yakni panta­ngan untuk membunuh, mencuri, berbuat asusila, berkata yang tidak benar, meng­konsumsi makanan/minuman yang mele­mahkan kewaspadaan. 3. Bertekad me­lak­sanakan Atthanga Sila (Delapan Sila) pada hari-hari Uposatha. 4. Berusaha menjalankan Parisuddhi Sila (Kemurnian Sila), yaitu: Pengendalian diri dalam tata tertib (Patimokha-samvara). Pengenda­lian enam indera (Indriya-samvara). Men­cari nafkah hidup secara benar (Ajiva-parisuddhi). Pemenuhan kebutuhan hidup yang layak (Paccaya-sanissita)

 Dalam Sutta Pitaka bagian Anguttara Nikaya, Dukanipata, dengan sangat jelas Bud­dha Gotama menegaskan demikian: “Duhai para bhikkhu, ada dua cara pemu­jaan, yaitu Amisa Puja dan Dhamma Puja. Di antara dua cara pemujaan ini, Dhamma Puja (Patipatti Puja) adalah yang paling unggul”.

Dengan demikian sudah selayaknya jika umat Buddha melaksanakan tradisi puja lebih menekankan pada pelaksanaan Patipatti Puja. Dengan demikian maka akan lebih cepat kepantai sebrang.

“Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia”

()

Baca Juga

Rekomendasi