Narkoba Rawan Menerobos Laut RI

Oleh: Suadi. Perairan laut Indonesia kini rawan di­terobos sindikat penyelun­dup narkoba. Negeri ini tengah genting meng­ha­dapi de­rasnya narkoba yang masuk le­wat jalur da­rat, udara dan laut. Di laut, berkali-kali kapal berbendera asing yang ter­tangkap oleh aparat keamanan Indonesia terbukti membawa muatan narkoba.

Tidak tanggung-tanggung, teranyar tim gabungan Polri dan Direktorat Jen­deral Bea Cukai pada Jumat (22/2/2018) me­nang­kap dan mengamankan kapal ikan Win Long BH2998 asal Taiwan di Selat Philips, Kabupaten Karimun, Ke­pulauan Riau yang diduga membawa mua­tan 3 ton narkoba jenis sabu-sabu.

Sebelumnya, tepatnya Selasa (20/2/2018) tim Gabungan Satgassus Polri, Di­rektorat IV Tipidnarkoba, Bea Cukai Pu­sat dan Bea Cukai Batam berhasil me­nangkap kapal membawa 1,6 ton sabu di perairan Pulau Batam, Kecamatan Be­la­kang Padang, Batam. Dua minggu se­be­lumnya tepatnya pada Rabu (7/2/2018) BNN dan TNI Angkatan Laut di perairan Batam, Kepulauan Riau berhasil me­nang­kap kapal Sunrise Glory berbendera Si­ngapura membawa 1 ton sabu buatan Myanmar yang disamarkan di tumpukan karung beras dalam palka bahan makanan kapal.

Pada Juli 2017 Direktorat Jenderal Bea Cukai dan Polri berhasil meringkus penyelundup narkoba jenis sabu seberat 281,6 kilogram di Pluit, Jakarta Utara. Narkoba tersebut diselundupkan lewat jalur laut dan disembunyikan di dalam mesin pemoles sepatu.

Sebagai perbandingan, kasus penang­ka­pan narkoba jenis sabu yang hanya se­berat 7 kilogram di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya awal 2018 lalu ditaksir bernilai Rp 14,6 miliar dengan potensi jumlah korban yang diselamatkan dari bahaya narkoba mencapai 29.200 orang. Apalagi sabu-sabu yang beratnya 1-3 ton. Tidak terbayangkan dampak kerusa­kan­nya jutaan orang bisa jadi korban bahaya narkoba jika tidak ter­tangkap aparat.

Jalur laut dan pelabuhan me­mang men­jadi titik paling rawan menjadi pintu masuknya narkoba ke Indonesia. Menu­rut kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) pusat Komjen Pol Budi Waseso me­nyatakan bahwa 50 persen, atau bahkan 80 persen masuknya (narkoba) pa­ling rawan melalui pintu pelabuhan (wartapedia.com, 11/1/2018).

Ngeri-ngeri Sedap

Di darat, berkali-kali kasus penyelun­du­pan narkoba sukses digagalkan aparat. Di banyak tempat berdiri pos polisi dan pa­troli BNN yang memeriksa semua ken­daraan dan barang yang lewat. Bahkan ru­mah-rumah, gedung dan tempat men­curigakan diincar, diawasi dan digerebek oleh aparat. Penjagaan makin ketat di se­pan­jang lintas batas wilayah antar ka­bu­paten, propinsi dan antar negara. Se­mentara jalur udara, penjagaan sejak di pin­tu bandara sudah super ketat. Ja­ngankan narkoba, benda tajam seperti gunting kuku saja terdeteksi oleh metal detector dan sensor sinar X-Ray.

Mungkin berangkat dari fakta tersebut sindikat narkoba internasional mencari cara lain yang bisa lolos dan menemukan jalur laut kurang terjaga. Selain luasnya wilayah perairan Indonesia, banyaknya pulau-pulau kecil yang bisa dijadikan tempat transit dan bersembunyi semen­tara dari kejaran patroli aparat.

Jalur laut didukung pelabuhan tikus yang jumlahnya sangat banyak. Pelabuh­an tikus tanpa dermaga, menggunakan perahu kecil, tanpa ada aparat keamanan yang mengawasi dan sunyi dari pendu­duk, menjadi rute strategis bagi mafia nar­koba men-drop narkoba untuk kemu­dian didistribusikan di darat secara luas.

Menyaksikan berita tertangkap­nya narkoba jenis sabu sampai berton-ton membuat bulu kuduk bergidik. Dalam hitungan bulan, jumlah narkoba yang tertangkap aparat sudah berton-ton. Bagai­mana jumlah yang tidak tertang­kap? Apakah semua tertangkap? Belum ten­tu. Karena banyak pelabuhan tikus dan akal muslihat sindikat narkoba meng­gunakan berbagai trik, tipuan dan ka­mu­flase untuk menyelundupkan narkoba ke Indonesia.

Sempat ada kasus tertangkapnya kurir nar­koba yang menyem­bunyikannya di anus. Ada juga yang menelan dalam plas­tik kecil-kecil dan ketika buang hajat nar­koba yang ditelan masih utuh bersama feses. Cara tersebut konon katanya untuk meng­hindari detector dan sensor X-Ray. Ada juga yang dimasukkan dalam pa­kaian, alat eletronik, dan barang bawaan ketika naik transportasi udara. Ada juga yang membungkus dengan plastik, diikat tali dan ditambatkan di bawah perahu atau kapal. Ketika diperiksa perahu dan ka­pal, tidak ditemukan narkoba. Tapi ter­nyata ada di bawah kapal/perahu ter­sebut.

Ngeri-ngeri rasnaya memba­yangkan dam­pak berton-ton narko­ba tersebut terhadap nasib generasi muda Indonesia yang digadang menjadi motor penggerak ekonomi dan pembangunan bangsa.

Lebih horornya, narkoba juga menya­sar anak-anak sejak dini dengan cara men­campurkan narkoba ke jajanan anak-anak. Bila tidak terungkap, mungkin di masa mendatang korban anak-anak ter­sebut menjadi pasar besar peredaran narkoba.

Peran Semua Pihak

Ini sangat penting. Sebab, tidak mungkin polisi, BNN dan aparat lainnya tahu semua hal. Jika masyarakat melihata ada kejanggalan, aktivitas mencuriga­kan, terlebih lagi terjadi di daerah jauh dari pos polisi atau kawasan yang luput pe­ngawasan aparat penegak hukum, maka masyarakat berperan aktif melapor­kan. Bisa jadi di sana sindikat narkoba atau pun kejahatan lain sudah bermain se­cara diam-diam.

Narkoba tidak hanya merusak satu bang­sa, tetapi merusak semuanya dari fi­sik, mental dan masa depan. Sejarah men­catat, Tiongkok yang kekuatannya sa­ngat raksasa kalah berperang melawan Ing­gris yang kecil dalam Perang Candu gara-gara masyarakatnya dicekoki candu alias narkoba.

Dua jempol dan apresiasi setinggi-tingginya untuk aparat penegak hukum yang sukses menangkap dan menggagal­kan peredaran narkoba di kapal asing yang menerobos masuk perairan Indone­sia. Harapan ke depan, ini menjadi mo­men­tum perang mela­wan narkoba bila perlu pelaku, Bandar, mafia dan sindikat­nya dihukum mati karena peredaran narkoba sangat berbahaya dan merusak.

Ini juga menjadi momentum keras bah­wa jalur laut harus dijaga super ketat, bila perlu pakai drone dan pesawat tempur karena sangat rawan diterobos sindikat penye­lundup narkoba. ***

Penulis alumnus UMSU

()

Baca Juga

Rekomendasi