Medan, (Analisa). Pihak penyelenggara Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) menegaskan, biaya panggung keong dan tiket masuk di even tersebut tidak mahal.
Pernyataan tersebut disampaikan untuk membantah pernyataan salah seorang bupati di Sumatera Utara (Sumut) yang menyebutkan sewa panggung keong Rp20 juta terbilang mahal.
"Sewa panggung keong untuk pertunjukan seni budaya dari kabupaten kota memang Rp20 juta. Tetapi itu bukan hanya untuk biaya sewa panggung, melainkan termasuk biaya seluruh komponen pendukung panggung pertunjukan seperti sound system, peralatan musik standar band, lighting, taman, termasuk juga penyediaan sumber daya manusia (SDM) di area panggung keong yang mencapai enam orang, terdiri koordinator dan kru yang mendukung setiap even,"jabar Media Relation PRSU 2018, Diurnanta Qelanaputra, Rabu (28/3).
Dikatakan, dengan biaya Rp20 juta tersebut, semua sudah disiapkan dan itu didapat dengan menyewa dari vendor, bukan diperoleh secara gratis. "Sound system itu setahu saya antara 10 sampai 12 ribu watt. Coba hitung berapa per seribu watt, peralatan musik band dari kami, bahkan mikrofon dalam jumlah banyak disediakan juga karena beberapa di antaranya membutuhkan mik untuk alat musik tradisional yang banyak seperti gordang, gendang dan lain-lain, lighting 3000-an watt, begitu juga taman di depan panggung, itu kami sewa dari vendor selama sebulan, karpet merah juga disiapkan. Selain itu, dari Rp20 juta biaya masih dipotong pajak sehingga yang diterima promotor sekitar Rp17 juta saja,” urainya.
Disebutkan, hanya backdrop yang disiapkan penyewa atau orang yang akan tampil karena masing-masing kabupaten/kota berbeda tema pertunjukannya. Begitu juga visi misi yang akan disampaikan. "Meski begitu, kami juga menyiapkan riging di kiri kanannya, adakalanya backdrop lebih besar dan untuk itu tim kru dari promotor membantu menyiapkannya,” ujarnya.
Orang atau pihak yang akan tampil dari kabupaten/kota, sambungnya, tak perlu repot memboyong sound dan peralatan musik serta equipment pendukung lain, kecuali perangkat musik etnik dan semacamnya.
Dikatakan, tahun ini promotor ingin mengelola langsung panggung keong untuk memberikan kemudahan kepada kabupaten/kota sebagai partisipan dan fokus ke penampilannya. Tak ketinggalan, juga pembenahan panggung dan tempat penonton. Sebelumnya, untuk tampil segalanya disiapkan sendiri oleh masing-masing kabupaten/kota, dan sekarang tak perlu sibuk lagi, sudah disediakan,” paparnya.
Mengenai tiket masuk Rp20 ribu pada Senin sampai Kamis dan Rp25 ribu pada Jumat sampai Minggu, menurut Diur juga tidak mahal dibandingkan dengan yang didapat pengunjung. Di PRSU, ada dua panggung, yakni panggung keong untuk pertunjukan seni budaya dari tiap kabupaten/kota dan panggung utama menampilkan artis ibukota dan Sumut, semua itu tidak lagi dikutip bayaran.
“Logikanya saat show band Wali, pengunjung mencapai 10 ribu lebih. Kalau mereka merasa mahal tentu tidak akan sebanyak itu yang beli tiket,” tegasnya.Pihaknya juga membantah hanya mengutamakan bisnis."Kalau semata bisnis, tentu kami terapkan tiket untuk nonton pertunjukan, tapi buktinya gratis," katanya.
"Tujuan kami, PRSU sebagai miniatur Sumut dan masyarakat bisa mengenal lebih dekat keunggulan tiap kabupaten dan kota di Sumatera Utara, serta memperkenalkan kekayaan seni budayanya sebagaimana harapan Gubsu," lanjutnya.
Setiap malam
Koordinator panggung keong, Vera Maria menambahkan, pertunjukan seni budaya di panggung itu digelar dengan pertunjukan berbeda dari masing-masing kabupaten/kota. “Sekitar 60 sampai 75 persen kapasitas tempat duduk terisi setiap malam,” ujarnya.
Dari semua pertunjukan yang telah berlangsung, terangnya, tercatat sampai saat ini yang paling ramai penontonnya adalah pergelaran kesenian dari Kabupaten Tobasa.
Adapun jadwal pertunjukkan kesenian di panggung keong yang masih akan berlangsung, paparnya, 28 Maret penampilan tim kesenian dari Kabupaten Tanah Karo, 29 Maret Nias Utara, 30 Maret Tanjungbalai, 31 Maret Pematangsiantar, 1 April Nias Selatan, 2 April Padanglawas, 3 April Labuhanbatu Selatan, 4 April Kotamadya Binjai, 5 April Padangsidimpuan, 6 April Tebingtinggi, 7 April Labuhanbatu Utara, 8 April Tapanuli Utara, 9 April Dinas Pariwisata, 10 April Nias Barat, 11 April Asahan, 12 April Padanglawas Utara, 13 April Tapanulitengah, 14 April Nias, 15 April Pemprov Sumut. Sedangkan Kabupaten Simalungun tampil secara khusus di panggung utama yang biasa digunakan untuk show artis ibukota pada 31 Maret.
Ditambahkan Vera, seluruh pertunjukan seni budaya dari kabupaten/kota dan provinsi serta Dinas Pariwisata berlangsung mulai pukul 19.00 sampai 22.30 WIB dan terbuka untuk umum. (hen)











