KEPADA HUJAN DI BULAN SEPTEMBER
Amrin Tambuse
Biarkan aku menari bersamamu lepas bebas hingga tubuhku sempoyongan
tanpa lelah, tanpa keringat dan kita terus menari sampai pagi atau tanpa henti
Langkat, 2018

Senja di wajah ibu
Amrin Tambuse
Senja di wajah ibu
tanpa warna, tanpa rupa
hanya duka memancar
dengan senyum yang samar
senja di wajah ibu
sewarna rindu yang meluka
Langkat, 2018
KOTA PARA BURUNG
Amrin Tambuse
Kota para burung gedung-gedung menjulang suara- suara mengiang
pagi dan petang
kota para burung
persaingan melambung
dusta semakin membumbung
Langkat, 2018
PADA SEBUAH KOTA
Amrin Tambuse
Segala kebohongan menumpuk
kepala- kepala menyeruduk
mata- mata buta
kuping- kuping tuli
bibir- bibir mengoar dusta
munafik kian meraja
hilang hati nurani
inilah wajah kota kita
dari negeri antah berantah
Langkat, 2018
KABAR DARI DANAU TOBA 1
Rudolf Situmorang
Dulu,
banyak laksana termangu dalam diam
mereka kagum dengan danau birumu, sejuk hawamu, hijau pohonmu dan
hamparan pasirmu menghias di langit toba mereka ingin bersatu denganmu
yang mereka tahu, kau begitu elok
seelok Samosirmu membentang luas kau kelilingi Tanah Batak
titik Pusuk Buhit menjadi saksi bisu akan Tobamu Pangurururan, Tomok, Palipi, Nainggolan, Simanindo dan Onan runggu kau menjadi ibu dari mereka O danau Tobaku
Medan, September 2018
KABAR DARI DANAU TOBA 2
Rudolf Situmorang
Dulu, aku tak heran mendengar ikan khas mu
yah, pora-pora namanya, yang bersenda gurau bersama bocah pengumpul koin lantas aku ingin bertanya dimana kau sembunyikan pora-pora itu?
dulu, aku tak heran melihat bapak-bapak nelayan begitu bahagia ketika pulang membawa jala dan mujahirmu sedangkan ibu telah menunggu dengan resep andalimannya
begitu bahagia, O danau Toba
lantas aku ingin bertanya mengapa kini mujahirmu terapung tak bernyawa dalam hitungan ton apakah mereka bosan dalam singgasanamu?
Medan, September 2018
KABAR DARI DANAU TOBA 3
Rudolf Situmorang
Namun, sekarang lihatlah
dalam pilu sepimu kau marah begitu besar Danau Tobaku telah murka
kapal yang sedang menari dipermukaanmu kau tarik kebawah kalbu sepimu meneriakkan kabar duka pada penjuru menitikkan air mata pada penjuru hai saudara, siapa yang kau salahkan? perlahan kuingin membuka kisah dulu kisah sekelompok bajingan yang merusakmu hingga Danau Tobaku menangis
Medan, September 2018
Di bawah langit september /1/
Yulia Tasnim
Menyusuri musim-musim panjang
sebelum semuanya beranjak usang
sepasang mata menatapi gemerlap malam mampukah kau mengartikan hati yang lebam jika September telah datang sudikah kau pulang?
Di bawah langit september /2/
Yulia Tasnim
Kemudian aku menganggap September
sebagai bulan dengan duga-duga liar
ketika satu sama lain di hantam jarak
dan rindu kian berserak belum selesai aku memunguti puisi-puisi yang kalap
dan hujan telah mengirim pesan kematian
segala kenang enggan melebur
seiring airmata terus mengucur
DERU DI KOTAKU /1/
Yulia Tasnim
Inilah kotaku, kawan
segala ceracau akan menyambutmu
sebagai salam hangat bagi sebuah temu sebelum menjamu segala pernak-pernik bersiaplah kawan semoga kau tidak panik
DERU DI KOTAKU /2/
Yulia Tasnim
Di kotaku
ujaran kebencian bisa kau dengar
bahkan dari toilet sekalipun
mulut mereka banyak menelan pil-pil kemunafikan suntikan penuh siasat menggelikan inilah kotaku jangan sampai kau jadi candu
AUD, INI PUISI PERTAMAKU
Iin Prasetyo
Ini puisi pertamaku kala bulan bundar membersamai wajahmu yang menyeru
Aud, pada makin pekatnya warna malam aku mendapati namamu
puisi ini kurekonstruksi dengan butir-butir kata dari sebuah luka dan rindu
ini puisi pertamaku dalam sepotong sanubari yang baru.
piano, 2018/ @pangerandiksi_
AUD, REMBULAN YANG SELALU HADIR
Iin Prasetyo
Aud, malamku jadi asyik. Biarpun kuning tak sinari hitam yang getir
Tuhan suguhkan tentang bagaimana ikhlas menerima takdir
iya, aku ikhlas menerima takdir: kau ialah rembulan yang selalu hadir.
piano, 2018/ @pangerandiksi_

NAMAMU DALAM PUSARAN SAJAK
Iin Prasetyo
Kau tak sekadar selusin warna bianglala di sisa-sisa hujan
dan daun-daun berjatuhan, makin merapat menutup kenangan
kau ialah nama dalam pusaran sajak-sajak yang selalu kugubah
wajahmu menjelma huruf-huruf yang mengisi lembaran hampa.
piano, 2018/ @pangerandiksi_
BULAN DI WAJAHMU
Iin Prasetyo
Perlahan bulan berlayar bawa angin sepi
dan berlabuh dijunjung langit hitam
cahayanya berjatuhan sampai membias di wajahmu perlahan bulan samar-samar dan pergi malam kembali berwarna kelam tetapi bulan tak merampas cahaya di wajahmu.
piano, 2018/ @pangerandiksi_
KEMATIAN /1
Marta Juliati S
Semilir angin pagi berlalu-lalang;
menghampiri satu persatu orang-orang yang tengah terlelap di depan ruangan, dengan alas seadanya melahirkan cemas yang tak lagi tertahan
dalam kalbu, doa demi doa dilangitkan
dzikir yang tak lepas, meski mata terpejam menunggu kabar suka dari orang-orang bersnelli putih
KEMATIAN /2
Marta Juliati S
Pintu terbuka lebar, setiap tubuh terbangun memandangi orang bersnelli
putih di depannya berharap kabar suka akan menghampiri untuk menyegarkan hati dari segala reluh kesah
sampailah sebuah nama keluarga terucap " Ibu" lirihku bangkit bersama dengan yang lain berbondong-bondong memasuki ruangan dengan penuh harapan
seketika bayangan masa kecil muncul dalam benak kala Ibu memberi aku makan, mengantarku di hari pertama sekolah, menunggu kepulanganku setiap tahunnya menjelang lebaran
KEMATIAN /3
Marta Juliati S
Aku berdiri di dekat Ibu bersama yang lain menatap tubuhnya yang berbaring lemas tak berdaya dan matanya yang tak mau terbuka, meski telah berulang ku panggil, "Ibu, Aku pulang"
airmata jatuh, teriakan pecah menggetarkan setiap jiwa
ku sentuh tangan ibu, memegangnya sama seperti dulu Ia menggengamku
"Ibu, bangun. aku sudah pulang," ujarku yang masih tak ingin percaya takdir
namun tak ada balasan apapun, kecuali isak tangis dari sekelilingku
KEMATIAN /4
Marta Juliati S
Adzan subuh berkumandang,
menemani wajah-wajah sembab dan pucat menyaksikan kepulangan seorang Ibu kepada penciptaNya
dan anak-anak yang berlarian dengan airmata dipipih
aku sering mendengar kabar duka yang dibacakan di masjid,
menghadiri acara duka tersebut dan ikut berbelasungkawa namun Aku tidak pernah tahu jika rasa sakitnya akan separah ini seolah ada bagian dalam ragaku yang hilang detik itu juga
"Ibu, Aku sudah pulang dan kau pun sudah pulang" tidak akan ada lagi yang akan memarahiku sepertimu,
Menyayangiku dengan segenap jiwanya sepertimu, merindukanku setulusmu serta yang selalu mendoakan kesehatan ku kepadaNya
kini, aku hanyalah anak tidak berumah
sebab rumahku telah pergi untuk selamanya
USAI PILKADA
Domi S Hayong
Telah kau dimenangkan pilihan
dan kata-katamu menunggu dalam sunyi
untuk diubah menjadi bukan kata-kata
dan kau yang tak dimenangkan pilihan
terpaku layu diparkiran kata-kata
membedah dan tak menemukan
apa pun salah barangkali adanya, diluar kata-kata
Srigunting, Juli 2018
SEL PALSU
Domi S Hayong
Sel palsu itu bercerita
tentang hati yang bangkai
tentang mata yang rabun
tentang pendengaran yang bungkam
bahwa lama sudah
mereka bernyanyi
di bentangan waktu
semoga cerita itu
tidak mengharukanku
rasa jengkelpun tak lagi perlu
Srigunting, Juli 2018
ARUNGI WAKTU
Domi S Hayong
Kuarungi waktu
bermukim segala resah
hingga setubuh wangi pun
enggan menyapa
ruap tangis menyiksa senggukkan
derai tawa bersunyi dipojokkan
aduhai tuan pemanggul benih
semaikan di tanah ini
agar tak terus berkajang rintih
Srigunting, Juli 2018
MENCARI JIWA BANGSA
Domi S Hayong
Murid itu memandang guru barunya
lekat-lekat sedang berbicara tentang persatuan dan kesatuan bangsa
bahwa kebencian, hasutan dan fitnah
adalah alat setan untuk memecah belah
bahwa dibentuknya Negara Indonesia
oleh hadirnya jiwa persatuan dan kesatuan
tiba-tiba murid itu berdiri dan bergegas
keluar kelas dan dihadapan guru BP, dia berkata ;
“saya tidak suka kepalsuan
guru itu tetangga yang memusuhi kami
ayah-ibuku difitnahkan segala yang jahat
kebenciannya sungguh menyakiti
apakah seperti itu jiwa bangsa”
“tentu tidak!”, jawab guru BP
di kelas lain berkumandang lagu
Indonesia Pusaka
Srigunting, Juli 2018
PARA GAMES
Biolen Fernando Sinaga
Sedangkan mereka yang cacat fisik pun,
masih bersemangat untuk berlomba,
untuk meraih prestasi.
walaupun mereka harus berlari,
dia atas kursi roda,
atau merenang,
menggunakan satu tangan saja,
mereka terus berupaya,
menjadi yang terbaik.
mari kita bangkit,
dengan segala yang kita miliki,
menorehkan tinta emas dalam hidup,
dengan apapun yang bisa kita lakukan,
sebaik mungkin.
Medan, Sept 2018
POLUSI SUARA
Biolen Fernando Sinaga
Sedang ramai diperdebatkan,
perihal polusi suara, di mana seruan untuk beribadah, disampaikan dengan pengeras suara, yang melebihi sewajarnya.
aku tak hendak, memperkeruh suasana, biarlah kaum cerdik cendekia,
bermusyawarah mendapatkan solusinya.
satu yang kuharapkan,
jangan sampai ada polusi narkoba,
di negeri kita.
Medan, Sept 2018
PUISI TAK BISA DIPELAJARI
Biolen Fernando Sinaga
Puisi tak bisa dipelajari, tak perlu kau iri, membaca puisi orang lain, yang kaya akan diksi, metafora, atau mampu menghidupkan kata yang mati.
tulis saja sajakmu sendiri, walaupun dari kata-kata paling sederhana,
dia akan menemukan pembacanya,
dan tersenyum karena memahaminya.
namun jika kau bisa belajar, jadi penyair berkelas, itu keberuntunganmu,
nikmati saja itu.
Medan, Sept 2018

AKADMU #1
M. Hanafiah Lubis
Aku memilih hitam menyambut kebahagiaanmu dihatiku yang kelam aku menggelap agar tak terlihat
selamat hari bahagia aku akan coba untuk tertawa saat kau bersukaria
walau hati ini begitu pedih kurasa
AKADMU #2
M. Hanafiah Lubis
Ini malam pertamamu bercumbu rasa
menatap cinta dalam lanjutan kisah yang telah kau jalani sebelumnya
meramu indah madu-madu kasih
di balik lembaran malam dan jam yang berdetak menitik awal takdir baru bersama dengan kiriman yang diberi Tuhan pada sendi asmaramu
AKADMU #3
M. Hanafiah Lubis
Malam ini angin bertiup ganas
mengundang air rintik membasahi bumi yang panas membangkit hasrat bagi pengantimu untuk bermesra ria
mencicipi cinta berbahagialah di sana
malam ini semesta merestuimu dalam suasana indah











