Pengantin Senja

pengantin-senja
Oleh: Killian Prabawa. SENJA Marudin menerawang jauh kedepan. Kekenangan masa silam. Kala cintanya pernah kandas. Gadis pujaannya , Marissa, dinikahkan kedua orangtuanya dengan Barmen, salah seorang pengusaha muda sukses di Jakarta.

Saat itu status Marudin hanya sebagai seorang pegawai pelaksana pada salah satu bank pemerintah dibilangan kota tua Jakarta.

Tapi semua adalah karena salahnya dan tak perlu disesali. Masa lalu mana sudah berlalu dan takkan dapat terulang kembali.

Padahal sebelumnya, Marissa yang sangat mencintainya itu sudah nekad meminta Marudin untuk dibawa kawin lari. Tapi Marudin tak setuju, malah menasehatinya agar lebih bersabar.

“Mungkin maksud Papa dan Mamamu menikahkanmu dengan Barmen adalah pilihan terbaik bagi keluarga “, nasehat Marudin.

“Cinta itu ibarat emas. Sampai kapanpun kemurniannya takkan pernah lekang. Cinta, juga tidak selalu harus memiliki. Tapi yakinlah sayang, Tuhan akan memberikan mukzijat-Nya, terutama kepadamu. Sekalipun kelak diusia senja, jika Tuhan berkehendak pasti akan mempertemukan kita kembali”, kata Marudin merestui.

Marudin sangat mencintai Marissa. Hanya saja. harus bisa menahan diri guna meredam kenekadan Marissa. Bukan pula karena sok idealis dan sok pahlawan, karena baginya kebahagiaan Marissa adalah juga bahagian dari kebahagiaannya.

Namun Marissa menilai cinta Marudin telah meluntur dan penolakan. Karena jika memang Marudin memang mencintainya pasti menuruti saja kehendak Marissa yang sudah nekad dan bertekad lebih memilih Marudin ketimbang kedua orang tuanya.

Marissa juga menilai Marudin sebagai sosok, meski tampan dan baik hati, namun lemah, mudah menyerah, pasrah dan takut mengambil risiko. Membuat Marissa sangat kecewa dan terpaksa menuruti kehendak kedua orang tuanya meski diluar nuraninya.

Lalu dengan berat hati, Marissa menutup seluruh akses komunikasi dengan Marudin hingga keduanya terpisah.

Marudin sempat mendengar kabar banwa tiga tahun sejak pernikahannya dengan Barmen, Marissa langsung diboyong suaminya kembali ke Medan. Mungkin karena usaha garmen milik sang ayah yang sudah sepenuhnya diserahkan pengelolaannya kepada Barmen berkantor pusat di Medan.

Selang beberapa lama, terbetik kabar lain tak mengenakkan. Ternyata kehidupan keluarga Marissa dengan Barmen semakin lama semakin tak harmonis.

Prahara kerap mendera kehidupan keluarga mereka dan setiap terjadi percekcokan parah selalu menyeret-nyeret nama Marudin.

Barmen, seperti yang diketahui Marudin, kebetulan mereka satu alumnus, memang merupakan tipikal lelaki pencemburu dan sombong.

Hingga membuat Marudin merasa sangat berdosa dan menyesali keputusannya tidak menuruti kehendak Marissa untuk kawin lari. Semula Marudin beranggapan bahwa cinta Marissa dan Barmen bisa dibina dan semakin harmonis setelah berkeluarga.

Karena sering kali merasa tertekan, terutama bathinnya, meski mendapat penolakan dari sang suami, Marissa memaksakan diri bekerja sebagai karyawati pada sebuah bank swasta di Belawan.

Kini setelah tiga puluh tahun berlalu, keduanya dapat bersua kembali. Meski sudah pensiun dari banknya Marudin memiliki kegiatan dibidang jurnalistik yang nota bene merupakan hobinya.

Meski berusia jelang senja namun Marudin masih saja tampak enerjik, tampan dan simpatik. Ciri khas kumis tipis dan senyum sumringah berlesung pipitnya itu seolah tak pernah berubah, masih seperti yang dulu.

Marissa, juga tak kalah bersaing. Masih sehat , tampak cantik, manis dan keibuan.

Keduanya memiliki banyak persamaan. Masing-masing memiliki dua orang putra. Sama-sama telah menduda dan menjanda selama lebih sepuluh tahun dan bertekad tak akan pernah mau menikah lagi.

Pasangan keduanya sama-sama meninggal dunia akibat kecelakaan maut. Istri Marudin, seorang pengusaha sukses di bidang usaha ekspor-impor meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat terbang di Eropa.

Istri Marudin pernah terlibat skandal asmara dengan seorang oknum pejabat pemerintah daerah dimana keduanya meninggal dunia dalam pesawat nahas yang sama.

Sementara Barmen, suami Marissa, juga meninggal dunia dalam kecelakaan maut, di jalan lintas timur Sumatera jelang Rantau Prapat.

Mobil sedan mewah yang ditumpangi dan disetirnya sendiri itu, bersamanya terdapat seorang wanita muda jelita, sekretaris barunya, hancur dihantam bus malam dan keduanya langsung meninggal di tempat kejadian.

Pertemuan kembali Marudin dan Marissa adalah pada saat berlangsung acara pernikahan putri sulung Azizah, sahabat karib Marissa semasa dibangku SMA dibilangan Jatinegara Jakarta Timur.

Azizah sempat berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain tak seprovinsi. Mengikut mutasi dinas sang suami hingga pulang kampung dan pensiun di Medan atas permintaan sang suami.

Kebetulan Syahruddin, suami Azizah, adalah sahabat dan rekan sepermainan tenis ketika di Jayapura dimana keduanya ditempatkan masing-masing institusinya selama beberapa tahun di ibu kota Papua itu.

Marudin juga minta pensiun di Medan saja ketika mengetahui dirinya akan dikembalikan ke kantor pusat Jakarta. Kini kedua sahabat karib itu sudah sama-sama berstatus purnabhakti.

Terperangah dan terenyah jiwa Marissa. Dia masih ingat betul, apakah ini yang dulu pernah dikatakan Marudin sebagai mukjizat Tuhan itu ?. Meski sudah berusia jelang senja, begitu dikenalkan dan bertatap muka, rasa getar dihati sanubari beraneka rasa seolah tak kuasa dibendung dan dibohongi.

Bak di sinetron televisi saja : “CLBK “ (Cinta Lama Bersemi Kembali). Menjadi lupa segalanya, termasuk usia mereka yang sudah menginjak senja. Namun entah mengapa, gelora cinta mereka seolah tak terbendung dan tak dibuat-buat, memang begitu adanya, seperti dulu !.

Ternyata bukan hanya suami-istri Syahruddin dan Azizah sahabat karib mereka yang turut bahagia dan memberi support.

Terutama kedua putra mereka, dua dari Marudin, Ruben dan Rona serta dua dari Marissa, Sahat dan Sudung sangat mengapresiasi, moderat dan mendukung sepenuhnya apapun kelak keputusan Papa dan Mama mereka.

Padahal keempat putra mereka yang sudah dewasa dan hampir berusia sebaya serta masing-masing telah memiliki “teman khusus” dan pekerjaan tetap serta mapan itu, sebelumnya, sama sekali tak pernah mengetahui kalau kedua orang tua mereka ternyata mantan kekasih.

Waktu cepat berlalu. Pernikahan pengantin jelang senja itu, mulai dari persiapan, pertengahan hingga ke acara puncak pemberkatan nikah boleh dikatakan sebagai berlangsung lancar, penuh keakraban dan kebahagiaan.

Kendati sempat terjadi insiden kecil diawal acara kebaktian. Membuat Marudin dan Marissa sempat terkejut dan merasa kecut. Karena seorang lelaki paruh baya berperawakan sedang dan mengenakan jas melakukan aksi protes.

Suara logat khas Bataknya sempat memecah keheningan dan kekhusukan acara ibadah kebaktian pernikahan.

Namun dapat cepat diatasi, terutama berkat ketangkasan dan kepiawaian keempat putra mereka yang selain tampan juga rerata berbadan kekar dan rerata berbekal ilmu bela diri itu.

Setelah diselidiki ternyata provokatomya adalah Meriance, seorang wanita cantik usia empatpuluhan yang adalah adik kandung mendiang Lestiani, istri Marudin.

Sedangkan lelaki si pemerotes adalah suruhan Meriance. Rupanya Meriance yang telah cukup lama menjanda dan selama ini secara diam-diam telah menaruh hati kepada abang iparnya, namun Marudin sendiri tak pernah mengetahuinya, juga Meriance tak pernah mengungkapkannya.

Sehingga Meriance cemburu berat dan sakit hati sebab cintanya tak kesampaian membuat Meriance nekad dan sempat berorasi di altar gereja.

Mengisahkan dan memuntahkan seluruh unek-unek dan rasa kecewanya karena cintanya tak kesampaian.

Namun sekaligus juga menyatakan penyesalan dan permohonan maafhya kepada seluruh jemaat yang hadir karena telah mengganggu kekhusukan ibadah di sore jelang senja itu.

Hingga acara kebaktian kembali normal. Pasca pemberkatan dan acara tukar cincin, cincin yang ternyata pernah mereka beli bersama-sama dan selama ini mereka simpan masing-masing secara penuh rahasia.

Hingga pembawa acara meminta kedua sejoli berkenaan untuk melantunkan sebuah lagu di altar gereja :

“Tak ku tau kan hari esok, namun langkah ku tegap. Bukan surya kuharapkan, kama surya kan lenyap. O tiada ku gelisah, akan masa menjelang. Ku berjalan serta Yesus, maka hatiku tenang. Banyak hal tak kupahami, dalam masa menjelang. Tapi t’rang bagiku ini, tangan Tuhan ku pegang”.

Sebagaimana permintaan Marudin dan Marissa, mengingat keduanya sudah berusia jelang senja, acara adat ditiadakan dan diganti dengan acara syukuran pada sebuah aula hotel.

Seluruh acara “Pernikahan Jelang Senja”-pun berlangsung sangat meriah. Sesuai skenario, acara didominasi berbagai hiburan dengan mayoritas lagu lagu nostalgia mempesona, Batak maupun non Batak.

Sebagai acara terakhir, atas permintaan khusus kedua putranya dan sangat disetujui oleh Marissa itu, karena dulu, dirinya juga kerap mendengarkan kedua lagu itu untuk dapat dilantunkan Marudin, berjudul: ” Senja di Wajahmu Ayu” dan “Tarsingot Do Au Disude” (= teringat daku akan semuanya).

Suara “ngebas” bak suara Koes Hendratmo berikut penampilan bersama gitar “ Made in Sipoholon “-nya itu ternyata sungguh luar biasa dan memuaskan seluruh hadirin.

Suasana seperti kembali ke “tempo doeloe”. Berlangsung sangat meriah, penuh kekeluargaan, kebersamaan dan keakraban.

Marudin dan Marissa tidak akan lupa hingga kakek-nenek kelak bahwa sutradara dan penyandang dana seluruh acara : “Pernikahan Jelang Senja” keduanya yang berlangsung sukses luar biasa itu tak lain adalah keempat putra mereka sendiri.

Keempat putra mereka sudah bertekad dan sepakat untuk dan harus mendahulukan pernikahan Papa dan Mamanya, baru mereka menyusul kemudian. ***

()

Baca Juga

Rekomendasi