Oleh: Fahrin Malau
DATA dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut menunjukkan nilai ekspor Sumut pada 2018 turun 4,77 persen dari 2017 atau menjadi 8,784 miliar dolar AS. Penurunan nilai ekspor itu akibat turunnya harga jual komoditas khususnya lemak, minyak hewan/nabati dan karet.
Meski nilai ekspornya menurun, tapi volumenya justru meningkat. Volume ekspor Sumut pada 2018 menjadi 9.645.281 ton, tahun sebelumnya 8.981.772 ton. Peningkatan volume ekspor itu diakui General Manajer (GM) Belawan Internasional Containar Terminal (BICT), Aris Zulkarnain.
Peningkatan volume ekspor melalui BICT itu tidak terlepas dari digitalisasi pelabuhan dengan penerapan pelayanan receiving/delivery online di terminal peti kemas BICT, Gabion Belawan. Pasalnya, sejak sistem pelayanan online diterapkan tahun lalu di BICT, kinerja bongkar muat, arus kunjungan kapal, serta produktivitas bongkar muat dan turn round time (TRT) di terminal peti kemas terkemuka di luar Pulau Jawa itu mengalami meningkat signifikan.
Aris menjelaskan, triwulan pertama 2018 aktivitas bongkar muat barang ekspor-impor di BICT meningkat signifikan, mencapai 1.915.615 ton, sementara periode serupa 2017 jumlahnya 1.787.158 (naik sekitar 7,18 persen). Meningkatnya aktivitas bongkar muat itu diikuti oleh kunjungan kapal di terminal peti kemas BICT.
Selama triwulan I 2018, jumlah kapal yang melakukan aktivitas ekspor-impor di BICT tercatat 139 call (naik sekitar 5,30%) dibanding periode serupa 2017 yang berjumlah 132 call. Pelindo 1 BICT berusaha memberi pelayanan prima kepada pengguna jasa dengan menerapkan receiving/ delivery online guna kemudahan melakukan permohonan dokumen pelayanan, tanpa harus datang ke Kantor BICT seperti sebelumnya.
Untuk meminta pelayanan dokumen ekspor dan impor, mencetak invoice receiving card dan surat pengeluaran peti kemas, pengguna jasa cukup mengakses website Pelindo 1 tanpa harus melampirkan dokumen apa pun. Sebab data booking dan DO telah dikirim secara online oleh pelayaran atau container operator serta dokumen Surat Perintah Pengeluaran Barang (SPPB) yang diterima secara online dari tempat penimbunan sementara (TPS) online Bea Cukai.
Saat ini, kata Aris, terminal peti kemas BICT dilengkapi alat bongkar muat berupa 6 unit container crane, 11 unit transtainer, 3 unit reach stacker, satu unit side loader, 20 unit head truck, dan 20 unit terminal traktor dan chasis-nya.
Pertumbuhan
Kemampuan BICT meningkatkan kinerja ekspor-impor akan mendukung pertumbuhan ekonomi, khususnya di Sumut. “Saya melihat kinerja yang dilakukan BICT sudah cukup memuaskan,” ungkap Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Impor (GPEI) Sumut, Hendrik H Sitompul.
Walau pencapaian kinerja cukup mengembirakan, bukan berarti sudah menjawab persoalan ekspor-impor di Sumut. Potensi ekspor-impor di Sumut cukup menjanjikan, ini terlihat dari volume ekspor-impor yang terus meningkat. Bila BICT tidak tanggap, bukan tidak mungkin akan mengalami kendala melayani pengiriman ekspor-impor yang terus meningkat.
Menurut Hendrik, BICT harus dapat meningkatkan kinerja operasional secara optimal, meski sekarang sudah baik. Tantangan ke depan semakin berat. Upaya lain yang harus dilakukan, dengan mempermudah prosedur ekspo- impor dengan sistem online.
Ini sudah dilakukan BICT. Tapi untuk menjawab tantangan ke depan, mau tidak mau harus mengikuti perkembangan teknologi agar tidak ketinggalan. Melakukan improvement di terminal dan membuka peluang kapal yang akan masuk dan keluar BICT.
“BICT sebaiknya memakai teori KAIZEN,” kata Hendrik. BICT harus melakukan continous improvement. Memperbaiki performance dan menjaga produktivitas, sehingga kapal-kapal dapat dengan cepat melakukan bongkar muat dan jumlah kunjungan kapal lebih meningkat dengan throughput yang lebih besar.
Keberhasilan BICT dalam meningkatkan produksi harus lebih ditingkatkan. Produksi BICT pada 2019 diharapkan dapat meningkat 9 persen dibanding 2018 lalu. Selain itu, BICT harus memangkas SOP yang terlalu panjang dan meningkatkan pemanfaatan IT. Paling penting adalah melakukan transformasi di bidang sumber daya manusia (SDM), dengan meningkatkan kompetensi dan kapabilitasnya. “Ini sangat penting,” tegas Hendrik.
SDM menjadi penentu dalam mencapai keberhasilan. Alat yang canggih bila tidak didukung SDM berkompetensi dan kapabilitas, hasilnya kurang memuaskan. Fasilitas adalah alat dan manusia yang menggerakan. Jadi semua terpulang pada SDM. “Saya berharap harus lebih ditingkatkan,” katanya.











