Oleh: Fadmin P Malau
SETIAP Tahun Baru Imlek masyarakat Tionghoa percaya bahwa mereka dapat melihat peruntungan pada masa mendatang melalui simbol shio dan keterkaitannya dengan tahun lahir.
Tahun 2019 disebut sebagai tahun Babi Tanah yang dimulai pada 5 Februari 2019.
Merayakan Imlek sejatinya merayakan kebinekaan dalam kedamaian dan kebaikan sebagai tujuan interaksi antar-manusia. Imlek melintasi batas-batas etnis dan agama karena telah menjadi bagian dari interaksi antar-budaya.
Menurut sejarah, tradisi Imlek merupakan perayaan musim semi yang telah berusia lebih dari 3.800 tahun yakni dimulai pada masa pemerintahan Dinasti Shang. Sejak zaman pemerintahan Kaisar Wudi dari masa Dinasti Han (202 SM-220 M), penetapan tahun baru Imlek mulai mengikuti kalender China, berlanjut hingga kini.
Imlek pada masa awalnya bersandar pada kultur agraris (pertanian) dan seiring waktu menjadi ritual budaya dirayakan komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Penanggalan Imlek berdasarkan pada perputaran bulan dan orang Tionghoa menyambut tahun baru selama kurun waktu dua pekan dengan diawali perayaan Imlek dan diakhiri pada hari ke-15 dikenal sebagai perayaan cap go meh.
Dalam perayaan Imlek hadir Lampion. Tidak semua mengetahui lampion yang dipasang entnis Tionghoa sebagai satu budaya.
Kehadiran Lampion menyambut Imlek dipercaya dapat mengusir roh jahat di permukaan bumi ini dan sudah menjadi mitos sejak nenak moyang etnis Tionghoa sampai kepada generasi sekarang. Lampion pada perayaan Imlek ciri khas budaya Tionghoa dalam mewujudkan seni mengekspresikan kegembiraan.
Lampion pernak-pernik berwarna merah digantung di kelenteng, rumah dan di jalan-jalan. Bagi etnis Tionghoa, lampion bukan hanya lampu sebagai penerangan akan tetapi seni dan budaya. Pada era Orde Baru, pemerintah Soeharto melarang melakukan perayaan Imlek dan berbagai budaya Tionghoa maka lampion tidak muncul.
Namun, kini pemerintah era reformasi mengubah regulasi itu dengan keluarkannya Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 1999 dan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 tentang Pencabutan Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat China. Dengan Inpres itu, penyelenggaraan budaya Tionghoa sudah diizinkan dan dinilai satu aset budaya bangsa yang secara yuridis dijamin dan dilindungi keberadaannya. Perayaan Imlek juga dinyatakan pemerintah sebagai hari libur nasional.
Perjalanan Budaya di Indonesia
Imlek artinya Im adalah bulan dan Lek adalah penanggalan, jadi Imlek adalah bulan penanggalan atau kalender atau penanggalan yang dimulai dari tanggal 15 bulan ke-1 dalam kalender China. Namun, perayaan Imlek itu sendiri berlangsung dari tanggal 15 bulan ke-12 hingga tanggal 15 pada bulan ke-1. Perayaan Imlek bisa berlangsung selama satu bulan. Mengapa? Jawabnya karena Tahun Baru Imlek merupakan penyambutan musim semi dahulunya bagi para masyarakat petani di China.
Para petani di China melakukan kegiatan peribadatan seperti sembahyang kepada Sang Pencipta atau leluhur sebagai wujud rasa syukur karena telah diberi rejeki oleh sang Pencipta. Rejeki yang diperoleh selama satu tahun itu bukan semata-mata karena kerja keras akan tetapi adanya pemberian Sang Pencipta kepada manusia.
Wajar bersyukur agar tahun mendatang diberi rejeki yang lebih banyak dan baik lagi. Perayaan Tahun Baru Imlek bagi para petani di China berakhir ditandai malam ke-15 bulan ke-1 dengan Bulan Purnama (bulan penuh) atau disebut Cap Go Meh.
Pada saat malam ke-15 bulan ke-1 dalam penanggalan kalender China para petani di China memasang Lampion di sawah atau di ladang karena akan dimulai kembali musim tanam.
Pemasangan lampu Lampion agar terang pada lokasi sawah atau perladangan mendatangkan keindahan dan mengusir hama serta menakut-nakuti hewan perusak tanaman. Hal ini penting karena akan dimulai kembali bercocoktanam. Tanaman yang subur, terhindar dari hama dan penyakit tanaman, pintu masuk untuk menghasilkan produksi tanaman yang baik dan maksimal produksinya.
Perlakuan memasang lampu Lampion sebagai wujud pertanian akan berhasil dan bila pertanian berhasil maka perekonomian masyarakat petani meningkat. Perekonomian meningkat maka kesejahteraan diambang pintu. Harapan sangat penting dalam hidup manusia karena dengan harapan manusia akan bekerja dengan sungguh-sungguh, pantang menyerah.
Namun, harapan ingin sukses, maju harus juga diantisipasi bila cita-cita tidak bisa diwujudkan maka kemungkinan buruk yang datang harus diwaspadai. Sediakan payung sebelum hujan datang. Dalam prinsip ekonomi, kegagalan merupakan resiko dari kerja keras dan kegagalan itu harus diantisipasi hingga tidak mendatangkan kerugian besar.
Prinsip ini terlihat dari adanya kue keranjang (Nian Gao) atau kue bakul yang terbuat dari tepung ketan dan gula dengan memiliki tekstur kenyal dan lengket. Kue ini merupakan persediaan ketika kegagalan yang diperoleh.
Kegagalan boleh saja datang akan tetapi harus disiapkan solusi dari kegagalan itu yakni jangan sampai kelaparan. Bahaya kelaparan satu tanda dari kegagalan perekonomian. Tersedianya bahan pangan yang cukup tanda kemakmuran masih berpihak.
Kehidupan para petani di China waktu itu sangat berharap keberhasilan itu harus terus diraih setiap tahun. Mengantisipasi terjadinya kelaparan yang disebabkan banyak faktor seperti banjir, tanah longsor, kemarau panjang yang membuat gagal panen harus memiliki solusi yang tepat. Kue Bakul merupakan antisipasi pangan bagi para petani di China waktu itu. Kue bakul dapat menjadi solusi sebab kue itu rasanya enak dan tahan lama. Begitu hebatnya antisipasi yang dilakukan, memikirkan paling terburuk datang merupakan antisipasi paling baik.
Perayaan Tahun Baru Imlek diilhami dari budaya meningkatkan perekonomian para petani di China waktu itu. Prinsip agribisnis ini berlandaskan kepercayaan kepada Sang Pencipta yang memberikan rejeki. Artinya kerja keras, bercocoktanam sebagai kegiatan bisnis harus direstui atau ditentukan oleh Sang Pencipta dan manusia (para petani) harus berusaha secara maksimal.
Keberhasilan yang diraih dalam bercocoktanam, dalam menjalankan perekonomian pertanian harus disyukuri sebagai kerja keras dan turut sertanya Sang Pencipta. Para petani di China dalam perayaan Tahun Baru Imlek bersyukur kepada Sang Pencipta sebab hasil pertanian tahun ini baik dan berdoa agar tahun mendatang, Sang Pencipta memberikan hasil pertanian yang lebih banyak dan lebih baik lagi.
Makna perayaan Imlek menjadi satu manifestasi dari keuletan, kegigihan, kerja keras yang didasari dengan memohon bantuan Sang Pencipta agar diberikan hasil produksi pertanian yang maksimal. Hari ini begitu banyak Lampion di jalan-jalan, di pusat perbelanjaan, hotel-hotel berbintang dan lainnya yang berawal dari kebudayaan Tionghoa.
Apa yang ada hari ini dengan Lampion sesungguhnya juga ada dalam kearifan budaya lokal di Indonesia, berbicara tentang rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hampir semua daerah di Indonesia memiliki kearifan budaya lokal tentang prinsip-prinsip dalam bercocoktanam.
Kearifan budaya lokal di Indonesia mengajarkan kepada para petani untuk berdoa sebelum bercocoktanam dan juga ketika selesai bertanam. Kearifan budaya lokal tentang orang-orangan yang ada di pematang sawah untuk mengusir burung-burung pemakan bulir-bulir pada sama saja dengan awalnya Lampion. Namun, orang-orangan yang ada di persawahan itu sebagai budaya yang hidup di daerah, tidak berkembang gegap gempita seperti Lampion hari ini.
Begitu juga berbagai upacara ritual para petani sebelum turun ke sawah untuk bercocoktanam diberbagai daerah di Indonesia yang tumbuh sebagai kearifan budaya lokal yakni berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tanaman itu dapat tumbuh dan berkembang sebab tanaman adalah makhluk hidup yang ketentuan hidupnya ada pada Sang Pencipta sudah ada sejak era nenek moyang Bangsa Indonesia. Lampion dalam perayaan Imlek bermakna keuletan, kegigihan, kerja keras yang didasari dengan memohon bantuan Sang Pencipta agar diberikan hasil produksi pertanian yang maksimal.
Hal ini juga sama dengan berbagai ritual kearifan budaya lokal yang ada pada seluruh daerah di Indonesia yang kini semakin dilupakan. Mengapa? Pada hal kearifan budaya lokal itu mampu meningkatkan perekonomian masyarakat petani Indonesia. Bukankah kini Pemerintah Indonesia ingin mewujudkan swasembada pangan. Seharusnya kearifan budaya lokal dikembangkan.
Selamat Imlek. Gong Xi Fa Chai 2570. ***
Penulis Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Medan, mantan Sekretaris Majelis Kebudayaan PW. Muhammadiyah Sumut dan Ketua Yayasan Badan Warisan Soematra.











